Mengenal Asma Lebih Dekat

Sepeda yang Menganggur

Sepeda yang menganggur dan akhirnya digotong!

Sudah seminggu lebih sosok itu mendekam dalam ketidakberdayaan fisik. Apalagi kalau bukan karena penyakit biasanya yang kambuh, yaitu asma. Penyakit yang muncul sedari kecil dan tergolong parah diantara keluarganya ini merupakan momok menakutkan bagi dirinya. Aktivitas biasa yang seharusnya bisa dilakukan menjadi sangat terbatas oleh keberadaan asma. Bukan hanya aktivitas fisik, bahkan untuk berbicara pun sulit sekali.

Awalnya cukup sederhana, yaitu rasa sakit di tenggorokan sebagai penyebab mula munculnya penyakit flu. Pilek dan batuk-batuk langsung menyertai hingga akhirnya asma muncul. Apabila diiringi dengan demam pada malam hari tentu harus diwaspadai dengan pemeriksaan darah, apalagi dengan kondisi badan yang lemas setiap harinya. Dari hasil pemeriksaan darah hari pertama cukup mengkhawatirkan, yaitu hanya tersedia 175ribu trombosit (batas minimalnya adalah 150ribu). Pemeriksaan darah hari kedua berakhir bahagia karena trombosit yang tersedia meningkat menjadi 225ribu.

Sosok itu pada akhirnya harus menerima asupan asap bernutrisi bagi tenggorokannya yang menyempit (nebulizer) sebanyak tiga kali, yaitu pada hari pertama pemeriksaan, pagi esoknya, dan juga siang esoknya. Menurut dokter yang memeriksanya, sosok itu seharusnya dirawat inap namun dia tidak mau. Setelah menjalani proses rawat jalan, ternyata kondisi sosok itu takjuga membaik. Padahal selama proses sudah dibarengi dengan memaksakan diri bersepeda, tetapi tetap saja kurang. Cuaca memang sedang tidak bersahabat dengannya. Bandung sedang mengalami suhu rendah setiap malam dan subuhnya sehingga cuacanya begitu dingin. Belum ditambah cuaca ekstrem yang panas di siang hari dan angin kencang yang tentu saja tidak sehat.

yoga, nebulizer

Sosok itu mencoba ber-Yoga dan nebulizer yang kerap menemaninya

Barulah pada Sabtu (30/7) sosok itu merasa siap untuk menjalani rawat inap di RS. Baju dan peralatan mandi sudah dipersiapkan dari rumah. Untuk memastikan diri, dokter yang dituju adalah spesialis paru untuk mengetahui keadaan fisik yang sesungguhnya. Untung pilihannya tepat dan dr. Herudian dengan gamblang menjelaskan penyakit asma yang diderita sosok itu. Katanya, asma yang dideritanya itu sudah takterkontrol lagi. Asma memang tidak dapat disembuhkan tetapi seharusnya asma bisa dikontrol. Jadi, kalau serangan asma sudah terjadi secara bertubi-tubi setiap malamnya atau setiap harinya, itu adalah jenis asma yang sudah takterkontrol lagi.

Obat-obat asma yang ada sebenarnya terbagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu obat-obatan jenis Temporary Healer (TH) dan jenis Controller. Obat TH itu yang sering atau mudah ditemukan di warung atau apotek. Sebut saja Napacin, Asmasolon, Salbutamol, atau Ventolin Sirup/Inhaler. Obat-obat ini memang meredakan serangan asma dan menyembuhkan tetapi hanya untuk waktu tertentu. Bisa jadi besok, lusa, atau seminggu kemudian serangan asma akan datang lagi. Ya, obat TH memang manjur tapi untuk batas sampai kapan? Bagaimana dengan kondisi ketika obat-obat TH itu taklagi menyembuhkan saat ada serangan asma seperti yang dialami oleh sosok itu?

obat, penyakit, asma

(i) Ventolin (biru), (ii) Symbicort (merah), dan (iii) Seretide Diskus (ungu)

Sedangkan obat-obat Controller dapat mengatur serangan asma. Bisa jadi serangan asma hanya terjadi satu kali dalam setahun dan itu pun tidak terlalu berat. Hanya yang perlu diingat bahwa obat Controller itu diberikan dalam jangka waktu tertentu, misal selama 3 bulan atau 6 bulan. Meskipun tidak ada serangan asma, obat Controller tetap harus diberikan misal 2 dosis dalam sehari. Dari segi harga, obat-obat jenis Controller memang lebih mahal daripada obat-obat jenis TH. Napacin bisa dibeli Rp2 ribu per 4 tablet. Paling mahal Ventolin Inhaler yang bisa dibeli dengan harga Rp95 ribu untuk 200 dosis namun efeknya lebih manjur dan hanya disemprot. Dan lihatlah harga obat jenis Controller dimana sosok itu pernah mencoba Symbicort yang Harga Eceran Tertingginya (HET) Rp569 ribu per 120 dosis. Kini, sosok itu mencoba Seretide Diskus yang HET-nya Rp185 ribu per 60 dosis.

Jika masih bingung, dr. Herudian mengumpamakan penyakit asma itu dengan mengisi air pada ember yang bocor. Obat-obatan TH adalah air yang ditambahkan pada ember bocor tersebut. Untuk sementara air memang bisa penuh, namun lambat laun kebocoran itu akan menguras airnya secara perlahan. Sedangkan obat Controller berfungsi menambal kebocoran ember tersebut sedikit demi sedikit dan air pun tidak ada yang terbuang percuma. Orang normal (non-asma) memang tidak memiliki kebocoran sedang orang yang berasma akan terus bocor tetapi dengan adanya obat-obatan Controller, kebocoran itu terus dijaga dan dikontrol.

Sosok itu sedang dalam tahap takterkontrol. Semoga dengan adanya obat-obat jenis Controller, penyakit asmanya sedang menuju pada tahap terkontrol sebagian. Jika sudah melewati tahap itu dengan baik, tentu asmanya akan kembali pada tahap terkontrol. Tahap yang sangat diharapkannya. Mohon doanya, ya. Semoga penjelasan ini sangat bermanfaat bagi penderita asma di mana pun. Nah, bagaimana dengan para penderita asma di sekitar kamu?[]

Mau cek seberat apa ASMA Anda?
Sila KLIK buah Apel di bawah ini ^_^

ACT-B-3

Baca juga artikel yang berkaitan atau melihat daftar isi

Advertisements

28 thoughts on “Mengenal Asma Lebih Dekat

  1. Euleuuuhh….Alhamdulillah atuh bang kalo skrg udh sembuh mah… analogi air dan ember bocornya sangat dimengerti Bang, insyaALLAH bermanfaat ilmunya, hatur nuhun.

    >> Semoga terus sembuh dan jarang kambuh. Amiiin.

  2. kalo ember bocor kenapa ga dilem pake lem plastik bang,,daripada mahal2…*ga baca ya itu loh..ANALOGI…

    alhamdullillah..mudah2an cepet naik pangkat jd terkontrol deh bang..^^

    >> Amiiin naik pangkat!

  3. ..berbagi pengalaman nih…nebulitzer mahal
    tahun 2000 aku pernah beli min harganya..rp800rb, setelah minta pendapat teman yg kebetulan kerja di rs khusus Paru,untuk terapy atau pertolongan pertama mendingan beli atau sewa tabung oxygen yg ukuran kecil, atau beli ventolin,..Alhamdulillah..saudaraku dah BEBAS asma, dia sendiri bingung kalau ada yg tanya termasuk aku : obatnya apa ? atau yg mn..?…berhubung dah numpuk koleksi obatnya dari herbal,medical sampai call hati kalong hehehehe….tp aku bs lihat,mungkin gaya hidup dia dan cara dia menghadapi kehidupan ini dengan asmanya…! pokoknya jangan patah smangat….Bang..!

    >> Keren tuh, mending beli tabung oksigen ya … ^_^

  4. Dulu adik saya asma disuruh makan cicak apa kecoa ya, saya lupa. Sekarang sih asmanya ga parah-parah amet.
    Semoga sembuh total ya Bang 🙂

    >> Idiiih. Meni geuleuh!

  5. Terimakasih banyak sudah berbagi tentang pengobatan asma, saat ini pun, saya sementara pengobatan asma dengan menggunakan Symbicort

    >> Yup, semoga semakin membaik 🙂

  6. Bagi2 pengalaman ya …
    Saya tinggal di Jayapura Papua. Asma saya cukup parah, dalam sebulan bisa 3 – 4 kali masuk UGD, hampir setiap jam beberapa kali saya hrs menggunakan ventolin inhaler atau berotex. Sekitar 10 tahun saya mengalami hal ini. Terakhir ketika saya kena serangan dan masuk UGD lg, 2 hr kemudianan saya ke ahli paru, diberi obat makan utk 3 hari (lupa nama obatnya) & terapi dgn seretide inhaler 125 2x sehari, alhamdulillah sampai skrg sdh bisa beraktifitas normal, tdk sesak lagi.Tadinya tertawa keras sedikit sj sdh terbatuk2 yg berujung sesak, tdk bisa capek. Terima kasih Allah, terima kasih dr Erfin.

    >> Terima kasih atas inputnya, semoga bermanfaat bagi yang membacanya. Semoga lekas sembuh ^_^

  7. saya juga kena asma dlm 2 bulan ini udah kambuh 6 kali mau ke tujuh kali….saya diresepin dokter pakai seretide tapi saya takut menggunakannya…..ya akhirnya kalo kambuh ya diuap saja pakai ventoliiin…..

    >> Saya dah amat (bahkan) jarang menggunakan ventolin. seretide pun karena harus mengikuti anjuran dokter karena tanpa menggunakan sehari 2 hari juga alhamdulillah segar saja ^_^

  8. Saya dri padang,
    gk tau knp semenjak awak kuliah d tahun 2006 saya mengalami pnyakit asma,kta dokter spesialis paru” dbkittinggi saya hrus minum obat rutin 6bulan,tp stlah d jalani,tidak ada perubahan ny,akhrny saya putus kan ntk memakan ventolin inhaler,tp sehat bentar,kambuh lg.
    Akhrny kmren saya periksa lg k dokter,dokter menganjur kan ntk memakai “seretide diskus”
    smoga saya bisa sehat setelah memakai “seretide diskus” ini. Amiiin.

    >> Semoga lekas sehat ya, San. Alhamdulillah saya sendiri dah lama tidak kambuh lagi ^_^

  9. ibu saya alhamdulillah setelah pakai seretide diskus itu udah jarang kambuh bang 😀 semoga selalu sehat yaa semuanya, ga tega kl lihat penderita asma lg kambuh

    >> Sekarang sosok itu sudah tidak pakai lagi Seretide, sekarang pakai Symbicort karena faktor kecocokan ^_^

  10. dr. herudian teh praktek di rs paru? slain dsana praktek dmana lg yah? jauh soalnya 😀

    >> di RS Muhammadiyah BDG

  11. bro sudah coba terapi pantai? katanya bagus untuk asma, asal jangan dibali katanya, ntar bisa sakit mata 🙂

    >> Wah, baru denger itu. Cuma masalahnya saya lahir dan besar di tepi pantai dan nggak ngaruh. Malah setelah pindah ke Bandung jadi lumayan enakan. Iya, di Bali mah bikin sakit mata ^_^

  12. Bang Aswi sy tinggal di Papua Barat, di sini tidak ada symbicort, Bisa Gak sy Pesan dari Abang sy butuh banget Bang, Kalo bisa mohon sms saya ya bank, Thanks sebelumnya

    Hp. 082230343310

    >> Wah, maaf. Masalahnya saya bukanlah penyedia atau yang biasa berjualan online. Ada baiknya Papa Dito mencari tahu yang biasa menjual Symbicort secara online.

  13. sekitar , 1 bulan, yg lalu sy jg kena serangan asma.melihat kuku dan bibir sy membiru, dokter langsung beri surat rujukan untuk segera ke UGD terdekat., so buat tmn2 penderita asma jangan lupa minum obatx secara teratur ya..!!! and jgn lupa jg, bawa selalu ventolin inhaler kemanapun kalian pergi, jd…!!!!!cegah serangan asma dari pada masuk UGD.

    >> Ya, mencegah serangan asma jauh lebih baik dari pada masuk UGD. Ini pun sudah pernah saya alami. Nuhun ^_^

  14. Penggunaan seretide sangat bagus, karena seretide terdiri dari 2 komponen yaitu anti inflamasi dan bronkodilator, dimana seperti kita ketahui 2 komponen penyebab asma ialah terjadinya bronkokonstroksi dan inflamasi, adapun golongan bronkodilator dari seretide adalah salmeterol yang merupakan golongan dari long acting beta dua agonist, sedangkan untuk anti inflamasinya adalah fluticason propionate yg merupakan golongan dari inheald corticosteroid. Sebagai catatan kita harus selektif dalam memilih golongan costicosteroid, karena seperti kita ketahui steroid sangat berbahaya bagi tubuh, karena dapat menekan cortisol yg merupakan steroid alami tubuh, dan dapat menekan hpa axis yg kita ketahui hpa axis tersebut merupakan penghasil hormon pertumbuhan,kecerdasan,dan osteoporosis, pada seretide golongan inheald costicosteroid yg digunakan yaitu fluticason propionate , dimana bioavalibilitasnya dibawah satu persen , jadi untuk tersistemik dalam tubuh sangat kecil sekali, sedangkan produk yg menggunakan budesonide , bioavalibilitasnya diatas 11 persen dan kemungkinan tersistemiknya sangat besar. Mohon koreksinya jika ada yg salah. Semoga bermanfaat

    >> Hatur nuhun atas penjelasannya. Berarti Seretide tergolong aman ya? ^_^

  15. alhamdulillah udah ketemu dr. herudian di muhammadiyah.. enak bgt ya konsul sm beliau.. makasih infonya 🙂

    >> Sama-sama … semoga asmanya sudah gak kambuh2 lagi ya ^_^

  16. Sy sdh sbulan asma. Udah capek bolak balik k dokter. Tp masi kambuh jg. Rencana mw pake nebulizer..tp mesti konsul sm dokternya lg. tp baca koment dr rekan semua berbagai mcm obat yg berbeda .. bisa sembuh..mohon doanya tmn2..

    >> Insya Allah selama terus berusaha akan ada jalan keluar. Semoga lekas sembuh dan jangan lupa … olahraga ^_^

  17. Duh bukannya kalau seretide itu ribet yah . Seretide kan ga bisa sebagai bronkodilator , soalnya onset kerjanya lama sekitar 15 menit . Kalau sesak dan nunggu salmeterolnya berefek 15 menit keburu lewat . Seretide kan harus D barengan ventolin . Ribet deh mahal pula , mending symbicort .badan asma dunia (GINA) sudah rekomendasi symbicort utk preventif asma juga . Juga kalo flutikason di seretide itu ambang efektif dan toksiknya tipis , mangkanya ga bisa naekin hisapan sesuka hati . Kalo ngisep lebih dari 2 bisa bahaya . Seretide + ventolin VS symbicort saja . Kayaknya lebih efisien symbicort dan Lebih superior pula efeknya .

    >> Tapi tetap bisa dijadikan obat, khususnya bagi mereka yang belum pernah menggunakan obat semprot. Anak saya pun pakai seretide sudah aman dan tidak harus bareng Ventolin. Kalau dari efek dan kelebihannya, memang jauh lebih baik Symbicort. Saya pun mengamininya ^_^

  18. Iya betul .
    Ribet pake seretide .
    Kalo asma nya berubah status harus ganti kemasan .
    Masa harus beli lagi .
    Kalo asma saya terkontrol saya ga lebih pake sediakan yg sama pas saya lagi tidak terkontrol .
    Cost nya Bambang lagi deh .

    >> Yang penting, bagaimana caranya agar asma kita itu terkontrol sehingga tidak tergantung lagi pada obat. Plus olahraga yang dirutinkan, ini saling menguatkan loh ^_^

  19. Saya tadinya pakai Ventolin Inhaler… setelah rawat inap di Siloam, dokternya mengganti dengan Seretide. Setelah sebulan, masih ada serangan ringan sekali sepekan tapi tidak separah dulu lagi….. lumayan terkontrol… Untuk sang “sosok”, semoga makin seger yah….

    >> Nuhun. Semoga terkontrol terus ya ^_^

  20. Ibu saya sudah kurang lebih 15 tahun mengalami asma . Asmanya pun tidak ada perubahan sampai saat ini , walaupun telah rutin satu kali setiap hari menggunakan seretide selama 2 tahun terakhir ini .Memang benar , seketika asmanya langsung teratasi ketika menggubakan obat tersebut . Tapi , kok rasanya Ibu saya merasa kecanduan dan ketergantungan pada obat tersebut? Menurut anda , bagaimana solusinya?

    >> Seretide adalah obat kontrol, artinya di sini juga harus ada pengawasan dari dokter. Ada pasien yang diberi 2 dosis per hari selama 2 bulan, ada yang diberi 1 dosis per hari selama sebulan. Sebenarnya bukan ketagihan, tetapi ada proses apakah obat kontrolnya berhasil atau tidak. Kadang, kalau salah satu obat tidak berhasil dan asma tidak kunjung terkontrol, maka diganti obat yang lain. Dokter sudah paham akan hal ini. Obat kan cocok-cocokan dengan pasiennya. Kalau sudah terkontrol, tentu tidak perlu lagi mengonsumsi obat. Coba setiap pagi melakukan senam asma. Ingat, obat kontrol jangan digunakan melebihi dosis. Coba lakukan tes asma dengan meng-klik gambar apel di atas.

  21. Sy asma dr balita smp skrg sy dah 32tahun dan tergolong berat..krn stiap kambuh di sertai batuk n hidung meler hampir tiap hari. Klo symbicort ini..gmna sih dosis nya.. apa msti d mnum tiap hari mskipun gak kambuh apa d mnm pas kambuh aja? Sy dah beli sih hrgax mmg mahal hampir 600rb d tmpt sya..cmn sy blom brani pakai..tmen temen mhon infonha ya..

    >> Saya pun asma dari lahir. Baiknya begini … pakailah setiap pagi dan malam. Jadi setiap hari dua kali semprot, apakah itu ada serangan atau tidak. Sampai Symbicort-nya habis. Kalau pemakaian normal maka akan habis dalam jangka waktu 60 hari atau 2 bulan. Jika pada bulan kedua tidak ada serangan sama sekali, maka pada pembelian Symbicort kedua pakailah sehari sekali, misal hanya pada malam hari. Pada pemakaian normal akan habis dalam jangka waktu 4 bulan. Nanti laporkan kembali perkembangannya….

  22. Saya pakai seretide inhaler 1 hari 1 kali hirup, selama hampir 3 tahun ini, apakah berbahaya? Karena kalau tdk pakai maka nafas saya terasa berat lagi, trmksh.

    >> Selama masih sering kambuh, gak masalah. Hanya saja perlu cek ke dokter spesialisasi paru (sudah 3 tahun loh) karena khawatir dengan kondisi yang lebih berat lagi, mungkin perlu dosis lebih atau bahkan harus beralih ke symbicort.

  23. Anakku menderita asma sejak duduk di kelas 2 SD, setahun bisa 5 kali masuk Rumah Sakit meski oksigen dan neubulizer tersedia di rumah. Karena seringnya maka kami coba mencari dokter spesialis anak yang dikenal bisa mengatasi asma pada anak. Hasil laboratorium mengungkapkan bahwa ternyata anakku bukan hanya mengidap asma tetapi juga sinusitis , dan harus minum obat cetirizine Hcl sirup setiap malam dan Clanexi Forte 3x sehari selama 2 bulan full. Selain itu Seretide Diskus (ungu) harus setiap saat digunakan, sebelum dan bangun tidur dan atau pada saat dia mulai merasa sesak.. Sebulan ini semua berjalan normal hingga kemudian satu ketika Cetirine Hcl habis dan tidak minum selama 3 hari, kami kesulitan mendapat obat itu di kabupaten harus ke kota besar akhirnya asmanya kumat lagi. Begitu juga dengan Seretide Diskus (ungu).
    Apa yang harus saya lakukan jika obat itu terlambat saya dapatkan? Karena dokternya berpesan jangan terlalu sering menggunakan neubulizer bisa resisten nanti.

    >> Anak-anak belum kuat secara fisik jika dibandingkan orang dewasa, padahal daya tahan tubuhnya harus kuat menghadapi sumber alergi agar asmanya tidak kambuh (plus ada sinusitis). Cetirizine HCl adalah obat anti alergi sehingga sebaiknya harus disiapkan sesuai anjuran dokter. Walaupun telat, tidak terlalu masalah. Berbeda dengan Clanexi Forte yang merupakan antibiotik. Kalau dokter menganjurkan obat ini maka harus sampai habis dan tidak boleh telat. Menjelang habis, ada baiknya langsung konsultasi dengan dokter kembali. Apakah dilanjutkan atau tidak.

    Yang perlu diingat adalah apa sumber alerginya. Perhatikan anak Ibu dengan baik. Kalau alerginya debu, hindari daerah yang berdebu. Kalau alerginya dingin, jaga agar tubuhnya jangan sampai kedinginan. Ibu harus tahu apa sumber alergi anak, dan hindari sejauh mungkin. Alangkah lebih baiknya kalau anak Ibu juga diajak untuk berolahraga secara teratur, bisa berenang atau jogging. Apa saja yang disukainya, pokoknya berkeringat secara teratur. Anak saya juga asma tapi termasuk jarang kambuh karena aktivitas berkeringatnya tinggi. Ya, nebulizer adalah langkah terakhir di rumah kalau asma anak Ibu kumat. Kalau masih gak mempan, ya harus ke rumah sakit. Semoga lekas sembuh … ^_^

  24. Halooooooo masss, salam kenal saya cory, saya jg pengidap asma uncontrol, setiap hari harus pakai inhaler karna tiap hari asma saya kambuh, yg saya mau tanyakan adalah dulu saya pernah diresepkan obat control merk cipla, ketika digunakan akan terasa ada serbuk yg masuk ke mulut, nah kali ini saya diresepkan symbicort tp ketika saya pakai tdk ada rasa serbuk yg masuk ke mulut, saya udah pernah pakai beberapa merk inhaler dan ketika disemprotkan akan ada rasa serbuk yg masuk ke mulut, apa symbicort seperti itu atau saya salah pakai hheheh

    >> Ya, symbicort memang seperti itu. Tidak ada rasa serbuk yang masuk seperti halnya Cipla. Namun percayalah bahwa sudah ada serbuk (sangat halus) yang masuk sehingga tidak usah diulang berkali-kali.

  25. Bang, saya ‘asma newbie’ 😄
    Kmrn dikasih resep symbicort, kata dokternya penggunaannya kl diperlukan saja. Nah, karena takut ketergantungan, saya mencoba utk tdk menggunakannya setiap hari. Akan tetapi, kenyataannya hampir tiap hari saya batuk2 dan kmdn sesak nafas jika tidak menggunakan symbicort. Skg saya setelah membaca artikel abang, saya baru tahu bahwa penggunaan symbicort adl setiap hari, dengan ataupun tanpa serangan. Terimakasih Ya bang… Salam sehat ✌️

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s