Wajah Peneduh Hati

Sosok itu menunggu. Kerumunan orang seolah takberhenti lewat di depan dan di belakang. Sementara kelebatan masa silam terpampang di depan mata. Saat dia bergelantungan di tengah bus, dikelilingi oleh banyak orang yang senasib. Namun wajah di depannya meneduhkan hatinya. Begitu pula saat sosok belasan tahun itu muncul kembali dari arah sana. Ya, dari arah sana. Masih wajah yang meneduhkan hatinya.

Bus itu penuh sesak, seperti hari biasanya. Hari-hari orang pulang pergi dengan bermacam tujuan. Sosok itu berdiri, takada tempat duduk tersisa. Sosok itu berdiri, meski lelah tetapi dia merasa sangat beruntung karena kepergiannya kali ini tidak sia-sia. Seorang kawan telah menunggu. Dan seorang kawan baru dikenalkan kepadanya. Saat itu, hidupnya seolah berwarna.

Wajah peneduh hatinya takberubah. Masih seperti yang dulu. Masih putih dan bercahaya. Masih menawarkan kesejukan. Meski takbanyak yang mengetahui kalau wajah peneduh hati itu tengah dirundung bencana. Berkalibut yang entah harus menyalahkan dan menuding siapa. Bisa jadi sistem yang bobrok. Bisa jadi manajemen pemerintahan yang buruk. Semuanya menggumpal. Menekan ulu hati hingga mual takberkesudahan.

Sosok itu entah. Bingung. Apalagi yang bisa membuat sang wajah peneduh hati itu kembali bersinar seperti sediakala? Mungkin berkeringat. Mungkin melebarkan paru-paru. Mungkin menggerakkan kaki-kakinya. Ya … berlari. Daripada teriak, lebih baik berlari. Berlari membuang kesal dan emosi. Berlari yang sebenarnya hingga mengeluarkan keringat dan bernafas sebagaimana mestinya. Berlari dan terus berlari.

Sosok itu hanya berharap segalanya akan kembali normal dan baik-baik saja. Akan tetapi memang sulit dan takakan bisa. Sosok itu hanya bisa berdoa. Mengambil hikmah dari semua kejadian. Termasuk kejadian yang menimpa sang wajah peneduh hatinya itu.[]

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari keresahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari rasa takut dan kikir. Kami berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan manusia. Ya Allah, limpahkanlah dalam kalbu kami aneka kesabaran menghadapi aneka cobaan. Ya Allah, jadikanlah kami rela dengan ketetapan-Mu, sabar memikul ujian-Mu, dan ilhamilah kami kemampuan mensyukuri nikmat-Mu.

Advertisements

11 thoughts on “Wajah Peneduh Hati

  1. Setiap insan punya harap, tapi kadang tak terucap
    Setiap jiwa punya mimpi, namun kadang tak juga bertemu tepi
    Setiap hati punya cita, tak dikira sulit nyata
    Tapi setiap insan punya do’a yang menjadi penggembira
    Namun setiap jiwa punya usaha yang terus bergelora
    Dan hati tak dikira terus mencoba ikhlas menerima nyata yang ada…

    Sesudah ada kesulitan, pasti ada kemudahan…

    Semangat ya Wahai Wajah Peneduh… 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s