Saksi Pencurian (Bagian 3)

Cerita sebelumnya….

Perlahan-lahan ia kembali mengucapkan salam sambil menyentuh bahu Ujang. Ujang terkejut dan tersipu malu ketika melihat Ustad Yusuf sudah ada di hadapannya. Setelah Ustad Yusuf mengucapkan salam kembali, barulah Ujang menjawab salam itu. Dan Ustad Yusuf segera duduk di sebelah Ujang. “Tidak baik melamun sendiri,” ujar Ustad Yusuf membuka pembicaraan. “Apalagi sore-sore begini.”

Ujang tersenyum sambil menunduk. Wajahnya terlihat agak memerah. “Manusia yang berpikiran kosong akan mudah diganggu oleh setan.” Ustad Yusuf merangkul bahu Ujang. “Kalau boleh saya tahu, kenapa kamu melamun?” Ujang menatap wajah guru ngajinya. Yang ditatap hanya mengulas senyum. Ujang kembali menunduk. Ia merasa serba salah. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dibicarakan. “Ya, sudah. Saya tidak akan memaksa. Tetapi kalau kamu mau bercerita, saya siap mendengarkannya kapan saja.” Ustad Yusuf beranjak berdiri.

“Ustad!” seru Ujang tiba-tiba menghentikan gerakan Ustad Yusuf. Ustad Yusuf menunggu, tetapi Ujang malah tampak serba salah lagi. Ustad Yusuf menunggu sambil tersenyum. Ia tahu kalau muridnya itu sedang ada masalah. Tak baik jika ada orang yang mempunyai masalah dibiarkannya begitu saja. “Ngg…,” Ujang berusaha keras untuk bisa berucap. “Boleh … saya bertanya?” Ustad Yusuf duduk kembali. “Kenapa tidak? Orang yang bertanya itu adalah orang yang ingin mencari ilmu. Dan orang yang mencari ilmu itu berpahala. Begitu pula dengan orang yang bisa menjawabnya dengan baik.” Ujang kembali menunduk. “Menurut Ustad…,” Ia benar-benar tidak berani menatap guru ngajinya itu. “Apakah benar seorang teman … tidak boleh mengadukan temannya?” Ustad Yusuf mengernyitkan dahinya. Hanya sesaat. “Dalam hal apa?” Ujang diam.

Ustad Yusuf kembali tersenyum. “Jika kita mengadukan seorang teman yang telah berbuat baik, itu sangat baik. Karena kita telah menyebarkan kebaikannya, dan tindakan kita itu akan berbuah kebaikan pula. Tetapi … kalau kita mengadukan seorang teman yang memang telah berbuat tidak baik, lebih baik jangan. Kalau pun benar teman kita telah berbuat tidak baik, berarti kita telah mempergunjingkannya dan itu dilarang dalam agama.” Ustad Yusuf menarik nafas sejenak. “Dan kalau ternyata apa yang kita adukan tentang teman kita tidak benar, maka kita telah berdusta. Tapi … kalau kita mengadukan teman kita dengan maksud agar teman kita tidak lagi berbuat tidak baik atau insaf, itu lebih baik. Tapi dengan cara-cara yang baik dan patut.”

Ujang membenarkan perkataan Ustad Yusuf. “Kalau … saya mengadukannya karena perbuatan tidak baiknya sedangkan saya sudah pernah menerima kebaikannya, bagaimana?” Ia menatap wajah guru ngajinya. Ia benar-benar ingin tahu jawabannya. Ustad Yusuf memandang Ujang. “Kalau begitu, lebih baik jangan.” Tersenyum. Ujang merasa lega. Dan bersamaan dengan itu beberapa temannya telah datang. Ustad Yusuf berbisik, “Rasulullah saw. pernah bersabda agar kita sering-seringlah bertanya pada hati kita yang terdalam. Kadang-kadang kebajikan itu adalah apa-apa yang menentramkan jiwa dan menenangkan hati, sedangkan dosa adalah apa-apa yang meragukan jiwa dan meresahkan hati.”

Kemudian beliau beranjak berdiri dan masuk ke dalam langgar. Ia pun mulai membereskan tempat itu dengan cepat. Setelah semua murid ngajinya telah hadir, pengajian pun dimulai. Kebetulan, pada sore itu Ustad Yusuf bercerita tentang masalah akhlak yang tercela. Di antara yang disebutkan adalah berdusta dan mencuri.” Ia juga menambahkan bahwa barang yang dicurinya menjadi haram kendati awalnya adalah halal. Apabila ada makanan atau minuman haram yang masuk ke dalam tubuhnya maka Allah tidak akan mengabulkan doanya. Tak lupa—seperti biasa—Ustad Yusuf mengakhiri pengajiannya dengan menceritakan sebuah cerita. Tema kali itu adalah tentang diangkatnya Jaka Tingkir menjadi Raja Pajang oleh Sultan Demak.

Tetapi tanpa sepengetahuan siapa pun, sepulang dari pengajian itu Ujang tiba-tiba saja muntah. Setelah dengan susah payah, jarinya sengaja disodok-sodokkan ke dalam mulutnya.[]

Advertisements

14 thoughts on “Saksi Pencurian (Bagian 3)

  1. Baik itu dosa kecil apalagi dosa besar…hal ini sangat membuat hidup kita tidak tenang bila kita tidak punya sifat berbesar hati untuk berterus terang dan terbuka.

  2. >> Adi Nugroho : Silakan.
    >> Anjari’s Planet : Salam kenal kembali, Eyang. Sudah selesai kok.
    >> IbuDini : Ya, ketidaktenangan itulah kunci bahwa kita telah berbuat kesalahan.
    >> harestyafamily : Abang bukan tipe yang memberi simpulan. Silakan disimpulkan sendiri ^_^
    >> Mechta : Kalau mencerna lebih baik di dalam perut, tepatnya di lambung hehehe …
    >> Necky : Emang sudah berakhir. Terusannya bisa dilanjutkan masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s