Hemingway dan Sepeda

It is by riding a bicycle that you learn the contours of a country best, since you have to sweat up the hills and coast down them.  Thus you remember them as they actually are, while in a motor car only a high hill impresses you, and you have no such accurate remembrance of country you have driven through as you gain by riding a bicycle.” ~ Ernest Hemingway

Bisa jadi masyarakat Indonesia banyak yang tidak tahu bahwa Ernest Hemingway adalah penggila olahraga sama seperti sosok itu. Sebut saja tinju, memancing, berburu, adu banteng, hingga termasuk bersepeda.

“Hem sangat tergila-gila pada balap sepeda,” kata John Dos Passos—salah seorang penulis yang juga kawan baik Hemingway—setelah bertemu dengannya di Paris pada 1924. “Dia selalu memacu sepedanya begitu cepat layaknya peserta Tour de France untuk mengelilingi boulevards.”

Akan tetapi dari ketertarikannya pada dunia balap sepeda, Hemingway paling tertarik dengan balap sepeda treking (balap sepeda di dalam ruangan stadion atau velodrome). Salah satu velodrome yang menjadi favoritnya adalah Madison Square Garden. “I will get the Vélodrome d’Hiver with the smoky light of the afternoon and the high-banked wooden track and the whirring sound the tyres made on the wood as the riders passed, the effort and the tactics as the riders climbed and plunged, each one part of his machine,” tulis Hemingway di dalam novel A Moveable Feast.

Bahkan, Hemingway mengedit novel A Farewell to Arms di Vélodrome d’Hiver pada 1929. Dia pun menulis testimoni tentang dunia sepeda yang disukainya, “banyak menulis tentang dunia balap sepeda tetapi belum pernah menulis tentangnya sebagus perlombaan balap sepeda indoor maupun outdoor.”

Tidak hanya balap sepeda dalam ruangan seperti Vélodrome d’Hiver yang sangat dinikmatinya, tetapi juga ajang balap sepeda seperti Tour de France dimana tempat favoritnya adalah Parc des Princes yang disebutnya sebagai “wickedest track of all” atas perjuangan berat para pesepeda mengejar kecepatan tinggi di akhir balapan.

Hemingway begitu hafal dengan pebalap sepeda yang disukainya. Sebut saja Victor Linart, pebalap Belgia yang memulai karirnya pada 1909 dan meninggalkan negaranya pada Perang Dunia I untuk balapan di New York. Dia memenangkan banyak perlombaan dan meraih gelar di Eropa dan Amerika Utara pada 1920-an.

Pebalap sepeda lainnya yang disebut Hemingway adalah Gustave Ganay yang berasal dari Prancis. Menurutnya, Ganay berbeda dengan Linart yang merupakan tentara pada Perang Dunia I. Selamat pada masa peperang, Ganay mulai mengikuti beberapa perlombaan balap sepeda. Pada 1926 ia berhasil meraih gelar juara nasional untuk jarak 100 km dan meraih juara kedua di kejuaraan dunia tepat di belakan Linart. Pada tahun yang sama, Ganay terjatuh di Parc des Princess dan meninggal dunia pada 23 Agustus dan Hemingway menyaksikannya.

We saw that great rider Ganay fall and heard his skull crumple under the crash helmet as you crack a hard-boiled egg against a stone to peel it on a picnic,” tulisnya. Hemingway juga mengatakan antusiasnya pada dunia sepeda setelah masa itu: “Saya harus menuliskan sebuah dunia enam hari perlombaan dan keajaiban balap sepeda di gunung.”[]

Advertisements

6 thoughts on “Hemingway dan Sepeda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s