Pemerkosaan di Sekolah

apa lagi ini?
sebuah modus terkini
dari kecerdasan pemangku kebijakan
(yang) taklagi menunjuki jalan

Ketika kepentingan pribadi sudah merasa sulit untuk dipisahkan dari kepentingan bersama atau bahkan sudah sedemikian miripnya sehingga tidak tahu lagi mana yang kepentingan pribadi dan mana yang kepentingan bersama maka yang terjadi adalah kebenaran untuk menyebut kepentingan pribadi sebagai kepentingan umum. Dan inilah yang sudah terjadi (bahkan mewabah) mulai dari kalangan paling tinggi di negeri ini sampai ke kalangan paling bawah.

SDN Kacang Polong adalah salah satunya. Jasmine yang baru duduk di kelas 1 diperkosa hak-haknya. Pemerkosaan di sekolah itu tentu akan berimbas pada pandangan keluarganya, dan bisa jadi pada lingkungan di sekitarnya. Atas nama kepentingan bersama, sebuah acara sekolah pun dipaksakan harus diikuti oleh seluruh siswa mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Acara tersebut adalah piknik bersama ke luar kota yang jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Salah satu persyaratan yang sangat tidak masuk akal adalah orang tua murid tidak diperbolehkan ikut. Bagi siswa yang sudah kelas 4 ke atas, bisa jadi tidak bermasalah. Namun akan sangat berbeda jika hal itu diterapkan pada siswa kelas 1 atau kelas 2 dan 3. Kemandirian anak-anak yang masih duduk di kelas 1-3 jelas belum memungkinkan untuk bepergian ke luar kota tanpa ditemani orang terdekat (orang tua). Meskipun pihak sekolah menjanjikan ada pembimbing dalam tiap bus, seberapa jauh bimbingan atau pengawasan yang bisa mereka lakukan. Beberapa orang tua merasa pesimis.

Kejadian-kejadian lucu pun bermunculan setelah beberapa orang tua murid mengajukan keberatan. Salah satunya adalah pengumuman bahwa bagi siswa yang tidak mengikuti piknik (dengan nama yang diedukasikan agar perjalanan itu berkesan bermanfaat dan sesuai dengan tujuan sekolah) maka mereka dimungkinkan (bahasa halus dari ancaman) tidak akan naik kelas. Profesor Burung Hantu jelas akan terkejut dengan pengumuman itu dan segera mengumpulkan para prajurit Gahoole untuk menindaklanjutinya. “Sekolah apa ini?” Mungkin pertanyaan itu yang muncul di benak para orang tua.

Orang tua Jasmine tidak takut dengan ‘ancaman’ itu. Dengan adanya ancaman itu jelas semakin membuktikan bahwa peran sekolah telah menukik jauh ke dasar pendidikan yang sudah tidak relevan lagi. Ancaman tidak akan naik kelas bagi yang tidak ikut piknik malah bisa menjadi senjata makan tuan. Apalagi Tuan Charlie pernah bercerita bahwa sewaktu dia SMP pernah mengalami pengalaman serupa. Waktu itu dia tidak bisa mengikuti piknik perpisahan SMP karena tidak adanya biaya dan pihak sekolah menahan rapor SMP-nya. Tuan Charlie tidak peduli dan ternyata bisa masuk SMA pilihannya. Menjelang lulus SMA, ternyata ada guru SMP baik hati datang sambil membawa rapor SMP-nya. Rapor yang sangat didambakan Tuan Charlie sebagai bukti pendidikannya semasa SMP pada akhirnya kembali ke tangannya tanpa perlu perjuangan. Siapa yang malu?

Nah, kembali ke masalah Jasmine dan orang tuanya tadi. Pada akhirnya justru hampir semua orang tua murid di kelas 1 makin meradang dan melawan. Mereka tidak gentar dengan ancaman itu. Para orang tua pun sepakat akan mengumpulkan dana seadanya untuk diberikan pada Ibu Teratai—sang wali murid kelas 1 yang bersangkutan—sebagai bentuk penghormatan bahwa beliau adalah guru dan wali murid yang bertanggungjawab, bukan oknum yang mengadakan piknik tersebut. Artinya, para orang tua tidak merasa berkeberatan jika Ibu Teratai tetap dapat mengikuti piknik karena pastinya semua guru akan ikut.

Namun, inilah hebatnya Ibu Teratai. Oleh karena hampir semua siswanya tidak mengikuti piknik itu, dia pun juga memutuskan untuk tidak mengikutinya. Pada hari piknik, hampir semua penghuni SDN Kacang Polong bergegas menaiki bus menuju luar kota tetapi tidak dengan para siswa kelas 1. Mereka belajar tetap seperti biasanya bersama Ibu Teratai. Atas tanggung jawab itu, para orang tua pun memberikan penghargaan berupa materi pada Ibu Teratai sebagai ganti tidak bisa mengikuti piknik yang bersangkutan.

Kini, baik Jasmine dan teman-temannya di kelas 1 SDN Kacang Polong, baik orang tua Jasmine dan juga para orang tua lainnya, tetap merasa cemas dengan statusnya sebentar lagi. Apakah mereka semua atau beberapa tidak dapat naik kelas hanya karena kasus itu ataukah tidak dapat naik kelas karena memang belum layak. Wallahu’alam. Kita tunggu saja kelanjutan pemerkosaan di sekolah ini pada waktunya nanti.

NB: Kisah di atas adalah kisah sebenarnya. Namun demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan sehingga terpaksa difiksikan dan tujuan penulisan ini agar menjadi pembelajaran bagi semua pihak. Apalagi setelah kasus menghebohkan tentang dunia pendidikan kita baru-baru ini.

Advertisements

13 thoughts on “Pemerkosaan di Sekolah

  1. Ya ampun…ternyata sekarang wajah dunia pendidikan kita seperti itu yachhh? maklum aku udah lama ngga sekolah lagi…sementara anakku masih duduk di PAUD….smoga aja pihak sekolah tdk berani membuktikan ancamannya…atau kalau emang bener2 terjadi yg berarti murid kelas 1 ngga naik semua…tinggal panggil aja stasiun TV ….biasanya kalo masuk TV kasusnya jadi makin ramai hehehe….

    >> Amiiiin

  2. Semakin kedepan semakin tidak dimengerti….membayangkan anakku kelak duduk di SMP ATAU SMA…hmmmm

    >> Yang SD aja sudah pusing, apalagi tingkat yang lebih tingginya ya….

  3. sekolah bikin acara jalan2 dgn tujuan agar guru2nya bisa jalan2 gratis

    >> Salah satunya itu, sama dengan pejabat yang katanya studi banding

  4. Sekolah yang semena-mena.. Kepala sekolah dan tenaga pengajarnya patut dipertanyakan..

    >> Ih, kepala sekolahnya bisa jadi nggak tahu, mungkin harus ada diskusi dulu ya

  5. kenapa namanya “Jasmine”? hahahaha *pertanyaan ga penting :p

    kasus kayak gini juga sebenernya sering ada sih, bang. saya juga pernah ngalamin. tapi ga sampe segitunya sih. untungnya bisa diselesaikan dengan baik

    >> Hihihihi … kenapa coba? Iya, tingkat kesulitannya macem2 tergantung tingkat negosiasinya juga hehe

  6. hahahaha…putri…protes……namanya dikutip…..tenanglah put, sebenarnya bang aswi begitu terkesan sama elo makanya secara ga sengaja nama itu yg terlintas olehnya (benar khan bang???)

    >> Huehehehehe … bener banget tuh :p

  7. Hihihi…ikutan ketawa sm mas Necky ah..

    Mudah2an aja kasus2 beginian ga sering2 (atw hilang sama sekali) dari bangsa ini ya Bang. Aamiin..

    >> Mangga kalau mau ketawa. Amiiin.

  8. Pahlawan tanpa tanda jasa sudah jarang yang ada sekarang adalah semua untuk menjadi pahlawan harus ada tanda jasa ( uud… ujung-ujungnya duit)….

    >> Tetapi masih banyak yang layak disebut pahlawan tanda jasa. Di atas hanya sebagian kecil saja meski meresahkan pastinya

  9. Kasus ini sudah lama sekali, dan alhamdulillah endingnya tidak seperti yang dikhawatirkan. Jasmine sudah naik kelas dan kini sudah duduk di Kelas 4 ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s