Mengasah-Mengolah Kepekaan Berpuisi

Beberapa waktu yang lalu sosok itu pernah mengadakan Kuis Poetry Hujan di sini, bekerja sama dengan Puteri Amirillis. Alhamdulillah pagelaran itu telah selesai dan telah terpilih 2 (dua) orang pemenang, yaitu Mas Bro dan Neng Orin. Selamat untuk keduanya. Dalam kesempatan kali ini, sosok itu mencoba menjelaskan tentang proses kreatif penulisan puisi yang tidak kalah serunya dengan penulisan cerita fiksi yang sering jadi bahasan di blog ini.

Menelusuri proses kreatif penulisan puisi sama asyiknya dengan menulis puisi itu sendiri. Setiap penyair sudah pasti memiliki cara pandang yang berbeda tetapi secara esensial akan mengarah pada titik yang sama, yakni puisi sebagai medan ekspresi dari bayang-bayang pengalaman. Perlu diingat bahwa puisi itu mudah dipelajari tetapi isi dan kualitas puisi sangat bergantung kepada intensitas penghayatan si penyair terhadap berbagai pengalaman hidup yang menarik perhatiannya. Termasuk juga dalam hal ini adalah penguasaan akan kata dan bahasa.

Meski penulisan puisi bisa dipelajari tetapi kenyataannya tidak mudah. Salah satu alasannya adalah bahwa seorang penyair itu harus peka terhadap keadaan jiwanya, perasaannya, dan juga terhadap seluruh pengalaman hidupnya yang bersifat fisik ataupun metafisik. Secara fisik berarti sang penyair mengalami atau melihat sendiri kejadiannya. Sedangkan secara metafisik adalah pengalaman nonragawi yang hanya berhubungan dengan perasaan (tidak dengan tubuhnya).

Kepekaan itu penting bagi seorang penyair. Untuk itulah mengasah kepekaan perlu dilakukan untuk memperlancar daya kreatif seorang penyair dalam menulis puisi-pusinya. Inilah yang nantinya akan menjadi bank naskah pengalaman seorang penyair. Dari sini pula dapat disimpulkan bahwa menulis puisi itu tidak bisa lahir dari ‘ruang batin yang kosong’. Lalu bagaimana dengan imajinasi?

Menurut ‘Kamus Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia’ karangan J.S. Badudu, imajinasi adalah (1) khayalan, dan (2) daya pikir untuk menciptakan sesuatu di pikiran berdasarkan kenyataan atau pengalaman hidup. Dalam menulis puisi, imajinasi itu lebih berdasar pada pengertian kedua karena pengertian pertama sudah terangkum di sana. Agar imajinasi kita kena atau tepat pada sasaran maka kita pun harus mampu menguasai kata-kata dan bahasa dengan baik. Kata-kata dan bahasa adalah alat untuk mengomunikasikan bayang-bayang pengalaman yang hendak kita ekspresikan di atas kertas.

Kalau diksi sudah dikuasi tentu pada saatnya kita akan berhadapan dengan rima (rhyme) dan ritma (rhytm). Fungsi keduanya ini sebagai penegasan dari apa yang ingin disampaikan oleh sang penyair. Permainan unsur bunyi dalam struktur puisi akan membangun makna puisi yang bersangkutan. Jelas sudah bahwa puisi tidak hanya dibangun oleh sembarang rangkaian kosa kata dan gramatikal yang melahirkan pesan, tetapi juga dibangun oleh unsur-unsur estetik bunyi dari rangkaian vokal dan konsonan yang berlagu dan berirama.

berjalan di belakang jenazah angin pun reda
jam mengerdip
tak terduga betapa lekas
siang menepi, melapangkan jalan dunia

di samping, pohon demi pohon menundukkan kepala
di atas: matahari kita, matahari itu juga
jam mengambang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghisapnya

Puisi di atas adalah milik Sapardi Djoko Damono yang diberi judul ‘Berjalan di Belakang Jenazah’ (lihat buku ‘Dukamu Abadi’, Bentang, 2002: 6). Sumber Sapardi dalam menulis puisinya itu jelas bermuara pada pengalamannya ketika mengantar jenazah seseorang untuk dikuburkan. Beliau berusaha menghadirkan kembali apa yang dialaminya itu dengan pilihan kata-kata yang begitu personal sifatnya.

Ya, beliau telah mampu menemukan wilayah pengucapannya yang khas, yang jelas berbeda dengan para penyair lainnya meski dengan pengalaman mengantar jenazah yang kurang lebih sama. Namun, beliau telah berhasil merekonstruksi kembali pengalamannya itu dalam bentuk karya puisi yang terasa segar. Kesegaran semacam ini hanya akan bisa lahir karena penguasaan kata-kata dan bahasa dengan baik. Lalu, bagaimana dengan kamu?[]

Sumber Referensi:Menulis Puisi Satu Sisi dan Dua Naskah Pendek’ karya Soni Farid Maulana (Penerbit Pratima, 2003)

Baca juga artikel yang berkaitan atau melihat daftar isi

Advertisements

5 thoughts on “Mengasah-Mengolah Kepekaan Berpuisi

  1. Saya akui menulis puisi buat saya itu lumayan sulit, kadang butuh beberapa hari untuk membuatnya. Sulit karena perbendaharaan kosa kata saya masihlah sedikit dan sulit juga dalam mengolah kata kata yang tersirat maupun yang sudah ada dan akan ditulis.
    Salut buat para penulis puisi yang bisa dengan indah kita nikmati karya karyanya.

    Salam.. .

  2. saya paling suka menulis puisi pas moodnya tepat~ 😉
    kapan-kapan taruh di blog ah~ 😳

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s