Kitab Berbohong #2

Malam telah turun. Bintang gemintang mulai bermunculan satu persatu mengerlipkan cahayanya, sementara bulan sudah maujud sejak sore tadi. Cahaya bulan telah penuh menyinari permukaan bumi, namun terasa kurang bagi manusia hingga menambahkan cahaya lampu di tiap-tiap rumah dan beberapa jalan.

Riki, anak lelaki berusia delapan tahun merasa cemas. Rumah orangtuanya yang berlokasi di Blok F dan bernomor 13 terasa lengang. Kedua orangtuanya sedang pergi. Riki cemas karena sebuah guci kesayangan ibunya telah pecah. Tanpa ia sadari, Riki telah menyenggol guci itu ketika asyik bermain kapal-kapalan yang terbuat dari kertas. Serpihan-serpihan keramik dari yang besar hingga yang kecil telah berserakan di berbagai tempat. Riki tersedu. Apalagi jika mengingat kemarahan ibunya yang sangat ringan mulut dan ringan tangan itu. Sakit sekali.

Ia merasa bingung dan ketakutan. Tidak tahu harus bagaimana. Sekali-kali pandangannya diarahkan ke luar rumah, khawatir jika orang tuanya datang. Dan memarahinya. Takberapa lama, Riki memutuskan untuk keluar rumah. Lebih baik ia bermain bersama Koko, sahabat dekatnya yang juga adalah tetangga sebelah rumah.

“Koko! Koko!” teriaknya memanggil. Tak lama Koko keluar, wajahnya tersenyum senang. “Lagi main apa, Ko?” tanya Riki.

“Beybled.”

“Saya boleh ikut main, gak?”

Koko mengangguk, “Ayo masuk.” Riki masuk dan mulai bermain bersama Koko. Sebuah permainan yang mengasyikkan hingga melenakan Riki akan guci ibunya yang pecah. Dan waktu pun seolah-olah bergerak dengan sangat cepatnya. Hingga….

“Riki…!” teriak sebuah suara. Riki terdiam. Ia mencoba mempertajam pendengarannya. “Riki…!” lanjut sebuah suara yang memang tidak terasa asing baginya itu. Riki terdiam, kembali ia teringat akan guci ibunya. Ia memandang Koko yang terus asyik bermain. “Ko, pulang dulu ya,” ujarnya berat.

Langkah-langkah berat itu seakan-akan bergema di telinganya.

“Apa ini!?” tunjuk ibunya pada gucinya yang telah berantakan. Wajah Riki telah pucat. Ia pun menggeleng. “Jangan bohong! Kamu yang mecahin, kan!”

“Nggak, Bu. Riki tadi main sama Koko.”

“Ibu nggak percaya!” sahutnya keras. Dan sekali lagi, jika ia marah, tangannya begitu ringan untuk menjewer telinga Riki.[]

Advertisements

19 thoughts on “Kitab Berbohong #2

  1. Anak akan berbohong karena dia tidak nyaman dan takut kalau bicara benar. Saya punya pengalaman dengan keponakan, dia malah bisa bicara terus terang kepada saya dibanding kepada ayahnya karena takut. Sebaiknya orang tua dapat menahan diri waktu melihat anaknya membuat kesalahan. Harga sebuah guci tidak dapat dibandingkan dengan ketulusan seorang anak saat mengakui kesalahannya.

  2. kasihan ya riki…dia pasti di jewer dan di pukul, padahal kesalahannya kecil hanya tak sengaja memecahkan guci.
    salam kenal… 🙂

  3. ihh tuh kan kejam lagi 😦
    padahal ga boleh gitu kan kalo ngedidik anak. harus penuh kelembutan. dengerin dulu kek penjelasan anaknya sebelum ngasih hukuman *sewot sendiri*

  4. aduhhh..seharusnya ditanya dng baik2 dulu..karena anak2 memang kalau kita bentak2, semakin takut mereka tidak akan berani berterus terang..boleh marah, tetapi tidak perlu bersikap kasar..jadilah sahabat bagi anak kita sendiri, sehingga mereka tidak akan takut utk berterus terang 🙂 nice story, bang..

  5. indah rasa, 1 dari 5 ibu di indonesia melakukan hal yang sama dengan apa yang ibunda Riki lakukan… disadari atau tidak….diakui atau tidak..memang kenyataannya di lapangan yaaa seperti itulah…

    selama ini entah karena pengetahuan ibu tentang mendidik anak yang kurang …entah karena sifat yang membudaya..atau karena memang naluri… kebanyakan ibu menerapkan sistem…”anak salah…ya disalahkan..”

    tanpa mereka tahu bahwa sebaiknya..”anak salah….ya dikasig tahu yang benar…biar ga salah lagi.. ”

    heem,,,,hehehe,
    *comment ini ditulis dengan penuh kesotoy an. :mrgreen:

  6. >> Indah : Tapi komentar ini memang sotoy! Sotoy yang yahud tentunya dan berkuah bergizi bermartabat berbudaya mantep surantep lah ^_^

  7. Waaahhh, gw mah alhamdulillah walopun kesel sama anak tapi kayanay untuk mukul ga deh ah.

    Kasian yah Bang anak kaya Riki (dan di dunia ini pasti jutaan anak mengalami perlakuan seperti itu). Gw yakin perkembangan emosi dan psikologis anak menjadi ga bagus kalo bentar2 dimarahin ato dipukul sama orang taunya 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s