Lebih Nikmat dari Seks

: kenikmatan
bisa jadi bernilai subjektif

Sudah lama sosok itu tidak menulis tentang teori menulis. Akan tetapi apa yang Anda baca ini bisa jadi memang teori, namun tidak bagi sosok itu. Apa yang dituliskan di sini memang sudah dipraktikan dalam hidupnya sebagai seorang penulis. Sudah masuk ke dalam tataran membuktikan sehingga kenikmatan menulis tidak hanya bertemu pada titik klimaks seperti halnya seks tetapi sudah masuk ke dalam wilayah jauh lebih hebat dari hanya sekadar klimaks.

Nikmatnya berdiskusi pun ternyata masih saja ada gangguan meski dilakukan terhadap pasangan yang kita cintai. Gangguan yang terjadi pun bisa bermacam-macam, bahkan dari pasangan kita itu. Namun dalam menulis tidak ada gangguan dari mana pun kecuali dari diri kita sendiri. Dan benar adanya jika Jules Renard mengatakan, “Writing is the best way to talk without being interrupted.”

Meski kadang menjadi hal yang bisa kalau dalam sebuah diskusi ada interupsi, tetap saja hal itu sangat menjengkelkan. Padahal, bisa jadi apa yang ingin kita sampaikan belum semuanya dikemukakan. Akibat dari interupsi itulah apa yang ingin kita bicarakan pun menjadi hilang atau lupa sama sekali. Nah, di sinilah nikmatnya menulis. Sampai kita bisa menulis semua yang ingin ditulis, dijamin tidak ada yang akan menginterupsi. Jelas kenikmatan melebihi batas klimaks.

Namun demikian, meski menulis itu begitu nikmat dan menggairahkan, tetap saja beberapa orang takmampu mencapai batas itu. Banyak sekali alasan yang mereka kemukaan seperti masalah waktu atau masalah ketidakmampuan. Hey, bukankah alah bisa itu karena biasa? Bukankah dengan sering menggowes maka bersepeda pun menjadi begitu mudah dan menyenangkan? Coba belajarlah pada Gene Fowler yang mengatakan, “Writing is easy: All you do is sit staring at a blank sheet of paper until drops of blood form on your forehead.”

Ya, begitu saja. Tataplah kertas kosong yang ada di hadapan Anda, lalu biarkan pikiran Anda berimajinasi seliar-liarnya. Imajinasi yang liar akan membawa Anda pada nuansa hutan yang bisa diterobos dengan menikmati suara kicauan burung dan serangga, suara gemericik air atau gesekan dedaunan, atau sensasi berhadapan dengan ular berbisa. Tangkap dan arahkan imajinasi itu pada jalan setapak yang akan membawa Anda pada pesona air terjun yang masih perawan. Dan lihatlah … bagaimana kertas yang tadinya masih polos sudah penuh dengan catatan ide-ide Anda yang brilian.[]

We write to taste life twice, in the moment and in retrospection.” ~Anaïs Nin

Advertisements

22 thoughts on “Lebih Nikmat dari Seks

  1. Assalamualaikum, Wahai kekasih Allah yang teduh hatinya… kedatangan saya ingin sekedar berkunjung silaturahim serta merta (dalam rangka) Web Product Promotion untuk produk bros saya (I’m a manager). Sekiranya sudi untuk follow blog saya dan dapat bertukar sesuatu yang bermanfaat di http://www.warnamuslimah.blogspot.com , kunjungi pula blog induk http://www.siteislami.co.cc . semoga mampu mempererat rasa cinta antar saudara se-iman di dunia. Allahumma amin.

  2. Iyaaa, saya suka nulis karena terkadang menulis bisa menjadikan saya apa saja yang saya inginkan…saya bisa jahat (kan kalau kehidupan sebenarnya you have to be good gitu..) saya bisa rebut pacar orang (wong cuma fiksi) dan saya bisa mencium kekasih saya (hiks…wong cuma puisi)

    Menulis memang memberikan satu kenikmatan yang tiada tara sehingga dia bisa menjadi media therapy 😀

  3. >> siteislami : Wa’alaikumsalam … terima kasih atas kunjungannya ^_^
    >> Pendar Bintang : Itulah mengapa mata pena lebih tajam daripada senjata sebenarnya. Berhati-hatilah dalam menulis …

  4. tergantung tentang bagaimana, apa dan mengapa itu ditulis. bagi sebagian orang menulis dan mencurahkan pikiran menjadi sebuah bahan bacaan melebihi kenikmatan apapun. Tapi bagi sebagian yang lain tidak demikian.
    yang penting adalah tentang bagaimana memahami peran satu dengan yang lain.

    *koq makin panjang komen saya makin nggak nyambung yah?..
    pokoknya, hiduup menulis!!

  5. >> Gaphe : Wah, masukan yang sangat berharga, Phe. Memang, menulis itu dibutuhkan keinginan yang mendalam dari hati. Jika tidak, ya asa kosong aja tulisan tuh. Masih nyambung kok dan hidup menulis juga ^_^
    >> Lidya : Jangan terlalu liar, nanti malah susah nangkepnya hehehe …

  6. Aku juga berusaha menikmatinya Bang, meski kadang kenikmatan itu susah untuk dicapainya 😆

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  7. saat merasa senang, sedih, jengkel, dan tidak ada orang yang mau mendengar maka menulis bisa jadi obatny,hehe,, suka dengan postingan ini.. terima kasih Bang.. semoga saya selalu terus bisa menulis 😀

  8. >> Evan : Terima kasih karena telah suka dengan postingan ini, Evan. Teruslah menulis karena itulah energi yang kamu punya dalam menghadapi hidup yang amat keras ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s