Sang Wajah Pelangi

Prolog: Cerita ini terdiri dari tiga bagian terpisah. Bagian pertama telah ditulis oleh Husfani A. Putri dan kemudian dilanjutkan oleh Marsita Ariani. Dan cerita di bawah ini adalah penyempurna dari dua cerita sebelumnya. Selamat menikmati….

Rembulan pernah berbisik pada angin
Mengabarkan pada takterhingga gemintang
Menyapa matahari dengan wajah kelam
Tentang pelangi yang kehilangan warna
Dan akulah sang pelangi itu ….

Sunyi. Hanya kesunyian pada akhirnya. Dan di sudut malam itu aku menangis. Menangis yang sebenarnya. Lalu, ingin kukabarkan semua penyesalan pada jagad takbertepi ini. Bersama kemarahan tersembunyi. Hanya aku. Ya, hanya aku seorang. Benar-benar sunyi.

Aku Ali. Pemuda tanggung bernyali. Bumbu-bumbu hitam kehidupan telah banyak kulalui. Persimpangan hidup yang selalu salah kuambil berkali-kali. Dan sakit yang kurasakan sudah takterperi. Namun aku masih tetapi di sini. Berdiri. Kehidupan hitamku pun berkelebat laksana cahaya, hingga aku dipertemukan dengan dia.

“Lu tinggal di sini?” tanyaku pada bocah berwajah kuyup takpercaya. “Ya, Bang. Saya tinggal di sini,” Bocah itu sedikit menyeringai, tapi dipaksakan tersenyum. Dan di hadapan kami, berdiri kokoh rumah besar yang sebagiannya sudah berdinding lumut. Ada hati yang tersayat saat membaca plangnya. Rumah Yatim Piatu Anugerah. Gemuruh yang membuatku teringat kenangan indah saat seusia bocah itu.

“Ayo, Bang. Masuk dulu, masih hujan, nih.” Bocah itu mencoba berjalan. “Eh, tunggu dulu. Lu pasti belum kuat.” Aku pun langsung menggendong bocah itu. Dia kutolong saat melihatnya kecelakaan di jalan besar. Korban tabrak lari. Aku hanya taktega. Kakinya terluka. Entah separah apa, tapi wajahnya sudah menyiratkan adanya luka dalam.

“Hasan! Kamu kenapa?!” Seorang wanita parobaya menghambur ke teras memegangi sang bocah. “Kecelakaan, Bu. Tabrak lari,” jawabku sekenanya dan langsung meletakkan Hasan di atas bangku panjang. Kawan-kawan sebayanya pun langsung mengerumuni Hasan. Memegang-megang dan bertanya-tanya. Namun Hasan bocah yang tangguh. Ia pun memaksa tersenyum. “Saya tidak apa-apa. Abang ini telah menolong saya.” Hasan pun melirik pada kawan-kawanya, “Maaf ya, sore ini saya nggak bisa mengajari kalian matematika.”

Aku terpana. Tiba-tiba saja aku teringat pada Teh Sofi. Tiba-tiba saja aku teringat pada cita-citaku tujuh tahun yang lalu. Teringat pada semua aktivitas yang membuatku sangat betah tinggal di panti. Akan tetapi, waktu telah mengubahku. Dan saat itu … “Maaf, gue harus pamit. Tugas gue udah selesai. Hasan, semoga lu cepat sembuh.” Aku pun langsung bergegas keluar. Sungkan dan malu jika mereka melihat mataku menganak sungai.

Aku menangis. Pada saat itulah aku benar-benar menyesali perbuatan negatif yang pernah kulakukan. Bu Surti yang seharusnya menikmati masa-masa istirahatnya setelah puluhan tahun mengasuh kami. Teh Sofi yang mungkin akan menutup muka melihat keadaanku saat ini. Kak Vita yang begitu penyabar dan mau menjadi tamengku selama ini. Namun apa balasanku pada mereka? Aku terlalu kosong.

Entah sudah berapa lama aku melamun. Berjalan. Naik-turun kendaraan. Menyeberang jalan. Melewati sumpah serapah orang-orang yang taktahan tinggal di kota besar. Mengangkangi sampah-sampah. Dan kini aku berdiri. Takjauh dari tempatku dibesarkan. Bersembunyi di balik batang pohon angsana. Ragu. Bingung. Takpasti akan melangkahkan kaki memasuki dunia panti yang makin asing. Namun, celoteh jujur dari mulut Hasan menyadarkanku.

“Maaf ya, sore ini saya nggak bisa mengajari kalian matematika.” Dan aku pun melihat diriku sendiri pada sosok Hasan. “Teh Sofi, kalo udah besar nanti, aku mau jadi kayak Teh Sofi. Ngajar anak-anak di Panti Asuhan.” Suara kecilku bergaung kembali. Teh Sofi yang lemah lembut menawarkan masa depan yang lezat dengan senyumannya. “Teteh yakin, kamu bakalan jadi lebih dari sekedar pengajar seperti Teteh ini.”

Mataku kembali menganak sungai. Entah kekuatan dari mana yang menggerakkan kakiku untuk melangkah maju. Setapak demi setapak. Angin sore pun seakan menghapus hujan siang tadi. Beberapa daun kering beterbangan di sekelilingku. Dan di pintu pagar, aku terpana. Satu sosok bersahaja keluar dari pintu panti. Sosok yang pernah menjadi idolaku. Sosok yang menuntunku untuk mau belajar dan mengajar. Teh Sofi. Kebersahajaan dan kecantikannya takpernah pudar.

Hatiku pun meleleh. Telapak kakiku takmampu lagi menahan tubuhku. Kedua lututku mencium bumi. Lalu perlahan tubuhku luruh. Aku taklagi merasakan jasadku. Aku telah melebur bersama jiwaku. Jiwaku yang kosong. Kedua mataku membanjir. Penyesalanku seolah tidak ada habis-habisnya. Bu Surti. Kak Vita. Kawan-kawanku. Teh Sofi. Aku melebur dan merasa hancur. Dan aku hampir saja menguap …

Matahari tiba-tiba saja tersenyum dan berkata, “Pelangi, kamu takpernah kehilangan warna. Sebenarnya warnamu masih utuh. Hanya saja, beberapa warnamu telah pudar karena terlalu egois kausimpan. Cobalah untuk kembali berbagi agar warnamu kembali cerah.” Dan aku mengerjap. Teh Sofi telah memelukku begitu hangat. Bak pelukan seorang ibu. Ibu yang takpernah kukenal. Lalu aku mendengar bisikan Teh Sofi.

“Teteh yakin, kamu belum jatuh. Kamu belum bergelung di dalam lubang yang gelap. Teteh percaya bahwa kamu sedang mendaki. Mendaki dan membangun masa depanmu sendiri.” Teh Sofi memandangku dengan mata cahaya, “Teteh yakin, kamu pasti bisa menjadi lebih dari sekedar pengajar seperti Teteh ini. Dan ….” Teh Sofi mengarahkan mataku pada dua sosok perempuan yang berdiri di pintu panti. Dua sosok perempuan yang tidak kukenal. “Itu ibu dan kakakmu, Ali.”

Aku pun mematung. Dunia seolah-olah menari dan tertawa bersamaku. Awan membuka, dan burung-burung berbaris sambil bernyanyi merdu. Pohon-pohon tercerabut, lalu berlari menyongsong pelangi. Aku benar-benar taktahu dengan apa yang terjadi. Entah pendengaranku yang salah, atau angin yang gagal menyampaikan salam. Namun, apapun itu, hanya ada satu tekad dalam benakku saat ini. Aku ingin berubah![]

Lihatlah hidupmu, penuh dengan kesempatan
Walau beban hidup menghalang, jangan lari dari bebanmu
Hidupmu indah, bila kau tahu jalan mana yang benar
Harapan ada, harapan ada bila kau mengerti

NB: Artikel ini diikutsertakan dalam Pagelaran Kecubung 3 Warna di newblogcamp.com.

Advertisements

33 thoughts on “Sang Wajah Pelangi

  1. huwaaaaaaa bang aswiiiiiii, terakhirnya jd keren giniiii
    ga nyangkaaaaaaaaaa. terharu deh 😥

    @mbak wulan: makasih yah doanya. hehehee 😀 *malah saya yg jawab :p

  2. Jujur, jika saya jadi juri K3W, langsung akan memberi tanda khusus pada tulisan ini. Bagus banget, Bang. Insya Allah, sukses di kontes Bang.

  3. Pelangi -sebenarnya- selalu ada, hanya kadang tak tertangkap mata…
    Dan mata yang mampu melihatnya adalah mata yang selalu berharap agar pelangi itu tak lagi sembunyi, walau sang pemilik mata menjelajah diseluruh pelosok bumi ini…

    *neng jasmine a.k.a putri, mba ais, dan bang aswi selamat berkontes… 🙂

  4. Terima kasih atas partisipasi sahabat
    3 artikel telah saya baca dengan tuntas.
    Grup anda akan segera di daftar sebagai peserta
    Silahkan cek di page Daftar Peserta Kecubung 3 Warna
    newblogcamp.com
    Salam hangat dari Markas BlogCamp Group – Surabaya

  5. >> abi : Kalau tanda khusus, kayaknya semua orang kebagian hehehehe …
    >> pethakilan : Traktiran dari mana yah ^_^
    >> lidya : Ah, jangan merendah gitu ah. Semuanya bagus-bagus kok ….

  6. >> dheeasy : Wah, rangkuman yang dahsyat! Hatur nuhun, Teh…
    >> bchree : Hatur nuhun ya … Sementara saya hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Nurul. Syafakillah ….

  7. *menghapus air mata*
    wuedyaaaaan ik.. apik tenan endinge. bravo!!!
    bravoooo…

    tenan ki, apik tenan. balutan kata – kata indah nya menutup cerita dengan apik

    *aku akan mencoba mengacuhkan sms – sms sebelum hari H*
    😀
    hihihihihi

  8. >> marsudiyanto : Masa sih, Pak. Lha wong ini juga cuma fiksi kok. Dongeng semata. Gitu aja diambil hati hehehe …
    >> ais : Halaaaaaaaaaah! Dateng-dateng langsung ngomong wuedan! Wah kaco dunia iki. Hari H? Apa tuh?! ^_^

  9. Aku Ingin Berubah

    Andai semua orang selalu berkata itu, maka hidup ini akan melukiskan berjuta harapan

    I like this Story Bang Aswi. Sukses ya

  10. >> jumialely : Insya Allah akan ada banyak orang yang berkata seperti itu. Kata yang dilanjuti dengan perbuatan. Insya Allah. Hatur nuhun ya, Jeng. Sukses juga buat Jeng Lely ….

  11. Alhamdulillah, akhirnya Ali menyadari dan mau bertaubat. pertaubatan adalah hal yang memerdekakan kita dari rasa bersalah dan awal bagi kehidupan yang lebih baik…

    walaupun agak terlambat, Juri Kecub datang,, untuk mengecup karya para peserta,, mencatat di buku besar,, semoga dapat mengambil hikmah setiap karya dan menyebarkannya pada semua…

    sukses peserta kecubung 3 warna.. 🙂

  12. Benar-benar bagus bang aswi, benar-benar bagus sekai ceritanya. Ali yang semula tidak tergambarkan, ternyata berakhir dengan penyelesaian yang manis.
    Cerita sudah dicatat dalam buku besar juri, terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s