Cerita Cinta

Kata-kata lembut yang kita katakan kepada pasangan kita tersimpan
di suatu tempat rahasia di surga: Pada suatu hari,
mereka akan berjatuhan bagaikan hujan, lalu tersebar,
dan misteri cinta kita akan tumbuh bersemi di segala penjuru dunia.
(Jalaludin Rumi)

Sepatu yang sedikit basah kuletakkan di atas rak. Tepat saat aku menutup pintu, hujan kembali mengguyur bumi. Aku bersyukur karena tubuhku tidak basah olehnya. Tuhan memang telah mengatur semuanya. Kutatap ruangan yang terasa lengang ini. Kuhirup nafas dalam-dalam. Ruangan cintaku. Aku semakin tenang, apalagi cintaku masih menungguku di dalam kamar itu. Ya, istriku adalah cintaku.

Dengan langkah perlahan, aku berjingkat menuju ke kamar depan. Kubuka sedikit pintu kamar cinta itu, dan mengintip cintaku yang sedang tertidur lelap. Ah, cintaku. Tidak berubah sedikit pun warna wajahmu yang bersahaja itu. Tidak terasa mataku mulai mengabut. Lagi-lagi aku teringat dengan peristiwa itu. Peristiwa puluhan tahun yang lalu. Peristiwa menyedihkan yang pernah kami alami sekali seumur hidup, ketika susahnya mendapatkan uang, bahkan untuk makan satu hari pun!

Sepulang mencari nafkah, aku dikejutkan oleh perlakuan istriku. Ia menghidangkan kue brownies yang istimewa. Anak-anak kami terlihat senang. Dalam hati aku langsung menghitung banyaknya gula, susu, dan bahan-bahan lain yang tidak murah harganya. Hatiku menggelegak, dan tiba-tiba saja aku sudah menggebrak meja makan itu sambil berteriak keras. Aku tidak peduli betapa kagetnya istri dan anak-anakku.

Aku pun segera berlari ke luar rumah, menuju Taman Mendung. Aku tidak tahu berapa lama aku berada di sana. Menjelang maghrib, istriku datang menyusul. “Bang,” katanya, “Abang tidak sendirian menghadapi kesulitan ini. Allah sedang menguji kita.” Dia diam sesaat. “Aku berjanji akan selalu mendampingi Abang dalam keadaan apa pun.” Dia berkata sambil menangis, tetapi suaranya tegas sekali. “Kalau Abang sudah siap untuk hidup bersama kami lagi, kami menunggu di rumah.” Kemudian ia mencium pipiku dan beranjak pergi. Aku sendiri diam termangu di tengah-tengah Taman Mendung yang semakin gelap.

Aku tidak tahu dan harus bagaimana saat itu. Bahkan, sempat terbesit dalam pikiranku untuk meninggalkan semuanya. Namun…, sudahlah. Aku menghapus airmataku yang sudah mengalir dan mencoba tersenyum. Perlahan-lahan pintu kamar cinta kubuka lebar-lebar dan aku berjingkat mendekati cintaku. Istriku bisa tahan mendampingiku selama masa sulitku, selama masa-masa paling sulit dalam hidup kami. Dan sekarang, yang sedikit bisa kulakukan untuknya adalah menghiburnya.

“Sayang,” bisikku sambil mengecup dahinya. Cintaku menggeliat dan membuka matanya. Mata yang selalu bercahaya. Aku segera memperlihatkan kue brownies yang baru kubeli dari supermarket, “Ini hadiah dariku.” Cintaku tersenyum. Kudekatkan kepalaku, dan ia pun mengecup dahiku. “Terima kasih, Bang.”

Aku tersenyum. Segera kuambil potongan kecil kue brownies dan menyuapkannya ke mulut cintaku. Cintaku pun menyambutnya dengan perlahan dan mengunyahnya secara perlahan pula. Kutatap matanya yang terus bercahaya. Cahaya cinta.

Aku berbisik, “Satu hal yang membuat kita merasa selalu kekurangan adalah cinta….” Tiba-tiba saja cintaku menahan bibirku dengan jarinya. Ia tersenyum. Cahaya matanya berembun. Aku pun tersenyum. Kami pun berbisik bersama, “…Dan satu hal yang tak pernah cukup banyak kita berikan adalah cinta.”

Aku berbahagia masih bisa bersama cintaku. Kuusap kepalanya dan kukecup lagi dahinya. Kupeluk ia erat-erat. Aku tak ingin cintaku tahu kalau aku sedang menangis di dalam hati. Sedih rasanya mengetahui kalau hidupnya sudah divonis dokter tinggal seminggu lagi … karena kanker pankreas yang menggerogotinya.[]

Advertisements

20 thoughts on “Cerita Cinta

  1. terperanjat pada awalnya…kukira ini nyata…
    terkaget di akhir…akhir yg menyedihkan…
    tapi itulah nyatanya…kanker…(br saja kehilangan seorang yg menderitanya…)…

  2. bisa jadi fiksi, bisa jadi nyata…
    Bisa saja ada istri entah di belahan mana bumi ini, yang mengidap kanker pankreas atau kanker lainnya…
    dan kuberdo’a semoga sang istri terus ditemani oleh suami tercinta dalam meningkatkan kualitas hidupnya di masa-masa akhir…

  3. >> PuteriAmirillis : ^_^ turut berduka cita ya …
    >> irfanandi : Kacanya dijual, gak?
    >> yoriyuliandra : Ya, dinikmati saja hehehe ….
    >> Lidya : dan sosok itu yang suka membaca.
    >> bundamahes : Iya.
    >> @zizydmk : Tapi bisa jadi ada di dunia yang sebenarnya.
    >> Orin : Kebetulan saja ^_^
    >> IbuDini : Amiiin.
    >> Kakaakin : Betul dua-duanya. Amiiin ya Allah … terima kasih atas doanya, Kaka.

  4. membaca tulisan ini, mengingatkanku pada seraut wajah yang selalu menghias di pelupuk mata yang kini telah damai di sisi Sang Maha Pemilik Cinta. Semoga Allah menjadikannya ahli syurga, dan kelak bila tiba masanya, kami bisa kembali merajut cinta dalam segala kenikmatan syurga. amin.

  5. >> elsa : Maaf ya kalau menyedihkan ^_^
    >> Abi Sabila : Amiiin, Mas. Semoga Mas dikuatkan dalam menempuh sisa hidup ini. Insya Allah …
    >> tunsa : Hidup itu tidak selalu ceria, selalu ada sedih juga …

  6. Selamat malam Bang Aswi,

    Ini kunjungan balasan, kunjungan saya prtdana ke sini. Terima kasih kunjungan bang Aswi di blog saya. Apakah di daerah Bang Aswi jugam dipanggil Akang Aswi??

    Senang bisa bergabung di blog ini. Ternyata kita sama2 pencinta satera. Hanya bedanya bang Aswi baru mulai menulis th. 2000 sekarang sudah menelurkan 45 buku sastera. Itu prestasi yang tinggi!. Sedang saya sendiri sejak muda sampai lansia ini hanya konsumen sastera. Ha, ha, haa. Yang merasa prihatin masa sekarang ini jarang saya temukan novel berbahasa Jawa yang bernilai sasterawi.

    Membaca tajuk Cerita Cinta semacam cerpen, ini menunjukan bang Aswi senang menulis ending cerita unhappy-ending dengan kejutan sedih di belakangnya. Dulu pada waktu saya semuda bang Aswi juga senang bikin ending unhappy. Banyak ibu2 muda yang protes! Novellet tulisan saya th 1976 saya coba tulis versi bahasa Jawa aslinya unhappy-ending, iseng2 saya kirimkan ke majalah bahasa Jawa dimuat secara bersambung
    (aslinya 22 seri) lengkap dengan naskah endingnya 3 jenis. Yang dipilih redaksi ternyata bukan yang unhappy maupun yang happy, tetapi yang floating-ending (istilah saya), Ending dibuat mengambang, terserah pembaca, bisa happy, bisa unhappy. Kebetulan redakturnya wanita.

    Saya pernah survey kecil, hasilnya: pembaca puteri lebih senang happy-ending. Sedang pembaca pria …..??

    Tapi ada blogger yang komentar bila artikel Cerita Cinta ini kisah nyata:….alangkah indahnya dan berbahagialah utk keluarga ini…. Lho ini memandangnya dari sudut mana ya?. Jangan2 isteri Bang Aswi itu lebih dari satu,ya?! Ha, ha, haaaa Haiyaaaa

  7. ditinggal pergi kekasih hati.. tidak ada kata2 yang sanggup menggambarkan kesedihan yang dirasakan..

    seperti apapun akhir dari kisah ini, semoga yang terbaik 🙂

  8. >> Eyangkung : Selamat malam juga, Eyang. Memang, banyak yang menyukai kisah happy-ending karena berharap kehidupan yang seperti itulah akhir perjalanan mereka. Namun kita hidup di zaman realitas, dan takusah segan jika memang akhirnya takseindah yang dibayangkan. Survey yang hebat, Eyang. Saya sih melihat sudut pandang Ibu Dini dari kacamata kebersamaan, apapun hasil akhirnya. Itu juga yang diharapkan banyak orang.
    >> ‘Ne : Insya Allah memang yang terbaik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s