Tersenyumlah, Dunia Menjadi Milikmu

Humor adalah sesuatu yang membuat orang tertawa, minimal tersenyum. Beberapa orang menganggap humor yang cerdas sangat berbeda jauh dengan humor murahan atau ada pula yang menyebutnya dengan humor garing. Bahkan, bagi humor cerdas, kadangkala untuk bisa tertawa pun, pembaca dituntut untuk mengerutkan kening terlebih dahulu. Perbedaan yang paling utama adalah bahwa di balik humor-humor cerdas, selalu sarat dengan nilai dan hikmah.

Humor garing mempunyai pengertian humor yang tidak bermutu, humor tidak cerdas, dan lebih gawat lagi humor tidak lucu. Namun dalam teori wacana, hal ini tidak mungkin, bukan? Karena dalam wacananya sendiri tentu humor ini berbunyi. Takada humor tinggi dan humor rendah, karena ukuran dalam wacana yang satu tidak harus berlaku bagi wacana yang lain, setiap wacana membangun cara pembermaknaannya sendiri.

Akibatnya, humor garing ini miskin hanya dalam identifikasi sosial, tetapi tidak harus berarti miskin pula dalam eksistensinya sebagai humor yang menghibur kelompok urban (yang diandaikan sebagai) golongan miskin tersebut. Sebaliknya, dalam konteks kemiskinan finansial maupun kemiskinan spiritual, humor garing ini menjadi kekayaan bermakna sebagai hiburan dalam derita berkepanjangan. Humor garing dalam pengertian miskin kreativitas adalah produk kemiskinan budaya sehingga hanya dengan terbuka kepada wacana kemiskinan itulah humor ini akan bermakna, dan membuat kita tertawa. Dengan istilah budaya kemiskinan, artinya terbentuk suatu perangkat pembermaknaan yang unik dalam dunia orang miskin tersebut, yang pada gilirannya dapat dipandang sebagai perbendaharaan kekayaan budaya.

Terlepas dari humor cerdas maupun humor garing—karena nantinya kamu sendiri yang akan menentukan apakah humor yang kamu baca adalah humor cerdas atau humor garing—keduanya tetap menjadi produk yang menginginkan manusia untuk tersenyum.

Tersenyumlah, dunia akan menjadi milik kamu. Senyum memang sebuah kata sederhana, namun memiliki makna yang sangat berarti. Hanya dengan mengembangkan senyum, sudah dinilai sebagai sedekah. Betapa sederhana tampaknya, namun takmudah juga melakukannya, kecuali bagi orang-orang berhati ikhlas. Mereka yang mampu tersenyum adalah mereka yang ingin membagi kebahagiaannya dengan orang lain. Mereka yang ingin menggugurkan kesedihannya untuk diganti dengan kepasrahan dan tawakal, yang berujung pada kebahagiaan juga.

Mereka yang pandai tersenyum, adalah mereka yang memiliki kecerdasan emosi tinggi. Mereka mampu mengendalikan emosi dengan baik, hingga dalam keadaan diliputi kesedihan dan kemarahan pun tetap bisa tersenyum dengan manis. Dalam keadaan teraniaya pun tetap mampu tersenyum, memancarkan cahaya keikhlasan dari dalam dadanya.

Tersenyumlah, karena senyum tak kalah penting dengan beragam ibadah lainnya. Banyak pakar yang berpendapat bahwa tawa dan senyuman itu merupakan penyebab paling kuat yang mendorong manusia menjadi aktif dan produktif. Semua orang—sesuai dengan posisinya di berbagai profesi—jika ingin menikmati hidup yang tenang, nyaman, dan bahagia, hendaknya dia menjadi orang yang ceria, tersenyum dan tertawa. Dengan demikian, dia dapat menciptakan suasana yang jernih dan cair, serta dapat mengusir kejenuhan, kebosanan, dan kesusahan hidup.

Orang Cina sering mengungkapkan suatu hikmah, “Orang yang tidak tahu bagaimana tersenyum, maka hendaknya dia tidak usah membuka usaha dagang.” Sejumlah ilmuwan menyatakan bahwa tawa itu merupakan getaran akal yang melenyapkan ketegangan-ketegangan dalam jumlah yang cukup banyak. Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa tawa itu (yang proporsional dan pada tempatnya) adalah pelipur hati, obat bagi jiwa, dan kenyamanan bagi pikiran yang jenuh setelah bekerja dan menguras tenaga. Senyum dan tawa itu merupakan salah satu keahlian atau seni hidup, tapi banyak orang yang tidak berminat untuk mempelajarinya meskipun cukup mudah.

Jadi, humor ada untuk membuat hidup kita tersenyum. Paling tidak, bagi sejengkal kehidupan kita yang sudah jenuh dengan topeng omong kosong lingkungan kita. Sudah saatnya kita mengisi kehidupan kita dengan senyum yang ikhlas. Senyum yang muncul dari beberapa humor, baik garing maupun cerdas. Kita sendiri yang menilai. Menurut kamu?[]

Baca juga artikel yang berkaitan atau melihat daftar isi

Advertisements

11 thoughts on “Tersenyumlah, Dunia Menjadi Milikmu

  1. aku ga setuju deh klo humor garing itu dibilang humor ga mutu & ga cerdas. Malahan klo menurut aku biasanya humor garing itu humor yang kelewat cerdas, jd kadang orang awam ga ngerti lucunya dimana. jadi hanya kalangan tertentu ber-IQ tinggi aja yg ngerti..heheee

  2. kadang humor garing suka ga tau batas..asal ngomong aja,ga tau itu etis atau ga bwt diomongin..

  3. saya nggak bisa nge-humor, tapi kalo sekedar senyum pas denger humor biarpun garing .. bisalah.
    Yap, masih belajar untuk ikhlas memberi senyum 🙂

  4. >> mila : Ya, apapun pun alasannya sebenarnya tidak ada pembeda selama itu humor. Apalagi kalau dikaitkan dengan IQ karena humor tidak bisa dinilai dari itu. Selama itu menghibur, cukuplah dianggap sebagai humor.
    >> irmutmarmut : Masalah budaya sebenarnya.
    >> Akhmad Muhaimin Azzet : Colorfull yeah?
    >> takuya : Jadi gak perlu mencari air terjun pengantin kan, ya?
    >> Mabruri Sirampog : Amiiin ^_^
    >> mascayo : Insya Allah bisa, Mas.

  5. gak juga bilang humor garing itu gak cerdas seh, tapi aku emang gak cocok dengan humor2 seperti itu, kurang bisa dapet lucunya aja 😀

  6. pada dasarnya ga ada tuh humor cerdas ataw humor garing atau apapun…sebab sebuah humor bisa membuat seorang tertawa tapi belum tentu yang lain…..sebaliknya juga begitu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s