Lebaran (Tidak) Hijau

Ramadhan adalah bulan rohani. Pada bulan ini, rohani umat Muslim dicuci dan dibersihkan setelah 11 (sebelas) bulan lebih mementingkan jasmani. Sudah seharusnya, rohani yang bersih itu akan melahirkan perilaku yang bersih pula. Namun kenyataannya masih ada beberapa perilaku yang tidak disadari atau bahkan disadari telah menjadi budaya dari ketidakbersihan itu. Salah satunya adalah menumpuknya sampah baru dimana pada hari raya tukang sampah dijamin tidak ada atau berkurang.

Bukan hal baru lagi kalau pergi menunakan shalat Ied di lapangan adalah membawa kertas koran sebagai alas dari sajadah. Fungsinya sebenarnya menjaga agar sajadah itu tidak kotor, apalagi kalau sehabis hujan. Padahal, fungsi sajadah sudah menjadi alas agar tubuh atau pakaian kita tidak kotor oleh tanah. Di sinilah yang menjadi permasalahan dan tampaknya telah membudaya di seluruh masyarakat Indonesia. Koran-koran yang dibawa untuk alas sajadah itu pun ternyata tidak dibawa lagi dan dibiarkan ditinggalkan di lapangan. Sampah-sampah kertas koran pun menumpuk di sana.

Mungkin sosok itu terlalu naif. Namun jika kita mau berpikir ulang, “Apa sih susahnya mencuci (kembali) sajadah yang kotor?” Itu kalau sehabis hujan, ya? Kalau tidak hujan, tentu tinggal mengibas-kibaskannya maka dijamin sajadah kita akan bersih kembali. Iya, kan? Dan yang lebih efektif lagi, kita shalat Ied pun pasti akan bersama keluarga yang jumlahnya lebih dari dua. Apa salahnya membawa tikar atau alas lainnya yang kita punya dan digunakan secara beramai-ramai. Bersedekah tempat bagi orang lain pun akan berpahala dan akan menjadi dua pahala karena kita juga tidak menambah sampah baru.

Seperti pada lebaran kemarin, sosok itu hanya membawa sajadah tanpa kertas koran. Sahabatnya yang juga tetangganya membawa alas karpet ringan (bukan tikar). Alas itu digelar dan cukup untuk 3 orang dewasa dan 2 anak kecil. Sisa ruangnya diisi oleh orang lain yang tidak dikenal. Alhamdulillah hal itu menjadi sedekah bagi sahabat sosok itu. Alas karpet itu pun lebih nyaman dibanding kertas koran karena terasa lembut dan membawanya juga tidak repot karena anaknya yang berusia 6 tahun pun mau membawakannya.

Budaya lainnya yang saat ini menjamur adalah menyediakan minuman kemasan. Salah satu alasanya adalah masalah praktis dan tidak repot. Tinggal membeli satu dus minuman kemasan, sudah bisa untuk menyuguhkan 24 tamu. Tidak lagi perlu repot-repot menyuguhkan dengan gelas kaca dan mencucinya lagi. Akan tetapi efeknya ternyata jauh lebih buruk dibanding nilai lelah mencuci gelas kaca. Gelas-gelas plastik kemasan yang sudah habis akan menjadi sampah plastik dan kita ketahui bersama bahwa sampah plastik itu masa urainya di dalam bumi bisa sampai ribuan tahun. Betapa berat bumi kita bekerja!

(Hanya) dua kebiasaan itu tanpa disadari telah mengotori lingkungan kita. Kebersihan rohani kita ternyata tidak diimbangi oleh kebersihan lingkungan yang kita sendiri pun ternyata sudah terlibat di dalamnya. Mungkin untuk mengurangi penggunaan kertas koran pada saat shalat Ied bisa dimulai dari keluarga kita terdekat. Mudah-mudahan hal itu bisa mengimbas pada tetangga kita dan pada akhirnya bisa mengimbas pada satu pelaksanaan shalat Ied. Semasa kecil, sosok itu shalat di lapangan kompleks yang areanya sudah dialasi dengan karpet dan tikar sehingga para jamaah hanya tinggal membawa sajadah saja. Hal ini bisa menjadi acuan pelaksanaan shalat Ied yang jauh dari sampah kertas koran.

Sedangkan untuk penggunaan minuman kemasan, sudah harus dimulai dari keluarga kita sendiri. Tidak ada salahnya berlelah mencuci gelas kaca demi mengurangi sampah gelas plastik. Jika sedang berkunjung dan disuguhi dengan minuman kemasan, bilang saja bahwa kita menginginkan minuman yang hangat agar tidak terlalu menyinggung tuan rumah. Minuman hangat pasti akan disediakan dengan gelas kaca. Apapun bisa kita lakukan demi lingkungan kita tercinta. Demi bumi kita tercinta. Yuk, ciptakan lebaran hijau! Dimulai dari niat kita dahulu. Insya Allah bisa.[]

Advertisements

3 thoughts on “Lebaran (Tidak) Hijau

  1. Iya bangaswi, miris melihatnya ya, jd inget pas ke spore, ada di daerah yang agak ‘kumuh’ (kumuh di sana sama dgn bersih di sini,ya) ada org” yg gelar koran mau minum-minuman keras, mereka minum”, ngobrol, setelah selesai mereka bereskan kembali korannya dan sama sekali tidak ada bekas tempat itu dipakai untuk minum” dan makan”, sungguh tertib, bukan? (catatan, tempat itu bukan dipakai ibadah tapi dipakai minum” )

  2. tapi bang, bekas koran itu kan nanti dikumpulkan sama pemulung? kalau kita bawa koran, berarti kita juga memberikan rejeki ke para pemulung itu? biasanya dulu, kami kumpulkan koran2 itu ke suatu tempat, agar si pemulung lebih mudah mengambilnya. masih tetep salah ya? :p hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s