Memperpanjang Usia dengan Menulis

Apa motivasi terbesar Abang untuk terus menulis?

Sebuah pertanyaan sederhana, yang muncul begitu saja dalam salah satu komen di blog ini. Jujur, sosok itu terjun dalam dunia kepenulisan awalnya adalah ‘terjebak’. Pengertian ‘terjebak’ di sini dikarenakan tidak pernah sedikit pun pikiran dalam benaknya bahwa suatu saat ia akan menjadi seorang penulis. Sosok itu hanya terlalu asyik dengan berbagai aktivitas dimana salah satunya adalah berorganisasi di sebuah forum kepenulisan. Hanya itu.

Organisasi kepenulisan tentu akan berisi banyak penulis, mayoritas adalah para penulis yang sudah memiliki nama. Sebagai salah seorang pengurus, tentu rasanya aneh jika sosok itu tidak bisa menulis. Atas bimbingan beberapa kawan pengurus lainnya yang sudah jadi penulis (dengan seringnya tulisan mereka dimuat di media massa), sosok itu pun berjuang untuk bisa menulis. Dan waktu pun membuktikannya.

Uniknya, organisasi kepenulisan ini berbasis keagamaan, mayoritas. Takheran, dalam berkarya sosok itu menjadikan keislaman sebagai pondasi terkuat sehingga nilai-nilai keagamaan itu muncul begitu saja. Awalnya, nilai-nilai itu terpampang sebagai simbol-simbol belaka. Seiring dengan waktu, simbol-simbol itu pun makin mencair dan muncullah nilai keislaman yang universal, artinya Islam sebagai rahmatan lil’alamin harus bisa diterima oleh seluruh masyarakat dan tidak hanya memunculkan adegan shalat, dialog bahasa Arab, salam, petikan ayat-ayat Al-Qur’an dan lain sebagainya.

Dan di kemudian hari, sosok itu menemukan dan begitu menyukai kalimat yang diungkapkan oleh salah satu khalifah sepeninggal Rasulullah saw. yang juga adalah sepupu dan menantu beliau sendiri, yaitu Ali bin Abi Thalib. Sosok itu pernah menuliskannya juga di sini.

Semua penulis akan mati.
Hanya karyanyalah yang akan abadi.
Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan
dirimu di akhirat nanti.

Kematian, mengingatkan kita akan kefanaan. Ada pembatas bahwa kehidupan kita pada akhirnya akan berhenti dan sudah saatnya kita menutup buku. Di balik kehidupan yang seolah laksana pelangi, baik suka maupun duka, kita kembali diingatkan oleh kalimat sederhana itu bahwa ungkapan ‘selamat ulang tahun dan semoga panjang umur’ pada perayaan setiap tahun yang mengadopsi dari budaya Barat hanyalah sebuah fatamorgana saja. Takjarang, setelah perayaan mewah dengan balon-kue tart-badut itu kehidupan kita pun kembali menjadi hampa dan begitu saja. Takada sisa apapun kecuali sampah-sampah yang harus kita bersihkan dan piring-piring yang harus dicuci kembali.

Lalu apa yang bisa kita lakukan dalam hidup ini?

Jika Anda tidak (ingin) terlupakan sesaat setelah kematian Anda, lakukan dua hal ini: tuliskan sesuatu yang layak dibaca atau lakukan sesuatu yang layak ditulis~Benjamin Franklin

Sosok itu tidak ingin terlalu muluk menjelaskan tentang pentingnya berbuat amal kebaikan dan menjauhkan diri dari amal keburukan. Cukuplah esensi sederhana dari sebuah aktivitas yang boleh dibilang ringan, yaitu menulis. Menulis, persis yang dikatakan Imam Ali, akan membuat kita bahagia di akhirat nanti. Syaratnya hanya satu, yaitu menulis sesuatu yang bermanfaat. Dan kita semua pun tahu apa itu tulisan yang bermanfaat, yang kemudian telah dijabarkan oleh Tuan Franklin.

Percayalah, bahwa dengan menulis kehidupan Anda akan lebih panjang lagi dari usia Anda yang sebenarnya. Kita bisa jadi hanya diberi jatah usia 60 tahun atau bahkan hanya 30 tahun, tetapi dengan menulis bisa jadi usia Anda mencapai 200 tahun atau bahkan sampai 1.000 tahun kemudian. Apa sebab? Karya kitalah yang membuat nama kita terus dikenang. Karya dalam bentuk tulisanlah yang membuat amal-amal kita menjadi bernilai bagi orang yang membacanya dan semoga (insya Allah) amal-amal itu pun terus mengalir pada kita yang telah menyatu dengan tanah. Wallahu’alam.[]

“If … my doctor told me that I had only six minutes to live, I wouldn’t brood. I’d type a little faster.” ~Isaac Asimov

Advertisements

15 thoughts on “Memperpanjang Usia dengan Menulis

  1. Waduh…pertanyaan itu kan…. *hihihi…*
    Hatur nuhun pencerahannya ya Bang. Semoga bisa istiqomah. Amin.
    Semangaaaaat 🙂

  2. >> Iyha : Sama-sama menyemangati ya … ^_^
    >> Asop : Insya Allah.
    >> Jasmine : Hayuuuuuuuuu ….
    >> kota solo : Hehehehehehe … benar-benar bertolak-belakang …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s