Tampil Tanpa Grogi

Di antara kita banyak yang tidak bisa membedakan antara rendah hati dengan rendah diri. Rendah hati adalah sikap tawadhu atau tidak menyombongkan diri sendiri, sedangkan rendah diri adalah tidak mampu berdiri sejajar dengan orang di sekitarnya.

Suatu siang yang cerah, dalam sebuah rapat tim gabungan, Rahmat ditunjuk mewakili perusahaan untuk menyampaikan sebuah presentasi. Perasaannya gundah antara menerima atau menolak. Dalam hatinya terjadi perang “Baratayudha” yang amat dahsyat: kalau menolak, ini merupakan kesempatan kariernya. Tapi kalau menerima, sepanjang hidupnya ia belum pernah melakukan presentasi, apalagi di hadapan orang-orang yang belum pernah ia kenal selama ini.

Lain lagi dengan Gatot, pemuda tambun berkacamata ini lebih memilih mengantar barang ke seluruh wilayah Jakarta daripada harus menemui klien baru yang belum dikenal sama sekali. Ia selalu grogi, takut, dan cemas, ketika menghadapi hal baru. Gatot kurang pede setiap kali berhadapan dengan orang lain, terutama ketika ia harus menyampaikan ide, usul, atau mempromosikan produk-produk baru. Ia baru lancar berbicara ketika berhubungan dengan orang-orang dekat yang sudah lama dikenalnya.

Rahmat dan Gatot merupakan dua sosok karyawan yang telah mendapat kepercayaan dari perusahaannya. Ia tak mungkin diberi kepercayaan itu jika perusahaan tidak percaya atas kemampuannya. Rahmat adalah karyawan senior yang sudah lebih dari lima tahun mengabdi di perusahaan itu, sedang Gatot lebih lama lagi. Andai saja mereka berdua memiliki kepercayaan diri, bisa tegak berdiri sejajar dengan orang lain, tidak merasa terlampau tinggi di hadapan mereka dan juga tidak merasa lebih rendah, maka mereka akan semakin bersinar kariernya. Sayang, kedua karyawan yang berdedikasi tinggi itu selalu ‘mendiskon’ dirinya sendiri.

Ada tiga ‘kolesterol’ yang senantiasa menyumbat sistem berpikir dan perasaan manusia, sehingga menyulitkan hubungan yang efektif. Seringkali orang yang memiliki kolesterol diri semacam itu menyulitkan orang di sekitarnya, karena mereka tidak atau kurang memiliki sistem yang mampu menampung emosi-emosi beracun yang menyumbat kemampuannya dalam berhubungan dengna orang lain dengan cara-cara yang positif. Akibatnya, dalam jangka panjang persoalan ini akan melahirkan masalah-masalah profesional. Tiga kolesterol itu adalah:

1. Cemas

Kecemasan merupakan emosi yang menguras habis tenaga dan energi kita, yang membuat kita semakin terjatuh dari rasa damai dan harmoni. Cemas hanya membawa kita kepada situasi perang terus menerus, suatu kondisi psikologis yang melelahkan tanpa akhir.

Betapa hebatnya sebuah pesta, orang yang cemas hanya akan menikmati sedikit saja. Bahkan sajian makanan yang luar biasa, acara demi acara yang mengalir indah dan tertata dengan apik, tak cukup menjadikan “bokong” enak duduk di kursi. Ruangan ber-AC yang amat dingin sekalipun tak mampu menurunkan suhu badannya yang panas.

Toni untuk pertama kalinya ditunjuk mewakili kelasnya bermain sandiwara. Ia tidak takut untuk tampil di muka teman-temannya sendiri, hanya saja ia terbebani oleh tekana yang terlalu berat pada dirinya sendiri. Ia dihantui oleh perasaan, jika saya gagal memainkan peran dalam sandiwara itu, maka selamanya ia tidak akan pernah bisa tampail lagi. Akibatnya ia cemas, dan kecemasan itu menghalangi tanggapan emosionalnya sehingga penampilannya bukannya semakin baik, tapi justru semakin jelek.

Kecemasan dalam derajat tertentu merupakan hal biasa, banyak orang yang kinerjanya meningkat setelah mengalami stres. Namun demikian, jika kecemasan sudah sampai pada tingkatan tertentu, ia kan benar-benar mempengaruhi kinerja dan memperkecil kesempatan untuk meraih sukses.

2. Depresi

Masa lalu yang kurang menyenangkan bisa jadi merupakan sumber depresi. Kita semua pernah memiliki masa-masa depresi ketika baru sembuh dari dukacita. Orang yang kuat segera bangkit, merajut kekuatan, membangun nurani guna menghadapi tantangan baru dengan motivasi yang lebih tinggi.

Adapun bagi mereka yang lemah secara mental akan membiarkan depresinya menguasai keberadaannya, sehingga menjadi kolesterol dalam sistem emosinya. Mereka tidak mampu lagi menyadari potensi dirinya, juga tidak punya kemampuan untuk menggairahkan hidupnya. Dalam keadaan seperti ini bantuan profesional merupakan jalan keluar yang terbaik. Depresi tidak boleh berlarut-larut.

3. Malu

Malu merupakan emosi yang sulit dipecahkan karena bersemayam di dalam sanubari paling dalam dan menyebar bagai virus. Orang lain, bahkan diri kita sendiri kadang tidak mengetahui mengapa kita menjadi minder dan merasa kurang berharga.

Perasaan malu kadang-kadang membuncah ketika kedok kita terbuka karena tidak mengetahui sesuatu yang seharusnya kita ketahui. Apalagi jika sampai ada yang mengadili kita di depan publik atas perbuatan yang menyebabkan bencana bagi orang lain. Perasaan malu, bahkan kadang datang tanpa sebab. Ia datang begitu saja.

Perasaan ini tentu saja merupakan kolesterol emosi yang bisa menghambat kinerja. Kita harus berusaha keras untuk membakar kolesterol itu, bahkan kalau bisa, mengubahnya menjadi energi positif yang sangat berarti bagi pengembangan karier kita sendiri.[]

Baca juga artikel yang berkaitan atau melihat daftar isi

Advertisements

3 thoughts on “Tampil Tanpa Grogi

  1. pengalaman Rahmat dan Gatot juga pernah menyerang saya bang. Namun dengan seringnya mengikuti seminar seminar yang dilakukan oleh teman-teman, timbul keinginan dari dalam diri. Kalau teman itu bisa kenapa saya tidak ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s