Tulislah Apa yang Anda Tahu

Salam, naskah cerpen Anda, “Jeritan di Tengah Malam”, telah sampai di tangan saya untuk dinilai. Saya juga sudah membaca surat yang Anda sertakan bersama cerpen itu. Anda katakan bahwa Anda sering merasa tertekan dan terkucil karena tinggal di kota kecil dan bekerja menulis cerita. Saya paham. Kapan pun, menulis adalah pekerjaan yang sunyi. Pastilah sepi rasanya jika Anda satu-satunya orang yang menulis dalam radius bermil-mil. Saya gembira Anda melihat iklan kami di surat kabar, dan saya berharap bahwa ulasan saya terhadap karya Anda akan mengilhami Anda untuk menulis lebih banyak lagi. Sebenarnya, penciptaan cerita itu sendiri merupakan semacam jaminan melawan sepi karena Anda dapat menciptakan tokoh-tokoh yang terlibat dengan Anda. Lalu ketika karya Anda diterbitkan, Anda akan berkomunikasi dengan segala macam orang yang belum Anda kenal. Dalam The Cinderella Complex, Colette Dowling menulis: “Yang memaksa saya mulai menulis adalah, saya tidak ingin lagi sendirian.”

Dalam cerpen yang Anda kirimkan, Anda menggambarkan sekelompok tokoh yang menjanjikan. Amelia yang suka ikut campur itu betul-betul tokoh yang kuat dan menarik. Segera saya merasa kenal dia. Dia mendominasi cerita itu, walau Anda tidak bermaksud menjadikannya tokoh utama. Mengapa tidak jadikan saja dia tokoh utama? Sering ketika seorang penulis bersiap menulis sebuah kisah tentang suatu hal atau seorang tokoh, hal lain atau tokoh lain yang betul-betul berbeda mulai mengambil alih kendali. Penulis fiksi memiliki kebebasan untuk membiarkan cerita mengambil arah sendiri. Setelah lebih berpengalaman, Anda akan mampu menyeimbangkan kebebasan dan kendali yang berbeda-beda yang terdapat dalam bisnis penulisan.

Pertama-tama saya ingin meringkaskan alur (plot) cerita Anda:

Di tengah malam, sekelompok tetangga mendengar jeritan. Dalam bayangan mereka, telah terjadi sesuatu yang mengerikan. Akan tetapi, ada penjelasan yang sederhana, menyedihkan, namun lucu untuk keributan ini.

Alur cerita ini tidak begitu kuat, dan tokoh-tokohnya merugi karena dipaksakan masuk ke dalamnya. Tampaknya Anda memikirkan alur ceritanya terlebih dahulu, baru kemudian memasukkan tokohnya. Mungkin tidak ada lagi alur cerita yang baru. Alur cerita Anda lemah bukan karena sudah lazim, ia lemah karena Anda meminjamnya. Saya tahu Anda tidak pernah berpikir: “Nah, alur mana yang bisa saya pinjam kali ini?” Peminjaman ini datang kepada kita tanpa disadari. Ia menyelinap diam-diam dan jika kita mengalah pada godaan untuk meminjamnya dan memaksakannya ke dalam tulisan kita maka tulisan kita akan menderita.

Hanya ada satu sumber yang tersedia sebagai bahan fiksi Anda. Sumber tersebut adalah pengalaman Anda sendiri, kehidupan Anda sendiri, kenangan Anda sendiri, mimpi Anda sendiri, dan imajinasi Anda sendiri. Amelia si usil mungkin mirip dengan seseorang yang Anda kenal atau pernah Anda kenal, dan dia kuat serta vital dalam kisah itu. Sebelum menuangkan tokoh atau situasi lain ke atas kertas, Anda harus menelaah ingatan Anda. Saya sarankan Anda menyempatkan diri beberapa menit untuk mengingat masa kecil Anda. Ingatlah rumah yang Anda tinggali ketika berumur enam tahun. Ingatlah orang-orangnya, makanannya, mainannya, kebunnya, suaranya, baunya. Adakah peristiwa yang melekat dalam ingatan Anda tentang masa itu? Anda dapat dengan tenang melanjutkan memikirkan masa lampau dan mulai menulis sebuah laporan tentang kejadian dari masa kecil Anda. Mulailah dengan kata-kata: “Aku ingat sewaktu….”

Inilah latihan pertama yang saya berikan kepada para siswa yang mengikuti kelas saya untuk mempelajari penulisan fiksi. Latihan ini cukup sederhana, Anda pasti berpikiran begitu. Akan tetapi, ada saja yang menganggapnya sukar. Ada siswa yang sedemikian takut dan terkejutnya dengan apa yang mereka ingat dan apa yang mereka tulis dan apa yang mereka temukan dalam penulisan itu, sehingga mereka meninggalkan kelas itu selamanya atau lama tidak kembali. Mereka datang ke kelas menulis fiksi untuk mengungkapkan dan membuka kenangan serta perasaan mereka sendiri. Bagi saya, mereka agaknya berpikir: “Oh, saya ingin menjadi Agatha Christie atau David Malouf; saya tidak mau menjadi saya.” Alasan yang kadang mereka berikan atas ketidakhadiran mereka sering merupakan fiksi yang menarik. Seorang siswa mengatakan dia mau berhenti kursus karena keberatan dengan cara saya berpakaian. (Cara saya berpakaian terlalu flamboyan baginya. Di kelas yang diajar penulis lain, ada siswa yang berhenti kursus karena tidak percaya pada pria berbaju coklat.) Akan tetapi, banyak siswa menemukan bahwa latihan itu menempatkan mereka pada jalan penemuan-diri yang bisa mengarahkan ke penciptaan fiksi.

Ini bukan berarti saya beranggapan bahwa semua fiksi merupakan laporan peristiwa yang bersifat autobiografis, atau bahkan bahwa fiksi berpijak pada kehidupan yang diingat si pengarang. Yang saya katakan pada tahap ini hanyalah pengalaman saya dengan para siswa menunjukkan bahwa pendekatan yang manjur dan awal yang baik untuk menciptakan fiksi adalah lewat penjelajahan kehidupan si penulis. Kenangan masa kecil hanyalah permulaan, hanyalah latihan pertama yang penting dalam perkembangan Anda sebagai penulis fiksi.

Untuk memberi gambaran tentang menemukan bahan cerita di antara pengalaman hidup Anda, berikut ini sebuah kisah dari cerita Seribu Satu Malam:

Seorang pedagang di Bagdad tinggal di rumah berhalaman marmer abu-abu, di jalan berbatu yang dipagari pohon palem. Di ujung halaman rumah itu, di bawah pohon anggur yang sedang berbunga, ada air mancur berhias marmer putih. Suatu malam pedagang itu bermimpi. Dalam mimpinya, dia disuruh berangkat ke Kairo untuk mencari peruntungan. Maka berangkatlah dia. Di Kairo dia jatuh tertidur di halaman masjid dan dituduh mendobrak dan merampok rumah sebelahnya. Dia dipenjarakan dan dia bercerita kepada kepala polisi bahwa dia hanya mengikuti mimpinya.

“Bodoh,” kata kepala polisi itu, “ke mana mimpimu itu membawamu selain ke penjara? Saya sendiri bermimpi tiga kali, tetapi saya tidak akan sebodoh itu memperturutkannya.”

“Apa yang dikatakan mimpi Anda?”

“Mimpi saya menyuruh saya ke Bagdad. Di sana saya akan menemukan rumah berhalaman marmer abu-abu. Di ujung halaman, di bawah rerimbunan anggur, terdapat air mancur berhias marmer putih. Di bawah air mancur terkubur harta berlimpah.”

Tanpa berkata apa-apa, pedagang itu kembali ke rumahnya, menggali di bawah air mancur, dan menemukan harta karun.

Saya tidak sepenuhnya lupa tentang “Jeritan di Tengah Malam”. Saya berusaha menunjukkan hal yang menurut saya merupakan kesalahan pertama tempat Anda terjeblos—yakni mencari cerita Anda di tempat yang salah. Boleh dibilang, cerpen Anda berada di dalam diri Anda, dan selama ini Anda mencarinya hanya di luar. Anda harus melihat pengalaman Anda sendiri sebagai bahan cerita. Dunia luar memang memberi Anda ilham dan gagasan, tetapi tulisan Anda baru akan berhasil jika Anda mulai memahami bahwa kehidupan Anda sendiri merupakan titik pusat karya Anda. Saya katakan “titik pusat”, maksud saya, hal yang esensial bagi Anda adalah inti tulisan Anda—begitu Anda masuk ke dalam karya Anda, Anda akan menemukan segudang imajinasi yang belum diungkapkan, dan tanpa permainan imajinasi, kumpulan ingatan sebanyak apa pun tidak akan menjadi bahan fiksi.

Dalam autobiografinya, Wild Card, Dorothy Hewett mengatakan bahwa mungkin hal terpenting yang pernah disampaikan kepadanya sebagai penulis adalah yang disampaikan Frank Hardy setelah dia menulis puisi mengenai topik yang jauh dari pengalamannya. “Demi Tuhan, Toddy,” kata Frank, “tulislah puisi tentang wafatnya ibumu, atau yang seperti itu.”

Dalam “Jeritan di Tengah Malam” Anda telah membuat awalan yang bagus—terutama, seperti yang saya katakan, dengan tokoh Amelia. Saya akan membahas sebagian masalah teknis dalam cerpen Anda di lain waktu. Sisihkanlah cerpen itu untuk sementara waktu dan berkonsentrasilah pada latihan yang saya sarankan dalam surat ini. Saya menunggu karya-karya Anda berikutnya.[]

~ Diambil dari buku Menulis dengan Emosi:
Panduan Empatik Mengarang Fiksi
karya Carmel Bird
(Penerbit Kaifa, 2001)

Advertisements

8 thoughts on “Tulislah Apa yang Anda Tahu

  1. wah wah, menulis fiksi ya. Saya memang tidak ada latar belakang sastra, dan pengetahuan seta teori penulisan, saya hanya menulis apa yg saya tahu dan pikirkan..

  2. sring muncul ide bgus bhkn bs smpe brlmbar2 klo dtuliskan tpi disaat yg tak tepat
    paling sring pas lg sibuk brjibaku di dapur.
    ga smpet nyatat. pas krjaan rebez, ah ilang deh
    tuh ide.

  3. >> Adi Nugroho : Tapi tidak ada salahnya belajar ^_^
    >> indahjuli : Terus belajar, Mbak. Insya Allah bisa …
    >> Mabruri Sirampog : Tapi setelahnya tidak akan kebingungan.
    >> dey : Bikin rambu-rambu kalau begitu agar tidak sering belak-belok …
    >> bangau putih : Nah, terus solusinya gimana tah? Makanya dicatat dengan media yang ada aja.
    >> Lidya : Insya Allah bisa.
    >> Puteriamirillis : Pasti ada yang tahu lah … masa gak tahu sama sekali sih … ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s