Sepeda: Saksi Bisu Sejarah

Membicarakan sejarah sepeda di Indonesia berarti kembali membuka lembaran kelam bangsa ini, penderitaan yang seakan tidak pernah berakhir bagi penduduk di masa kolonial bangsa asing di Indonesia. Sepeda dibawa masuk ke Indonesia oleh kolonial Belanda. Sebagai teknologi baru, sepeda segera saja menjadi primadona bagi priyayi pribumi, kolonial Belanda, serta kaum elite pedagang.

“Hal ini dibuktikan dengan tumbuh suburnya toko-toko sepeda di Hindia Belanda taklama sejak ditemukannya model transportasi ini. Dokumen berupa iklan di media cetak pada 1950 tentang Toko Sepeda NV Handel-Maatschappij ‘Lim Tjoei Keng’ menyebutkan bahwa toko tersebut sudah berdiri sejak 100 tahun sebelumnya, atau berarti tahun 1851. Iklan ini juga menerangkan toko tersebut memiliki cabang di ‘antero Java’ seperti Batavia, Bandoeng, Cheribon, Pekalongan, Tegal, Solo, Djogja, Semarang, dan Soerabaia.” [Kompas.com]

Keterangan lainnya menyebutkan bahwa popoularitas sepeda di Tanah Air itu juga dibuktikan dengan beredarnya katalog sepeda berbahasa Melayu, selain bahasa Inggris dan Belanda, yang memuat berbagai jenis onderdil sepeda pada tahun-tahun tersebut. Katalog itu diterbitkan oleh NV Handel en Industrie-Mij.V/h M. Adler, Prinsengracht 581/583, Amsterdam, pada April 1914 dan pernah dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta pada 2006. Katalog ini menjadi referensi penting para penggila sepeda tua hingga saat ini.

Asal kata sepeda menurut Columbia Encyclopedia berasal dari bahasa Latin yang terdiri atas dua kata, yaitu velox/veloc (cepat) dan pes/pedis (kaki). Orang Perancis masih menggunakan kata velo, sementara mereka yang menginduk ke bahasa Inggris memakai kata bicycle. Takheran kalau Malaysia mengadopsi kata tersebut menjadi basikal. Orang Portugis masih tetap menggunakan kata velocipede dan membawa nama tersebut ke Indonesia. Lidah yang tidak pas bagi tiap-tiap suku di Indonesia pada akhirnya menciptakan banyak istilah.

Orang Sunda lebih memilih kata sapedah. Sebagian orang Aceh menyebut sepeda dengan keutangen atau keutanging yang merupakan penyebutan singkat dari keureta angen atau kereta angin. Orang Jawa lebih sederhana, yaitu dengan kata pit (lanang dan wedhok) yang berasal dari bahasa Belanda, fiets. Pada masyarakat kita, sepeda lawas dikenal dengan beberapa nama seperti ontel, jengki, kumbang, dan sundung. Namun semuanya memiliki makna yang sama, yaitu merujuk pada sepeda dengan model tinggi. Sebagai contoh, jengki berasal dari kata jingke (Betawi) yang artinya berjinjit (untuk menaiki sepeda). Kalau ontel, ya karena sepeda itu harus di-ontel atau dikayuh.

Tidak banyak generasi muda Indonesia sekarang yang mengetahui bahwa sepeda sebenarnya bukan hal yang baru sebagai alat transportasi di negara ini. Sementara mereka merasa aneh dengan keberadaan ojek sepeda di Kota Tua (Jakarta Barat), Stasiun Senen, Tanjung Priok, atau di sekitar Ancol. Pada masa kolonialisme, sepeda digunakan sebagai alat transportasi utama, sekaligus membantu pekerjaan di pemerintahan kolonial. Dahulu, para bangsawan sangat bangga jika pergi berkeliling mengecek kebun atau tanah dengan bersepeda, termasuk melancong dengan sang kekasih. Layaknya mobil pada masa kini, sepeda saat itu ikut menentukan ‘derajat’ kehidupan seseorang. Sepeda bermerek BSA, Humber, Rudge, dan Raleigh bahkan disimbolkan sebagai kendaraan kaum priyayi dan tuan tanah.

Pada saat Jepang mulai menjajah Indonesia, terjadilah kepanikan Belanda terhadap para pengguna sepeda di Indonesia. “Saat invasi Jepang pada 1942, pemerintah kolonial Belanda menginstruksikan warga Pekalongan untuk mencopot rantai sepedanya dan membuangnya ke sungai. Hal itu karena dikhawatirkan sepeda-sepeda tersebut akan digunakan bala tentara Dai Nippon untuk mempercepat pergerakannya menguasai Pulau Jawa. Kutipan ini menjadi salah satu petunjuk bahwa memang pada masa Pra-PD II di Indonesia budaya bersepeda sebagai alat transportasi utama sudah sedemikian berkembangnya dan populasinya juga sudah cukup banyak.” [Kompas Minggu, 27/6/2010]

Sumber: travelBOX newsletter edisi 1 – Agustus 2010

Advertisements

18 thoughts on “Sepeda: Saksi Bisu Sejarah

  1. Bang Aswi..punten baru mampir yah..
    biasa sibuk off line neh..qiqiiq..

    tau ga bang aku paling seneng sepeda2an,jamannya SMA tuh sekolah pernah naik sepeda,ahh pokona mah suatu kenikmatan..
    cuma sekarang aja jarang2,qiqiiq..*malas*..

  2. >> Puteriamirillis : Pertamax sekarang mahal! Bensinnya cukup nasi saja ^_^
    >> Lidya : Ini lagi ikut2an …
    >> Nchie : Oalah! Three Musketeers!
    >> Nchie : Harus ada resep baru kalau begitu. Ditunggu ya?! Hayu atuh, di CFD lah!
    >> Puteriamirillis : Doh!
    >> harestyafamily : Sama-sama …
    >> Asop : Di mana mirip kumbangnya ya?

  3. >> djangan pakies : Ya, bisa jadi memang seperti itu.
    >> bundamahes : mbulet!
    >> Sya : Saya pun juga begitu, tapi lebih banyak enaknya ^_^

  4. Yang namanya speda bagaimanapun bentuknya, roda dua atau roda satu, atau roda dua ditambah dua roda kecil di kiri-kanan, pakai motor maupun tidak. Saya termasuk orang yang tidak beruntung. Setiap melihat speda dan speda motor, saya hanya bisa berdamai di impian……

  5. Sepeda adalah simbol Kesederhanaan, yang merupakan cikal bakal/tonggak dari semua Industry Trasportasi yang ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s