Sistematis dan Mengikuti Kata Hati (Bagian 3)

Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa TEORI itu adalah 5 (lima) jurus ampuh yang bisa digunakan dalam pelajaran menulis. Kita sudah belajar tentang Mari Ber-TEORI dan Lupakan Titik Koma, juga belajar tentang EYD dan Tulisan yang Bagus. Berarti, kita sudah belajar tentang TEO yang jika dipraktikkan akan bermakna besar kalau kamu ingin menjadi penulis. Sebagai tulisan penutup, inilah penjelasan tentang RI.

Rincian Sistematis Jangan Dulu Diikuti

Pada dasarnya salah satu kesulitan untuk menulis adalah ketika sang penulis tidak tahu apa yang akan ditulis. Ya iya lah! Mungkin kamu mengenal dengan rumus penulisan yang sudah sangat terkenal di kalangan jurnalis, yaitu 5 W + 1 H (What = Apa, Who = Siapa, When = Kapan, Where = Di mana, Why = Mengapa, How = Bagaimana). Dalam dunia jurnalistik, 5 W + 1 H merupakan sesuatu yang mutlak. Oleh sebab itu, kalau kita lupa dengan who-nya, pembaca akan bertanya-tanya tentang siapa orang yang terlibat. Atau kalau kita lupa where-nya, pembaca akan bertanya-tanya di mana gerangan lokasi kejadian itu terjadi, dan seterusnya.

Bahkan kadang-kadang rumus 5 W + 1 H masih harus ditambah dengan satu “S” lagi, yaitu Security (keamanan). Faktor keamanan dinilai cukup penting saat ini karena adanya beberapa kasus yang membahayakan seperti teror terkait dengan berita yang ditampilkan. Keamanan di sini mencakup keamanan nara sumber, penulis, maupun medianya.

Selain rumus di atas, ada pula rumus ’keharusan’ seseorang untuk bisa membuat tulisan yaitu dengan membuat kerangka tulisan. Memang pada dasarnya, kerangka ini akan membuat kita lebih mudah melihat, apakah data-data yang tersedia sudah lengkap atau masih harus dilengkapi dengan data-data lainnya. Namun pada kasus lain, kerangka karangan membuat penulis merasa tidak leluasa untuk mengembangkan tulisannya. Ya, akhirnya, meskipun kamu sudah berhasil membuat kerangka karangan, kamu tetap boleh berimprovisasi dalam pelaksanaan penulisan.

Sayangnya, untuk penulis pemula, untuk mengikuti rumus ini pun masih memiliki kesulitan. Karena itulah, untuk kamu yang baru mulai menulis  lupakan rincian sistematis di atas atau tulislah semampu kamu. Teruslah menulis tanpa beban!

Ikuti Kata Hati, Bukan Teori!

Siapa yang tidak ingin menciptakan karya yang bagus? Siapapun mau! Masalahnya adalah menurut kita, karya yang bagus itu didukung dengan pemahaman teori yang baik. Padahal, tidak juga! Karya yang bagus menurut sosok itu adalah karya yang orisinal dan menuruti kata hati kamu. Pasti tahu dong, Andrea Hirata. Penulis buku tetralogi Laskar Pelangi itu telah menjadi fenomena dalam industri perbukuan.

Andrea sama sekali tidak pernah menduga dia akan terkenal karena menulis buku, karena tujuan awalnya menulis buku adalah sekadar mencurahkan isi hatinya tentang perjuangan gurunya semasa ia bersekolah di SD Muhammadiyah, Belitong Timur, Bangka Belitung. Sebetulnya Andrea tidak memiliki latar belakang sastra, namun Andrea terbiasa mendengarkan cerita sejarah dan cerita klasik Melayu Belitung dari para orang-orang tua di kampungnya. Sehingga tak heran, dalam menulis Laskar Pelangi, Andrea memiliki gaya penuturan yang kuat, filmis, dan cerdas.

Resep cespleng Andrea menulis adalah dengan mengeluarkan semua yang ada dalam pikiran, mencurahkan segala yang ada dalam hati dengan menulis. Bahkan, di awal kariernya menulis dia tak mau tahu apakah tulisannya itu bagus atau jelek, apakah tulisannya itu sesuai dengan komposisi, yang penting baginya adalah menulis. Sejak novelnya hadir di masyarakat, justru malah membangkitkan inspiratif dan mampu memberi kekuatan bagi pembacanya. Bahkan, novelnya ini mampu menggerakkan hati para pakar pendidikan untuk merehabilitasi dunia pendidikan.

Lalu, pernahkah kamu membaca sebuah karya sastra yang membuatmu ikut larut dalam kisahnya? Misalnya saja, kamu ikut menangis saat membaca kisah sedih di dalamnya, atau ikut marah ketika sosok utama mendapat ketidakadilan, atau bahkan kamu ingin berubah karenanya. Atau kamu juga membaca buku yang menurut kamu tidak ada kesan apapun di dalamnya alias garing (ini bahasa Sunda, ya).

Menulis dengan hati dan mengikuti kata hati adalah salah satu cara untuk membuat kualitas tulisan kita semakin bagus. Tulisan yang mengikuti kata hati mengalir dari jiwa, mengalir di sekujur tubuh, dan menggerakkan kamu untuk segera menyelesaikan tulisan. Dan kata-kata yang kemudian dihasilkannya adalah kata-kata yang dijamin menggugah bagi pembacanya.[]

Baca juga artikel yang berkaitan atau melihat daftar isi

Advertisements

5 thoughts on “Sistematis dan Mengikuti Kata Hati (Bagian 3)

  1. ngomong2 soal andrea hirata yg mnulis kisah hidupnya sndiri, sy mau tanya. pengalaman saya nih, kalo nulis berdasarkan pngalaman sndiri itu membuat tulisan kita terasa lebih kuat dan hidup ktimbang nulis hasil imajinasi. so, menurut Bang Aswi, bgaimana caranya membuat tulisan hasil imajinasi bisa sekuat tulisan berdasarkan pengalaman sndiri? trims and sukses selalu….

  2. >> diankahfi : Tetap saja sandaran imajinasi adalah kenyataan itu sendiri. Lord of The Rings adalah imajinasi Tolkien tapi dasar dari imajinasi itu adalah kenyataan Tolkien tentang kampung halamannya dan juga peperangan pada masa PD I. Banyaklah membaca maka imajinasi Anda akan semakin banyak dan kuat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s