Cinta Sepasang Angin

Mungkin kita hanya bisa bilang bahwa rumah megah dengan segala artistiknya itu adalah saksi. Alam pun bisa dijadikan sebagai saksi. Tapi siapa yang mau peduli? Dan begitulah kisahnya. Sang Maha telah menggariskan sesuatu tanpa seorang manusia pun tahu kalau hal itu sudah digariskan. Alam sebagai salah satu makhluk-Nya pun hadir hanya sebagai penambah artistik kehidupan manusia, sang khalifah bumi. Dan sekali lagi, inilah hidup.

Sebuah pasar, tidak akan pernah berubah sampai kapan pun. Selalu menawarkan keramaian yang mewarnai kehidupan manusia, bergerak, bergelombang, dan bersaing. Sangat ketat. Nilai-nilai bisa menjadi pajangan, tetapi bisa juga mendapatkan tempat yang amat mulia.

ANGIN:
Aku tidak habis mengerti. Dan mungkin
aku tidak akan sanggup mengerti.
O kehidupan. Hidupku.

Sekali lagi tentang jantung pasar. Namun kali ini, hampir tak seorang pun yang mau peduli tentang tiga orang yang sangat berbeda. Berdiri, saling berhadapan, antara seorang dengan dua orang yang saling merangkul. Memberikan sebuah arti tentang kehidupan. Real life.

ANGIN:
Ya, aku tidak pernah mengerti
dengan apa yang telah Anda berikan pada kami.

SEMESTA:
Jangan. Lebih baik jangan.
Jalani saja kehidupan ini dengan cinta itu.

ANGIN:
Tapi bisakah? Hanya dengan cinta.
Sedangkan kehidupan ini sangatlah keras,
saling menyikut, menjatuhkan, mematikan.
Dan Anda: saya tidak pernah tahu siapa.

SEMESTA:
Tentu saja bisa. Buktinya adalah engkau.
Kehidupan pun sebenarnya adalah cinta yang menjelma,
cinta yang melebur. Cinta yang hakiki.
Dan aku, tidaklah penting untuk diketahui.
Aku hanya lelaki asing yang senang mengembara,
menjalani kehidupan, dan meresapi kehidupan.

ANGIN:
Uang itu. Bagaimana aku dapat menggantinya?

SEMESTA:
Dengan kehidupan cintamu. Bersama Jelitamu
mengarungi kehidupan yang sebenarnya adalah samudera
cinta yang amat luas. Dan tunjukkan
bahwa kau pun bisa menjadi nahkoda
bagi kapal cintamu yang tengah berlayar ini.

ANGIN:
O kehidupan. Hidupku.
Sungguh aku tidak akan mampu mengerti.
Rahasia kehidupan yang amat kelam, terutama Anda
yang telah membeli kijang betina dengan harga
yang amat mahal dari Tuan yang berkuasa.
Hanya untuk memberikan teladan
terhadap orang-orang sepertiku.
Siapakah engkau, wahai Semesta?

Kehidupan. Ya, inilah kehidupan. Dan di dalamnya terselip sebuah misteri yang menunggu untuk dikuakkan. Tapi tidak sedikit misteri yang dibiarkan begitu saja, apa adanya. Manusia hanya menjalankan kehidupannya dengan garis yang sudah ditorehkan oleh Sang Maha, dengan rambu-rambu yang telah dipasang di setiap tepi jalan. Jantung pasar pun seolah-olah sunyi. Meninggalkan dua orang yang makin erat berangkulan, memandang dengan cinta (dan sebuah tanda tanya besar) akan seseorang yang begitu bersahaja di mata mereka, yang lambat laun menghilang di tengah hiruk pikuk pembeli dan pedagang.[]

Advertisements

13 thoughts on “Cinta Sepasang Angin

  1. >> Lina : Terima kasih.
    >> ratansolomj9 : Semoga masih banyak orang yang seperti itu …
    >> harestyafamily : Ini drama tiga babak sebenarnya. Dan ini babak terakhirnya ^_^

  2. Sempat spechless sejenak. Subhanallah. Indah sekali perumpamaan dan dalam sekali maknanya.

    Hakikat kehidupan adalah cinta, semesta dan segala isinya tercipta dari Cinta Maha Agung dari Sang Khalik

    Kita sebagai khalifah di bumi, sepatutnya memahami sifat Rahman Rahim Rabbul Izzati.

    Saya takut apakah SEMESTA dalam tulisan diatas mewakili Allah Subhanahuwata’ala. Karena sesungguhnya semesta yang kita ketahui hanyalah sebutir debu dari Kekuasaan Allah.

    Salam Kenal, terima kasih telah berkunjung ke blog saya, tentu saja saya mau menjadi sahabat sejati Bung Aswi

    πŸ™‚

  3. >> lyna riyanto : Terima kasih. Semesta itu mewakili tokoh manusia, sama halnya dengan Angin. Awalnya, tokoh ini bernama Lelaki Tua tapi kemudian diganti Semesta yang lebih nyaman dan dekat dengan tokoh Angin … ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s