Untukmu Dija: Busur dan Anak Panah

Prolog: Sosok itu hanyalah seniman kata-kata yang taksempurna. Dan Dija adalah anak yang terlahir sempurna. Orangtua dan lingkungannya yang kemudian menjadikannya bertambah paripurna atau makin berkurang kesempurnaannya. Sosok itu lalu membayangkan Dija yang telah duduk di kelas 3 SLTP (sama halnya ketika sosok itu membayangkan kedua putrinya: Bintan Fathikhansa dan Nindya Rahmani). Anggap saja di bawah ini adalah buku harian Bunda Noni. Selamat menikmati….

Jam weker itu telah berdering! Tepat seperti yang telah kuperkirakan. Pada waktunya. Pada saat ini, ketika aku sudah tidak dapat memejamkan mata lagi—untuk yang ke sekian kalinya. Yang terdengar jelas dari balik dinding kamarku. Tepatnya di dalam kamar anakku.

Alarm jam weker di kamarnya mungkin tidak terlalu keras. Tetapi tidak untuk telingaku, apalagi di saat seperti ini. Malam yang hening, ketika sebagian umat manusia terlelap. Bahkan, sejak pertama kali mendengarkan alarm itu dan mengetahui apa akibatnya bagi anakku, aku tidak sabar lagi untuk terus terjaga 10 atau 15 menit sebelumnya hanya untuk mendengarkan jeritan pertamanya. Ya, jeritan pertamanya. Hingga aku hapal saat anakku menghentikan jam wekernya setelah jeritan yang ketiga.

Sudah lebih dari dua tahun sejak aku pertama kali mendengarkannya. Dan tak salah, jika aku begitu menikmati—walau awalnya begitu terganggu—jeritan jam weker anakku itu. Apalagi sejak suamiku telah tiada, hampir tiga tahun yang lalu. Kamar ini begitu sunyi. Apalagi di malam-malam yang dingin. Hanya ada sebuah bingkai besar—tepat di atas kepala tempat tidurku yang besar—berisikan gambar mesra almarhum suamiku dan aku. Foto yang diambil juru foto ketika kami menikah. Selebihnya hanyalah benda-benda sunyi yang terus mencoba menghiburku akan kenangan yang teramat indah di masa lalu.

Aku sangat hapal benar apa yang dilakukan anakku setelah mematikan jam wekernya. Dapat kubayangkan gerakannya yang langsung duduk di tempat tidur, meregangkan kedua tangannya tinggi-tinggi sambil sesekali menguap lebar. Setelah beberapa saat, ia pasti berdiri di sisi tempat tidurnya, lalu menggerakkan pinggangnya ke kiri dan kanan. Kadangkala ia juga membungkukkan diri beberapa kali sambil berusaha menyentuhkan ujung tangannya pada ujung kakinya. Aku memang sangat hapal dengan tingkahnya yang tak pernah berubah sejak kecil dahulu itu, ketika aku mulai mengajarkannya gerakan-gerakan itu tepat pada usianya yang keenam. Bahkan, tak jarang gerakan-gerakan itu kami lakukan bersama. Sambil tertawa dan saling menggoda dengan cara membenturkan pinggul kami. Tanpa sadar, aku pun beranjak bangkit dan berdiri di sisi tempat tidur. Lalu dengan serta merta, aku pun mulai menggerakkan tubuh dan tanganku. Ah, sudah lama aku tidak melakukan gerakan ini bersama anakku. Sudah hampir 6 tahun sejak ia duduk di kelas 3 SD.

Setelah selesai melakukan gerakan-gerakan itu, aku beranjak mendekati pintu. Kusandarkan punggungku pada pintu itu dan mulai memandang gordin jendela yang berwarna hijau muda. Aku juga melihat jam dinding yang tergantung tepat di atas jendela itu. Pukul 03.00 dini hari. Sementara pikiranku mencoba membayangkan langkah kaki anakku yang mulai mendekati pintu kamarnya, membukanya secara perlahan—mungkin agar aku tidak terganggu—lalu berjalan lembut menuju kamar mandi yang terletak di belakang rumah. Anakku memang bukan tipe anak yang penakut. Ia sudah berani ke kamar mandi sendirian sejak usia dini. Aku bangga akan hal itu. Sama bangganya ketika ia mulai memasuki tahun ajaran baru di kelas 2 SMP. Ketika untuk pertama kalinya ia memakai kerudung, seragam lengan panjang, dan rok biru yang memanjang, sambil berteriak, “SURPRISE!

Saat itu aku memang terkejut.

“Ummi, bolehkah aku memakai seragam ini, mulai saat ini juga?” ujarnya kemudian sambil menunjukkan parasnya yang teramat ceria. Begitu cerah.

“Dari mana kamu mendapatkan seragam ini?”

“Tentu saja dari uang tabunganku.”

“Untuk berapa lama kamu akan memakai seragam ini?”

“Kok, Ummi nanyanya seperti itu sih? Ya, insya Allah untuk selamanya, Mi.”

Aku pun langsung memeluknya erat sambil menggumamkan rasa syukurku pada Allah yang telah menunjukkan jalan terbaik bagi anakku. Tak terasa air mataku saat itu langsung mengalir deras. Dan aku tidak malu ketika anakku melihatnya, karena aku yakin kalau ia tahu bahwa itulah air mata kebahagiaan.

Yah, itulah kebanggaanku yang entah sudah ke berapa kali padanya. Kebanggaan sejati yang tidak dapat tergantikan oleh apa pun. Kebanggaan yang sangat kuidam-idamkan sejak aku memutuskan untuk menikah. Kebanggaan yang kuimpi-impikan sejak anakku mulai belajar membaca Al-Qur’an, dan pernah kuutarakan pada tetangga-tetanggaku ketika mereka membanggakan hobi mereka yang suka mendengarkan musik kesayangan dan menyanyikannya. “Maaf, barangkali saya egois, Bu. Bukannya saya tidak mempunyai hobi seperti ibu-ibu. Akan tetapi, saya akan sangat senang bila bisa mendengarkan anak saya yang baru belajar membaca Al-Qur’an walau masih terbata-bata. Bukan apa-apa, pada saat itu saya seperti mendapatkan janji Allah tentang masa depan. Itu saja.”

Ya, itulah kebanggaanku.

Sadar akan air mataku yang tumpah, aku pun segera mengesatnya. Lalu aku mendengar suara air bergemiricik dari kamar mandi. Anakku sedang berwudhu, bisik hatiku. Mendengar suara air itu—apalagi di tengah malam yang senyap ini—, tiba-tiba saja tubuhku bergetar. Getaran yang dimulai dari dalam hatiku. Entah kenapa, ada rasa keharuan yang menyentak. Rasa haru yang kembali membuat air mataku mengalir deras. Yang membuatku berjongkok, kemudian bersujud sambil menggumamkan asma-asma Allah yang serba Maha. Keharuan yang terasa sejuk. Keharuan. Kebanggaan. Yang menjelma kenikmatan. Yang telah lama kuimpikan.

Dan ketika suara gemericik itu hilang, aku kembali bangkit dan menyandarkan punggungku pada pintu kamarku lagi. Perlahan-lahan. Aku pun membayangkan langkah kaki anakku yang telah basah kembali pada kamarnya, menutup pintu secara perlahan, lalu mempersiapkan peralatan shalatnya. Dapat kubayangkan bagaimana ia memakaikan mukenanya, sama persis ketika aku pertama kali memakaikan mukenanya saat ia mulai belajar shalat. Shalat Maghrib pertamanya secara berjamaah bersama almarhum suamiku. Kebahagiaanku yang tiada batas saat bisa bersandingan dengannya dalam balutan kain putih, walau kadang-kadang hatiku tersenyum ketika melihatnya salah melakukan gerakan. Ah, anakku, masihkah engkau ingat akan hal itu?

Segera aku mengesat air mataku yang sepertinya tak pernah berhenti mengalir, lalu berjalan menuju meja riasku yang tidak terlalu penuh. Ya, sejak kematian suamiku, aku sudah tidak pernah lagi ber-make up. Di meja itu, tergeletak sebuah buku yang masih rapi, dengan sampul plastik yang masih bening. Masih terbayang jelas dalam ingatanku ketika almarhum suamiku menghadiahkan buku itu padaku. Entah buku yang ke berapa. Ia memang senang menghadiahkan sebuah buku padaku. Begitu pula aku. Kami memang sama-sama maniak dengan buku. Aku pun juga sering menghadiahkan sebuah buku padanya. Dasar keluarga buku, bisik hatiku tersenyum. Tak heran kalau ruang tamu kami hanya ada buku yang terpajang.

Secara perlahan—sambil mengingat kapan almarhum suamiku menghadiahkan buku itu padaku—, aku mengambil buku itu. Setelah itu pikiranku beralih membayangkan bagaimana anakku mulai mengangkat kedua tangannya sambil menggumamkan ke-Akbar-an Allah. Memulai shalat Tahajudnya yang sudah terbiasa ia lakukan sejak duduk di kelas 3 SMP. Kubuka halaman yang ada kertas pembatasnya. Sebuah syair ternama terpampang di halaman itu. Syair yang sangat kusukai bukan karena pengarangnya adalah seorang Kahlil Gibran, tetapi lebih karena syairnya yang indah.

Anakmu bukanlah milikmu
Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu

Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu
Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri
Patut kauberikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan
Yang tiada dapat kaukunjungi, sekalipun dalam impian

Kau boleh berusaha menyerupai mereka
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur
Pun tidak tenggelam di masa lampau

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur
Sang Pemanah Mahatahu sasaran bidikan keabadian
Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat

Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang Pemanah
Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap

Air mataku kembali tumpah, entah untuk yang ke berapa kalinya. Aku memang tak pernah menghitung. Sama halnya dengan kebanggaanku pada anakku yang sudah remaja itu. Kebahagiaanku yang tiada tara. Kenikmatanku. Bukti cintaku dengan almarhum suamiku. Bukti cintaku pada Sang Maha yang telah memberikan banyak nikmat. Maka, aku pun segera menutup buku yang baru kubaca itu dan meletakkan kembali ke atas meja rias. Lalu kulangkahkan kaki untuk membuka pintu kamar, dan berjalan ke kamar mandi. Biar kurasakan sejuknya air wudhu di penghujung malam ini. Biar kutumpahkan rasa syukurku ini pada Sang Maha. Dan ketika azan Subuh bergema nanti, biarlah aku dan anakku bermunajat pada-Nya secara berjamaah.[]

Advertisements

35 thoughts on “Untukmu Dija: Busur dan Anak Panah

  1. >> ethie : kayak laut aja, ada yang dalem dan ada yang dangkal …
    >> orin : Masa sih? Terlalu banyak cerita menyedihkan ya?
    >> dewifatma : Tapi terharu yang bikin semangat kan? Nuhun …

  2. >> lidya : tinggal dicap jempolnya di atas surat ini ^_^
    >> wi3nd : hallow juga, wi3nd. lama tak bersapa kita … makasih ya
    >> iyha : nuhuun, yha … amiiin.

  3. Nice posting bang…menyentuh..
    Hiks..kenapa hari ini jadi melow..melow…
    baru saja BW Kemana mana…dan daku juga sudah menyelesaikan Letters to Dija…
    semoga dija bahagia, begitu banyak yang menyayanginya 🙂

  4. >> Lyliana : Makasih, semoga bermanfaat …
    >> mamanya Kinan : Melow? Me low = merendahkan diri hehehehe. Iya, semua sayang sama Dija ^_^
    >> BW : Thank youuu …

  5. >> Lyliana : Salam kenal kembali, Teh.
    >> Lozz Akbar : Ya, Dija patut berbahagia …
    >> Elsa : Sama-sama Teh Elsa, semoga Dija senang … ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s