Repost: Mari Berperang!

Mari kawan, singsingkan lengan baju
Tembus hutan dan lumpur tak bertuan
Tak peduli peluh dan darah…
Karena peluh sudah memang sewajarnya
Sedangkan darah hanya masalah kecelakaan semata
Mari … angkat SENJATA!

Time : 07.00 – 08.00 Beberapa anggota Brigade 71 berkumpul di Markas Komando Syaamil. Perbekalan segera dipersiapkan. Ransum utama pun didapat dengan sangat sulit. Perlu strategi yang matang (termasuk waktu yang ‘in time’) agar mendapatkan jumlah dan jenis yang pas. Kesalahan sedikit saja berakibat fatal. Beberapa anggota dihubungi untuk memastikan kehadiran dan posisinya. Tidak ada yang tidak penting dalam sebuah tim. All for Team dan Team for All. Konsep kedatangan di titik aman Pos Utama Oray Tapa sangat penting untuk sebuah penyerangan mendadak. Apalagi musuh masih tidak diketahui identitasnya. Bisa saja kawan kita sejak kecil adalah musuh dalam selimut. Ingat itu!

Time : 08.00 Ransum utama telah terpilih. Pocari Sweat 500 ml sebanyak satu dus sudah dianggap cukup memenuhi kebutuhun semua anggota, apalagi ditambah dengan air gelas 220 ml yang juga sebanyak satu dus. Lebih dari itu dikhawatirkan malah menghancurkan strategi yang sudah dibuat matang seminggu sebelumnya. Beberapa anggota memang berharap lebih, tetapi komandan sudah ketok palu. “Lain kali saja,” ujar sang komandan memberi alasan, “pada Operasi Kuliner IV akan terjawab semua keluhan kalian. Target operasi sedang dilacak. Jadi, pusatkan perhatian kalian hanya pada penyerangan ini.”

Time : 08.00 – 08.30 Komandan membagi anggota Brigade 71 menjadi tiga kelompok. Kelompok I dengan kode Bebek Loreng berangkat lebih dahulu dan diberi tugas untuk mengamankan sektor Pos Cadangan Oray Tapa. Kelompok II dengan kode Perkutut Merah diberi tugas untuk ‘sweeping’ jalur utama agar tidak ada mata-mata maupun musuh yang akan menyerang tiba-tiba. Kelompok III dengan kode Ayam Hitam bertugas menunggu pimpinan tertinggi Brigade 71 di Pos Ars yang sedikit terlambat dikarenakan harus memecahkan kode rahasia “Kegilaan Sang Einstein”. Perlu diketahui hingga sekarang pun masalah itu masih belum terpecahkan, termasuk usaha beberapa agen rahasia dunia seperti CIA dan FBI yang bahkan, harus perlu mendatangkan otak sang jenius tersebut untuk ditelaah lebih lanjut.

Time : 08.30 – 09.00 Brigade 71 akhirnya tiba di Pos Cadangan Oray Tapa. Bebek Loreng, Perkutut Merah, dan Ayam Hitam kembali berkumpul untuk kembali membentuk Pasukan Elite Brigade 71. Anggota kembali dihitung dengan teliti agar tidak satu pun yang bisa nitip absen. Setelah lengkap, Brigade 71 kembali dipecah agar pemberangkatan ke Pos Pusat Oray Tapa bisa terlaksana sesuai jadwal. Perlu diketahui, bahwa jalur Pos Cadangan menuju Pos Utama Oray Tapa memerlukan kehati-hatian ekstra tinggi. Boleh dibilang, jalur ini sudah masuk dalam kategori Tanah Merah alias daerah kekuasaan musuh. Sebutan itu bukan tanpa alasan, salah satunya adalah memang tanahnya berwarna merah. Kelompok Ular Hijau diarahkan untuk membawa kendaraan tempur, sedangkan Kelompok Belut Biru diarahkan untuk membawa perbekalan melewati tebing curam.

Time : 09.00 – 09.15 Kelompok Belut Biru benar-benar mengalami medan yang curam. Begitu pula dengan Kelompok Ular Hijau harus menghadapi jalanan yang penuh ranjau. Kopral Tio dari Kelompok Ular Hijau pun terkena ranjau. Dia memang selamat, tetapi harus tertatih-tatih hingga berhasil sampai ke Pos Utama Oray Tapa. Kendaraan tempur yang kami bawa tidak lagi bersih. Semua penuh dengan noda lumpur. Pakaian Kelompok Belut Biru pun robek-robek (untung saja Mas Tukul tidak ikut, bisa jadi pakaian kami malah tambah parah disobek-sobek). Nafas kami tinggal satu-satu saat melewati jalur yang sangat curam. Tapi … itulah perjuangan. Segalanya harus dibayar mahal kalau ingin berhasil. Brigade 71! SIAP!

Time : 09.15 – 09.45 Selesai briefing, semua personil Brigade 71 langsung bergerak menuju zona tempur. Tak ada main-main di sini. Semuanya harus serius. Kalau tidak, pulang tinggal nama. Kami, Brigade 71 serius untuk perang. Tidak ada istilah main perang-perangan. Hal itu sudah kami lakukan waktu kecil dahulu. Sekarang, kami serius berperang. Dengan senjata. Dengan peluru. Dengan strategi. Dengan kawan. Dengan lawan. Di medan pertempuran yang ganas. ORAY TAPA. Tempat ular-ular bertapa! Ingat siapa kawan dan siapa lawan, tetapi juga harus hati-hati dengan musuh dalam selimut laksana serigala berbulu domba, bukannya kura-kura dalam perahu. Salah sedikit semua hancur. Camkan itu, kawan!

Persiapan semakin dimatangkan!
Senjata-senjata pun digelar!
Pertempuran segera DIMULAI!
Inilah senjata
Sarana terbuas yang pernah ada
Di sini ia begitu saja
Bergeletak seperti tiada
Siap dipilih dan … MENYALAK!

Time : 09.45 – 10.00 Hampir terlupakan bahwa Brigade 71 adalah salah satu pasukan elite yang bermarkas di Jl. Babakan Sari 71. Tempat di mana Markas Komando Syaamil berdiri kokoh. Brigade 71 pun bersiap. Senjata-senjata berserakan dan siap untuk dipilih. Semua anggota memeriksa senjata yang ada. Ini sangat perlu, jika tidak ingin ada yang celaka. Dan … celaka berarti kematian! Setelah dicoba-coba, beberapa anggota yakin dengan pilihannya. “Biar senjata yang memilih siapa tuannya.”

Senjata pun terpilih. Sang Komandan pun memberikan perintah agar momen ini segera diabadikan. Ia tahu kalau setelah pertempuran, anggotanya tidak akan lagi sempurna. Beberapa akan gugur dan beberapa yang lain berhasil kembali ke rumah masing-masing dengan wajah tertunduk. Dengan senjata terpilih, semua anggota pun segera memasang posisi yang dianggapnya gagah. Inilah semua anggota Brigade 71 yang gagah. Akan diingat sepanjang masa hingga ke generasi ke sekian yang tidak akan terbayangkan sebelumnya. Semoga….

Pemilihan grup-grup kecil pun dimulai. Sang Komandan memberi perintah bahwa pembagian grup ini bukan untuk memecah belah pasukan, tetapi lebih untuk memaksimalkan penyerangan. Masing-masing grup atau kelompok kecil yang terdiri dari 5-6 orang pasukan elite diberi nama sesuai dengan spesialisasi tertentu. Mereka adalah Won-Won, Gerombolan Grok-Grok, dan Tio Macan!

Time : 10.00 – 12.00 Ketepatan waktu sangat perlu dimatangkan. Hitungan tiap detiknya adalah sangat berharga. Masing-masing anggota pun menyetel kembali jam tangan masing-masing agar tidak ada yang melenceng. Target operasi tidak mengindahkan adanya keterlambatan 1 detik pun. Semua harus tepat waktu, apa pun yang terjadi. Masing-masing anggota sangat memahami hal itu. Tak heran kalau pada masa ini tidak ada momen yang diabadikan. Semua anggota terlalu bertanggung jawab atas tugas masing-masing. Terlalu sibuk dengan nyawa yang dipunyainya. Namun, entah bagaimana masih ada saja wartawan perang yang tergila-gila (baca: nge-fans) untuk mengabadikan salah seorang anggota Brigade 71 yang dikenal dengan nama sandi ASWI.

Time : 12.00 – 12.30 Berhasil! Target operasi sesuai dengan apa yang direncanakan. Ratusan peluru sudah terbuang dan mesin-mesin senjata pun telah memanas dan mengepulkan asap. Beberapa anggota gugur sebagai seorang patriot. Keluarga pasti akan berbangga dengan mereka dan akan dikenang sebagai seorang pahlawan. Beberapa sisanya luka-luka dan selamat tanpa kurang satu apa pun jua. Brigade 71 pun pulang dengan dada membusung. Bangga dengan hasil peperangan, meski beberapa harus dipapah dan pincang-pincang. Seperti yang terlihat, hanya tinggal beberapa anggota Brigade 71 saja yang pulang dengan selamat. Begitu pula dengan wartawan perang yang makin tertinggal jauh karena luka-luka yang dialaminya.

Biarlah momen ini masih tetap dikenang dengan manis. Bahwa pernah ada Brigade 71 yang begitu gagah maju menyergap markas musuh di kawasan tersulit bernama ORAY TAPA. Biarlah keluarga yang ditinggalkan merasa bangga bahwa ada panutan mereka yang berjuang demi membela tanah air. Sedih memang. Tetapi di balik itu semua selalu terselip memori yang tidak pernah akan hilang. Dan momen ini adalah salah satu contohnya. Kegembiraan semua anggota Brigade 71 sebelum tercerai-berai. Salam 71!

Time : 12.30 – ….

Tak ada nyawa yang tersia
Tak ada peluru yang percuma
Tak ada kata yang begitu saja
Semuanya adalah makna
Begitu dalam dan terus bergema
Sampai jumpa … KAWAN!

NB: Postingan ini telah termuat di blog sosok itu lainnya dalam dua episode, di sana dan di sini. Sengaja di-repost karena sosok itu sedang merasakan nostalgia setelah berperang kembali di Gunung Puntang meski dengan seragam dan senjata yang berbeda.[]

Baca juga artikel yang berkaitan atau melihat daftar isi

Advertisements

6 thoughts on “Repost: Mari Berperang!

  1. >> giewahyudi : Sosok itu kalau berperang terlalu manis dan kemayu ^_^
    >> lozz akbarkbar : Sepertinya perlu kalau yang membalut sang putri nan ayu hehehe ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s