Mari Ber-TEORI dan Lupakan Titik Koma (Bagian 1)

“Bagaimana memulai menulis?”
“Begitu sulitnya membuat tulisan!”
“Apa resep menulis yang jitu?”
“Begitu banyak ide di kepala tapi hingga sekarang takada satupun yang terselesaikan dalam bentuk tulisan. Bagaimana ini?” Dan berbagai pertanyaan muncul di setiap pertemuan kepenulisan. Semua mengeluhkan betapa sulitnya memulai kegiatan menulis.

Untuk beberapa orang, teori bisa jadi dibuang jauh-jauh. Alasannya mudah saja, yaitu karena teori berawal dari praktik yang kemudian dituliskan menjadi sebuah teori. Namun, tanpa adanya teori bisa jadi takada pembelajaran bagi yang mau belajar. Inilah pentingnya sebuah teori bagi yang ingin belajar. Inilah pentingnya sebuah sekolah atau akademi pendidikan. Dan oleh karena itulah sosok itu mengeluarkan lagi sebuah jurus menulis baru yang dikenal dengan TEORI.

TEORI adalah akronim dari 5 (lima) huruf yang bermakna dalam. Makna-makna ini muncul bagi mereka yang benar-benar baru belajar menulis atau ingin menuangkan ide baru. Kelima TEORI itu adalah Titik Koma Jangan Dulu Dirisaukan, EYD Lupakan Sejenak, Orang Bilang Nggak Bagus? Yang Penting Nulis!, Rincian Sistematis Jangan Dulu Diikuti, dan Ikuti Kata Hati, Bukan Teori!. Oleh karena konsep ini panjang maka akan dibahas dalam beberapa tulisan. Jadi, mari kita belajar bersama-sama.

Tulisan berikut ini adalah sebuah catatan kecil dari seorang kawan yang juga sudah menjadi penulis, yaitu Indari Mastuti. Begini penuturannya. Ketika saya masih kecil, saya sangat kagum dengan penulis-penulis yang karyanya bertebaran di berbagai media dan saya membayangkan betapa asyiknya menjadi penulis seperti mereka. Sungguh pun saya sudah bertekad bulat menjadi penulis seperti mereka tetapi memulai untuk menuliskan ide di kepala bukanlah perkara yang mudah. Yang paling mungkin saya tulis adalah coretan ala saya sendiri.

“O, barangkali pengetahuan saya mengenai penulisan masih minim,” ujar saya pada diri sendiri ketika mulai beranjak remaja. Lantas, saya mulai melahap buku-buku teori penulisan. Jujur saja, saya semakin penat dibuatnya! Rasanya tulisan saya semakin tidak pernah selesai. Akhirnya saya mulai berhenti memikirkan teori-teori dan menulis ala saya sendiri. Dan, menulislah saya. Hasilnya? Ternyata lancar! Semua ide yang ada di kepala tertuang habis dan saya mulai menulis artikel, cerpen, tips, opini, dan semua tema dengan tulisan ala saya.

Ya, tidak bisa dibantah bahwa kesulitan kita menulis adalah karena begitu banyak aturan di kepala kita. Harus beginilah, harus begitulah, harus sebagus penulis anu lah, harus dapet nilai memuaskan lah … bla … bla … bla…. Begitu banyak aturan dan ujung akhirnya justru membuat kita jalan di tempat. Kalau pun satu paragraf berhasil ditulis, selang berapa menit akan dihapus karena tidak sebagus dan seideal yang ada di buku-buku yang membahas teori penulisan.

Well, untuk para penulis pemula, lupakanlah teori! Menulislah dengan gaya kamu sendiri dan jangan pernah terbebani dengan apapun. Menulis, ya, menulis saja.

Titik Koma Jangan Dulu Dirisaukan

Dalam sebuah bedah buku, saya disandingkan dengan seorang penulis yang karyanya masuk kategori best seller. Ketika jajak pendapat mengenai penulis ini, editornya mengatakan bahwa dia sampai berdarah-darah men-titik dan meng-koma-kan  tulisannya. Kenapa? Sebab selain titik koma yang semrawut, bahkan banyak yang justru tidak ada titik dan koma dalam tulisannya. Namun, melihat ide orisinal yang terkandung dalam karya si penulis, editor sih mau aja mengubahnya sesuai dengan aturan penulisan. Lantas, apa tanggapan sang penulis?

Dia hanya terkekeh dan mengatakan, “Sebab ketika menulis saya memang tidak memikirkan apapun, apakah itu titik dan koma, apalagi EYD. Pokoknya ngalir aja deh kayak air.” Sungguh, kata-katanya begitu ringan. Tips si penulis best seller ini untuk penulis pemula bisa ditiru, loh. Kamu-kamu yang mau mulai nulis tidak perlu ribet dengan aturan titik koma, yang penting adalah kamu merasa nyaman untuk mengalirkan ide di kepala. Terus, bagaimana caranya memulai tulisan?

John Steinbeck, penulis Amerika yang pernah mendapatkan Hadiah Sastra Nobel, mencontohkan dengan cara yang paling mudah. Dia menulis keadaan kamarnya lebih dahulu, dari warna gordennya, coraknya, hingga letak meja dan pernak-pernik yang ada di sana. Kadangkala, dia juga menulis keadaan yang ada di luar kamarnya melalui jendelanya yang dibiarkan terbuka. Begitulah dia melatih tulisannya hingga sampai seminggu lamanya. Setelah “proses latihan” yang seperti itu dan hasil tulisannya cenderung dibuang begitu saja (dia meremas kertasnya lalu langsung membuangnya ke dalam keranjang sampah), barulah dia mulai menulis serius dan hasilnya pun langsung disimpan rapi.[]

Bagian 2: EYD dan Tulisan yang Bagus
Bagian 3: Sistematis dan Mengikuti Kata Hati

Baca juga artikel yang berkaitan atau melihat daftar isi

Advertisements

9 thoughts on “Mari Ber-TEORI dan Lupakan Titik Koma (Bagian 1)

  1. terkadang ketika mau menulis keinginan u menulisnya yg harus ada…abis itu tancap gas..dan jadilah tulisan yang semrawut…^^

    *baiklah bang sosok itu…B nya udah dibalikin lagi…^^

  2. Wah, itu sih namanya nyusahin Editor tuh, Soal “koma” mungkin bisa diterima Bang Aswi, tapi “titik”??? Masa sih kita nulis ampe ngelupain “titik”. Saran “O” sesuai dengan sarannya Mas Vavai Masin Soegiono dalam salah satu blognya. Karena beliau jugalah bunda jadi “berani” menulis. Apa kata orang? EGP. Yang penting nulis. Oke deh bang, makasih sarannya. Bunda mau mulai nulis nih sesuai kata hati.

  3. bener banget bang, dhe aja kayak orang tabrak lari gitu kalo nulis. titik koma juga kadang salah, yang penting nulis dulu aja. ayoo bang, dhe menunggu part-part selanjutnya nih.

  4. dulu tuh saya begitu, mentok menulis gara2 di kepala terlalu banyak aturan yg pengen diikuti. setelah itu dilepas, jd ga ada beban, menulis saja .. mengalir …dan sampai sekarang ya begitu2 aja 😀 blom jadi penulis, tapi setidaknya udah ga terbebani lagi 🙂

  5. >> Puteriamirillis : Untuk kali pertama, tulisan yang semrawut itu tidak menjadi masalah. Maskin sering nulis, tentu tidak akan terlalu semrawut lagi. Ya, sosok itu sudah kembali pada B … ^_^
    >> Mabruri Sirampog : Editor itu ada bagi tulisan yang layak diterbitkan. Kalau tulisan berantakan dan belum layak terbit, editor mana yang sanggup?
    >> Yati Rachmat : Dari kemarin kayaknya Teh Yati membicarakan Kang Vavai melulu hehehehe … Masalah titik koma ini bagi yang baru belajar nulis, setelahnya pasti gak akan lupa deh. Bagi penulis pemula, sering menulis adalah ujiannya.
    >> Dhenok : Sudah ada kan bagian selanjutnya di postingan ini? ^_^
    >> niQue : Asal rajin menulis, percaya deh kalau tulisan kita akan baik dengan sendirinya. Asal terus juga mau membaca tulisan yang baik sebagai pembanding.
    >> r10 : Editor itu ya kita sendiri sebenarnya, kecuali mau diterbitkan oleh penerbit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s