Saksi Pencurian (Bagian 1)

Ujang bertubuh agak besar jika dibandingkan dengan anak-anak yang seusia dengannya. Menurut orangtuanya, itu diakibatkan oleh cara makannya yang melebihi ukuran normal. Makanan apa pun langsung ditelannya. Tak heran jika kemudian ia sering dipanggil dengan sebutan Ujang Gembrot. Hingga akhirnya ia dipanggil dengan sebutan Jambrong yang berkonotasi dengan Ujang Gembrot. Siang yang tidak terlalu terik, Ujang berjalan santai di bawah pohon-pohon bambu. Kebetulan ia hendak ke rumah Bambang untuk mengajaknya bermain. Jarak antara rumahnya dengan rumah Bambang tidak terlalu jauh, tetapi harus berputar-putar mengitari rumah Pak Haji Amir dan kebun mangganya yang luas, juga melewati deretan pohon-pohon bambu. Memang bukan hutan bambu, tetapi karena jalan yang melewati pepohonan bambu itu cukup panjang (kurang lebih sekira seratus meter) maka sebagian orang mengatakan kalau kawasan itu adalah hutan bambu. Hutan bambu kecil.

Baru saja Ujang melewati hutan bambu kecil itu, dan kini ia sedang mengitari rumah Pak Haji Amir yang sepi. Dan saat memasuki kebun mangga Pak Haji Amir yang luas, langkah Ujang terhenti. Ia pun segera merundukkan kepala di antara semak-semak yang kebetulan berada di dekatnya, tepat di sebelah sebatang pohon mangga yang besar. Di kejauhan, tampak olehnya dua orang anak yang sangat dikenal olehnya. Asep dan Budi. Asep bertubuh kecil, sedangkan Budi bertubuh agak besar (tetapi masih kurang besar jika dibandingkan dengannya). Ia melihat mereka sedang melempari mangga-mangga yang terlihat besar dan masak. Sesekali mereka juga menengok ke arah rumah Pak Haji Amir.

Pelan-pelan, Ujang mengendap lebih dekat lagi ke arah mereka. Ia tahu kalau mereka sedang mencuri mangga Pak Haji Amir. Tetapi dasar Jambrong, ia ingin mengetahui mangga-mangga yang sedang dilempari oleh mereka. Dan ketika ia sudah merasa dekat, terlihatlah mangga-mangga yang sudah berwarna kuning kehijau-hijauan itu. Besar dan ranum. Tanda kalau dagingnya pasti sangatlah lezat. Tanpa terasa, air liur Ujang mengalir dari sela-sela bibirnya. Setelah berkali-kali melempar, akhirnya Asep berhasil mengenai salah satu mangga dan jatuh. Mereka berdua terlihat tersenyum dengan hasil itu. Sebuah mangga yang besar. Tetapi ternyata mangga yang jatuh itu adalah mangga keempat yang berhasil mereka timpuk. Terbukti di tangan masing-masing sudah terpegang dua buah mangga yang sama besar. Ujang mencoba lebih mendekat lagi untuk melihat keempat mangga itu. Bersamaan dengan Asep dan Budi yang hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba saja Ujang menginjak sebatang ranting dan daun kering yang suaranya terdengar jelas di telinga Budi. β€œKresk!” Ujang terdiam. Wajahnya terlihat pasi.

Asep menoleh dan memperhatikan seseorang yang terlihat sedang bersembunyi di balik sebatang pohon mangga. Dengan sebuah isyarat, ia pun mengendap-endap bersama Budi. Ujang terdiam cukup lama di balik batang itu. Setelah yakin kalau tak ada suara yang mendekat, ia memberanikan diri untuk mengintip lagi. Dan memang, ternyata Asep dan Budi sudah tidak ada lagi di sana. Ujang pun mengembuskan nafas lega.

Bersambung ke Bagian 2

Advertisements

11 thoughts on “Saksi Pencurian (Bagian 1)

  1. >> Rahad : Terima kasih sudah penasaran. Insya Allah akan ditayangkan.
    >> Susindra : Namanya juga bersambung, masa gak bikin penasaran ^_^
    >> Batavusqu : Ah, itu mah temanya beda lagi hehehehe … nuhun sudah mau datang, Mas.
    >> tunsa : Masa?
    >> aryna : Sebentar lagi ya …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s