Q&A tentang Dunia Menulis (1)

Alen: Katanya, kan, menulis itu diawali dgn membaca, bacaan seperti apa yg cpt menstimulasi untuk menulis? Apa setiap bacaan? Bagaimana membuat tulisan yg dpt membuat pembaca menyukai tulisan kite? Gtu aj deh….

Bang Aswi: Bacaan apa saja. Pada saat membaca, buang keegoisan kita untuk membaca karya tertentu. Tapi bacalah semua bacaan itu tanpa membanding-bandingkan. Di sinilah kita harus memposisikan diri kita sebagai pembaca. Itulah kenapa saya sudah menjelaskan di awal bahwa kita harus menganggap pembaca itu cerdas. Setelah tulisan kita selesai, bacalah dan jadilah diri kita sebagai pembaca, bukan sebagai penulis lagi. Artinya, kalau ada tulisan kita yang kurang sreg, jangan sungkan2 untuk menghapus dan mengeditnya. Kita harus menjadi ratu tega untuk membersihkan kesalahan mungkin seperti itu. Mudah2an Teh Alen bisa memahami, ya.

Andri: Setuju banget… ide-ide keluar dari kejadian sehari2… sy pertama kali nulis waktu awal2 buka fb…. awalnya memberanikan diri seperti yg bang aswi bilang td… banyak yg respon jd tertarik u nulis dan nulis lagi…ini mungkin awalnya yaa….. sy banyak menulis di notes… sy ngerasa masih loncat2 idenya kalo nulis… menulis sekehendak hati… tanpa eyd… pake bahasa yg biasa sy pakai sehari2… kalo  ada waktu minta tolong dikritik ya Bang… pertanyaannya… gimana biar gk loncat2 idenya, eh… penulisannya maksud sy

Bang Aswi: Ini seperti bersepeda. Teh Andri bisa bersepeda kan? Mudah saja sebenarnya, yaitu menulislah secara teratur. Atur jadwal sebisa yang kita mau, tapi lebih baik buat schedule yang ketat, misalnya saja 2 jam perhari. Dengan jadwal yang teratur atau dengan menulis secara teratur, maka ide yang loncat2 itu akan berkurang dengan sendirinya. Cara lainnya adalah dengan mencatat ide-ide itu dimanapun dan kapan pun kita berada. Gunakan gadget yang sudah semakin modern, misalnya di Hp. Pada saatnya menulis, lihat ide-ide itu dan mana yang mau didahulukan.

Andri: Yg kedua… sepertinya sy hanya bisa nulis kalau itu sesuai dengan yg ada di kepala sy… dan sy tertarik…  kalo someday ada yg meminta menulis yg sy gk suka… sepertinya itu akan jadi masalah jg.. hehe… gmn crnya

Bang Aswi: Itu hanya masalah pembiasaan. Di awal, bolehlah kita suka dengan ide-ide di kepala dan menolak yang dari luar. Kalau sudah biasa menulis dan (bahkan) sering mendapat order, percayalah bahwa kita bisa mengaturnya dengan baik. Ide di kepala bisa disinkronkan dengan ide dari luar. itu saja.

Coen: Sy termasuk yg kesulitan menemukan ide.karena jarang baca :D. “Bacaan” saya hanya pengalaman sehari2, menyimak obrolan orang, dsb. Biasanya yg bisa sy tuangkan dlm tulisan, itu krn memang “dalem” buat sy. Pertanyaannya, gmn cara mngubahnya yaa? Tulisan sy jadinya emosional..

Bang Aswi: Ide memang bisa dari mana saja, bahkan dari lingkungan sekitar alias dari pengalaman sehari-hari. Jika ingatan kita kurang bagus (maaf ya), alangkah baiknya jika langsung disimpan dalam notes atau Hp atau rekaman yang kita punya. Jika waktunya menulis, tulislah pengalaman itu dengan sebaik-baiknya. Bisa jadi Teh Coen memang karakternya seperti itu, saya pun kadang suka begitu. Jadikan hal itu sebagai kelebihan, bukan kekurangan … ^_^

Coen: Pertanyaan kdua, bgmn menghindari “editor dr dlm diri sndiri”..? Baru nulis satu paragraf,…dicoret/hapus lagi..jd gak maju2 😛

Bang Aswi: Menulislah apa adanya. Saat menulis, menulis saja apa adanya dan jangan pernah menjadikan diri sebagai editor. Biarpun salah ketik, misalnya nulis ‘siapa’ jadi ‘sapa’ tidak masalah. Tulis saja dan jangan tergantung dengan kesalahan menulis. Jika sudah dianggap selesai, misal 2 halaman atau bahkan 5 halaman, barulah kita mengedit. Pada saat mengedit, barulah kita bisa memposisikan diri sebagi editor yang ‘kejam’. Coret sana dan coret sini. Nambahin tulisan atau bahkan ngurangin tulisan. Perbaikilah yang menurut Teh Coen harus diperbaiki.[]

Advertisements

23 thoughts on “Q&A tentang Dunia Menulis (1)

  1. >> iyha : Silakan. Ada deh, yang jelas tele-conference gitu xixixixi … ^_^
    >> dewifatma : Wow! Dewi banget ya. Semoga bermanfaat …
    >> Lidya : Harus belajar, jangan semangatnya aja ^_^
    >> Sya : Hayuuuuuu ….

  2. membaca adalah hobi utama saya, sedangkan menulis adalah berikutnya. Saya semakin tertarik untuk terus belajar menulis setelah menyadari bahwa dengan menulis saya bisa memenuhi kebutuhan saya akan bahan bacaan ( paling tidak hasil tulisan sendiri ).

    mengenai tips diatas, sebagian besar saya mengalaminya, ide yang loncat-loncat, koreksi sebelum melanjutkan paragraf berikutnya. tapi alhamdulillah, seperti yang Bang Aswi sampaikan, dengan sering berlatih dan jangan ragu atau malu ( selama itu untuk kebaikan ) akhirnya perlahan tapi pasti mulai ahu apa yang mesti harus dilakukan, termasuk menulis dulu baru edit kemudian. benar bahwa kalau sedikit-sedikit di edit, ga maju-maju. Hatur nuhun penjelasannya Bang.

  3. >> aryna : Coba ditambah cemilan2 yang disuka atau dipasang lem aja biar gak kemana2 ^_^ intinya mah pembiasaan, itu saja!
    >> bintangtimur : Itu kayaknya editor yang kejam sekali sehingga sekali pangkas langsung habis!
    >> abi sabila : Ya, itu pun salah satu pendorong mengapa saya terjun ke dunia menulis. Jika sumber bacaan habis, siapa lagi yang menulisnya? Alhamdulillah sudah pernah ada yang mengalaminya. Yuk ah! Nulis terusss ….

  4. bang aswi….tips sangat bermanfaat bagi saya…mengenai ide, betul tuh tipsnya sering banget dapat ide tapi karena ga bawa alat untuk menuangkan jadi sia2 dan lupa lagi begitu mau mulai dituangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s