PR Matematika Didi

Didi bersemangat. Air seember penuh telah berhasil ia pindahkan sebanyak dua puluh kali dari sumur ke dalam bak mandi. Keringatnya telah bercampur dengan air sumur, namun ia puas. Bak mandi yang terletak di belakang rumahnya telah penuh. Pekerjaan terakhirnya malam ini telah selesai. Didi menyeka dahinya. Kini ia tinggal mengerjakan tugas sekolah yang diberikan oleh gurunya tadi pagi. Soal hitungan matematika.

Malam sudah semakin larut, dan dingin pun semakin memeluk dan menusuk. Didi tidak berani mandi. Ia hanya mengganti pakaiannya yang basah, lalu menjemurnya. Setelah itu, bergegas ia mengambil tas sekolah peninggalan kakaknya dan mengeluarkan buku-buku tulis. Didi mengambil salah satu buku itu dan meletakkannya di atas meja, lalu mengambil lampu teplok yang hanya satu-satunya di ruangan itu. Seluruh keluarganya telah lelap di pembaringan masing-masing.

Sesekali Didi berkerut. Kadang juga tersenyum sendiri. Matanya agak dipertajam lagi, mengingat cahaya lampu yang menerangi bukunya telah memudar. Lampu teplok didekatkannya lagi. Matanya semakin membesar dan melotot.

Api di lampu teplok semakin mengecil. Konsentrasi Didi telah buyar terhadap PR-nya. Ia mengamati lampu teploknya, lalu mencoba memutarnya untuk mengetahui isi minyak yang dikandungnya. Kening Didi berkerut. Pantas saja, minyaknya sudah hampir habis. Didi menutupnya kembali. Ia pun mencoba mengerjakan PR matematikanya lagi. Tinggal lima soal yang belum ia kerjakan. Pandangan matanya dipertajam lagi. Sementara angin semakin dingin berembus, menembus lubang-lubang kecil pada bilik-bilik rumah dan merayapi kulit Didi.

Di soal kelima, Didi merenung. Berpikir tentang jawaban soal yang agak rumit. Pikirannya berkelana seputar angka-angka yang berkumpul di kepalanya. Angka-angka itu berkelompok dan memisah. Didi berusaha menemukan rumusannya. Dan sebuah bayangan lampu pijar pun muncul di benaknya. Ia menemukan jawabannya! Tangannya langsung bergegas menuliskannya. Bersamaan dengan makin kecilnya cahaya yang menerangi ruangan itu. Kecil. Didi berhenti. Kecil. Lalu gelap. Didi pun mendesah. Minyak lampu itu telah habis.

Dengan tangannya yang kecil, ia meraba-raba dalam kegelapan. Perlahan ia berjalan menuju kamarnya, tempat ia dan kakaknya memetakan mimpi. Kemudian ia menggerakkan tubuh kakaknya. “A!” bisiknya lirih. Tubuh kakaknya terasa bergerak, tetapi tidak bersuara. “A!” bisiknya lagi.

Suara kakaknya terdengar mengerang. “Naon?

“Minyak lampuna seep.”

Hening.

A!

“Tidur aja dulu, Di. Sebelum subuh kamu bangun, nanti Aa siapin obor.”

Malam kembali hening. Suara alam bernyanyi di kejauhan. Seekor kunang-kunang masuk ke dalam kamar melewati lubang ventilasi. Cahayanya mengilhami Didi. Besok aku akan menangkap banyak kunang-kunang. Di dalam botol, mereka akan menjelma lampu yang terang. Dan mata Didi pun terpejam.[]

Advertisements

37 thoughts on “PR Matematika Didi

  1. Berhasil menyelesaikan PRny! Krn sketika dia melihat lambaian sinar supermoon yg berbisik di sela-sela bilik, segera ia beranjak keluar rumah. Melanjutkan tugas rumahnya bersama rembulan.

  2. hiks.. kesian bener si Didi…
    Aa’ tuh lampu minyak na seep.. diisiin atuh A’.. hehehe,,,

    mudah2an anak2 Indonesia tidak lagi kesusahan belajar hanya karena fasilitas yang kurang.. 🙂

  3. >> lidya : Amin.
    >> iyha : Si Aa-nya juga bingung, da minyakna kudu meser …
    >> jeri : Diselesaikan esok pagi ^_^
    >> bundamahes : Ih, kok seidean sih. Tapi kalau versi saya mah dikerjakan subuh hari tapi pake bantuan obor ….

  4. Waw, ide cemerlang pake kunang2! Ga nyangka deh…….aih…. Tp kasian atuh bang, kumaha nafasna sikunang2 eta kl dimasukin botol? Pengap euy….kl utk 1 soal sj okelah…. Tp kl 50 soal? Aihhhhhh lierrrrr si kunang2, bisa2 mah si kunang2 berkunang2-mabok akhirna.. Gabruuuuk!

  5. >> Seris : Botolnya bisa dikasih jala kecil sehingga ada nafas, begitu juga dengan rerumputan sebagai bahan makanan mereka ^_^
    >> uni : Thanks, Uni …

  6. >> Seris : Doh, yang mau romantisan ^_^
    >> Julie : Wah, ada juri. Silakan silakan silakan (sambil membersihkan ruangan biar nyaman diduduki) … ^_^

  7. iya ya…kunang2..sekarang kok udah ga ada ya..
    padahal itu binatang yg paling terang benderang…hehee

    nyari kunag2 kemana skrg…

  8. >> dhe : Memang tidak disebutkan di atas, tapi anak-anak desa dari kelas 1-4 SD sudah seperti Didi. Mereka mandiri dan takbergantung pada orangtua. Beda dengan anak kota ^_^

  9. jempol deh, suka ceritanya yang settingan-nya alami banget, bagus!
    yang jadi juri pasti bingung niy, tadi dari tempatnya Iyha juga bagus ceritanya, mana yang mau dipilih jadi pemenang tuh hehehe

    Good luck ya bang!

  10. >> niQue : Masa gitu aja bingung? Kan tinggal milih juara 1,2, dan 3 aja. Kalau perlu dikasih juara hiburan gitu hehehehe … thanks ya!
    >> Orin : Jauh atuh, Orin. Ngasihnya gimana? Masa dipaketin?
    >> wi3nd : Iya, kita bisa belajar dari Didi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s