Belajar dari Mark Twain

“Buatlah kata ‘sial’ setiap kali Anda ingin menuliskan kata ‘sangat’ atau ‘paling’, dengan begitu editor Anda akan mudah menghapusnya dan tulisan Anda pun akan menjadi lebih baik.” ~ Mark Twain

Sesuatu yang berlebihan itu memang tidak baik. Apapun bentuknya. Olahraga baik untuk kesehatan tetapi kalau berlebihan ternyata juga tidak baik. Sosok itu pernah mengalaminya, sampai merasakan apa itu over exercise. Badan pegal-pegal takjelas, hingga takbisa beraktivitas sebagaimana mestinya.

Makanan juga sehat bagi tubuh, apalagi kalau kehalalannya sudah dipastikan. Beberapa makanan bahkan dapat menyembuhkan penyakit tertentu. Akan tetapi, jika berlebihan pun ternyata menjadi tidak baik. Lihat saja bagaimana Sang Maha tidak menyukai orang-orang yang berlebihan (QS Al-A’raf [7]: 31). Atau perkataan Sang Teladan bagaimana sikap yang berlebih-lebihan itulah yang membinasakan kaum-kaum terdahulu (HR Muslim).

Lalu, adakah hubungannnya antara sikap berlebih-lebihan dengan kepenulisan? Ternyata ada. Kata ‘sangat’ dan kata ‘paling’ memang menunjukkan sifat yang berlebih-lebihan. Padahal, setiap kata (sifat) memiliki ukurannya dan cenderung subjektif. Sama halnya ketika sosok itu menyebut kecantikan seseorang yang belum tentu dibilang cantik oleh orang lain.

Sifat yang emfasis atau bahkan hiperbolis sangat tidak dianjurkan dalam kepenulisan karena itulah editor berusaha menetralkannya dengan cara menghapusnya. Tidak ada yang ‘sangat’ atau ‘paling’ dalam kepenulisan karena masing-masing ada ukurannya. Apabila ada orang yang paling tinggi di kelas, berapa ketinggiannya. Apabila ada gadis yang sangat cantik, bagaimana bentuk rambutnya, bentuk hidungnya, warna kulitnya, bentuk matanya, dan bentuk bibir atau giginya.

Sebagai contoh, lihatlah kalimat di bawah ini:

Sosok itu sangat tidak suka dengan sikap Eva yang seperti itu. Meskipun Eva begitu dipuja oleh mayoritas kaum adam di kampusnya karena wajahnya yang paling cantik, tetap saja tidak membuat sosok itu harus menyukainya. Apalagi ketika Eva dengan sengaja menghalangi perjalanan sulitnya membawa buku-buku yang sangat banyak, sosok itu menjadi sangat membencinya.

Dan lihatlah bagaimana jadinya jika kata ‘sangat’ dan ‘paling’ diganti dengan kata ‘sial’.

Sosok itu sial tidak suka dengan sikap Eva yang seperti itu. Meskipun Eva begitu dipuja oleh mayoritas kaum adam di kampusnya karena wajahnya yang sial cantik, tetap saja tidak membuat sosok itu harus menyukainya. Apalagi ketika Eva dengan sengaja menghalangi perjalanan sulitnya membawa buku-buku yang sial banyak, sosok itu menjadi sial membencinya.

Dan inilah hasil jadinya setelah kata ‘sial’ dihilangkan dan beberapa kalimat diperbaiki.

Sosok itu tidak suka dengan sikap Eva yang seperti itu. Meskipun Eva begitu dipuja oleh mayoritas kaum adam di kampusnya karena kecantikannya, tetap saja tidak membuat sosok itu harus menyukainya. Apalagi ketika Eva dengan sengaja menghalangi perjalanan sulitnya membawa tumpukan buku-buku, sosok itu pun makin membencinya.

Advertisements

11 thoughts on “Belajar dari Mark Twain

  1. Waah…satu lagi pelajaran penting dari bang Aswi, dilarang lebay ya Bang hihihi.
    Mmm…sepertinya diriku msh lebay kala menulis bang 😦

  2. >> joe : Tidak menjadi masalah. Itu hanyalah sebuah kata agar kata ‘sangat’ dan ‘paling’ benar-benar dijaga.
    >> orin : Lebay mah gak papa, asal jangan alay hehehehe….
    >> bundamahes : Emang! Narsis pisan … hihihihihihi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s