Kitab Berbohong #1

Seekor burung melayang rendah melewati sebuah rumah di Blok C bernomor 17. Tanaman pagar berdiri kokoh melindungi halaman rumah itu dari serbuan debu jalanan, selebihnya tidak ada tanaman lain yang ditanam di tanah pekarangannya. Hanya lima buah pot tanaman anggrek yang tergantung rapi. Satu jemuran praktis yang sudah terlipat teronggok di samping rumah, dengan beberapa kain bekas. Pintu depannya terbuka penuh, memperlihatkan seorang anak lelaki berusia lima tahun yang sedang asyik bermain di tengah serakan mainannya yang berlainan jenis.

“Dede…, mandi yuk. Sebentar lagi bapak pulang,” terdengar suara sang ibu. Anak lelaki itu menoleh ke arah belakang. Matanya yang bening seolah mencoba memaknai ucapan ibunya barusan. Tak lama ia kembali me-ngeeeng-kan mobil ambulansnya menabraki mainan lainnya.

Sang ibu mendesah. Setelah melipat pakaian terakhir, ia meletakkan setrika yang masih panas itu dengan posisi berdiri. Lalu beranjak berdiri sambil mengelap dahinya yang telah basah berkeringat. “Dede…,” ujarnya lembut di ruang tamu. “Dengar gak kata ibu,” lanjutnya memunguti mainan anaknya yang berserakan.

Anak lelaki itu menatap ibunya, lalu secepat kilat menyambar mobil lainnya yang juga sudah tidak utuh lagi dan berlari ke teras depan. “Ngeeeng,” lanjutnya menggerakkan kedua tangannya yang masing-masing memegang mobil mainan. Refleks, anak lelaki itu tersenyum. Memperlihatkan gigi-giginya yang belum sempurna tumbuh. “Bapak!” teriaknya senang, lalu berlari menyongsong kedatangan bapaknya yang baru pulang kerja. Sang ibu menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil terus memasuki mainan anaknya ke dalam plastik.

Sang bapak begitu pula senangnya, segera menyambut dan mengangkat anak lelakinya itu tinggi-tinggi. Lalu berputar-putar hingga beberapa kali. Sang ibu begitu senang melihat keluarganya seperti itu. Tak lama, anak itu telah digendong oleh bapaknya dan dibawa masuk.

Sang ibu menyambut tangan suaminya dan menciumnya santun. Sang bapak juga tak kalah sayangnya dengan mengecup dahi istrinya. Matahari semakin condong ke barat ketika pintu rumah itu tertutup dengan rapat.

“Pak, kuda-kudaan!” teriak anak lelakinya memberontak. “Ayo!” seru sang ayah senang. Ia pun segera menurunkan anak lelakinya dan mengambil posisi kuda. Anak lelaki itu begitu senang dan langsung melompat ke punggung bapaknya. “Ayo, jalan!” teriaknya keras.

“Sudah dong, De,” seru sang ibu tak tega melihat suaminya. “Kasihan Bapak baru pulang kerja. Badannya capek.”

“Sudah, sudah…,” seru sang bapak yang sudah ngos-ngosan. Ia berhenti. “Dede turun ya, kudanya sudah capek nih.” Sang bapak mencoba mengatur nafasnya yang pendek-pendek. “Dede sudah mandi belum?” Anak lelaki itu menggeleng. “Kalau begitu….”

“Assalamu’alaikum…,” seru sebuah suara dari arah luar rumah.

Sang bapak terdiam dan menoleh ke arah luar, melalui jendela kaca rumahnya yang bergordin. Lalu ia menatap anak lelakinya erat-erat. “De, kalau orang itu nanyain Bapak, bilang aja nggak ada, ya?” bisiknya perlahan. Anak lelaki itu mengangguk. Tak lama sang bapak segera memasuki kamarnya dan menutup pintunya rapat-rapat. Anak lelaki itu bergerak dan membukakan pintu depan. Memperhatikan sesaat ke arah orang yang tengah berdiri di balik pintu pagar.

“Assalamu’alaikum adek manis,” sahut orang itu ramah. “Bapak ada?” Anak lelaki itu mencoba mengingat-ingat ucapan sang bapak. “Bapak ada?” ulang orang itu. Dengan tangan di belakang, anak lelaki itu menatapnya, ”Kata Bapak, Bapak nggak ada.”

Orang itu mendesah. Tak lama kemudian ia mencoba tersenyum. “Anak pintar,” bisiknya perlahan. “Ya sudah, adek manis. Tolong bilang ke bapak kalau Pak Hasan ke sini ya?”

Anak lelaki itu mengangguk dan menatap kepergian orang itu.[]

Advertisements

15 thoughts on “Kitab Berbohong #1

  1. ” Kata Bapak, Bapak nggak ada ” hehehe…saya setuju kalau menyebut si Dede ini anak pintar, yang tidak pintar adalah Bapaknya, menanamkan kebohongan pada usia dini yang sedang peka-pekanya merekam segala sesuatu di sekitarnya.

  2. >> abi sabila : Begitulah. Saya melihat budaya saat ini makin tidak kondusif saja untuk pendidikan anak2. Bahkan, dari lingkungan keluarga sendiri. *Miris*

  3. kertas putih itu telah ternoda satu titik noda, semoga noda itu tidak semakin menumpuk, sampe akhirnya kertas putih itu tidak putih lagi , kotor, hitam !

  4. >> jasmine : Amiiiiin, inilah pentingnya pengingatan meski hanya dari cerita yang sederhana ini …
    >> lidya : Yups, sangat mendukung hal ituh!
    >> Dina : Ih, ngeri banget! Semoga tidak lah …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s