Hadiah Takterduga

Milad yang menyenangkan. Siapa pun pasti akan senang saat merayakan hari ulang tahunnya, apalagi bagi Adek Anin yang baru menjajaki usia 5 (lima) tahunnya. Pesta sederhana yang diadakan pada malam milad kemarin begitu menyenangkan dan tentu akan sangat berharga baginya. Takpernah terbersit bahwa malam berikutnya akan menjadi malam yang takbisa dilupakannya begitu saja. Sebuah kejadian besar, baik bagi dirinya maupun bagi sosok itu dan sang belahan jiwa.

Pada malam hari tertanggal 4 September 2011, maghrib baru saja usai. Pertandingan sepak bola babak kualifikasi Pra Piala Dunia antara Indonesia dan Iran baru akan dimulai. Sosok itu dan Adek Anin sedang asyik makan makaroni kering sambil berbincang-bincang ringan. Dan ketika pertandingan sepak bola sudah akan dimulai, sosok itu begitu antusias duduk di depan TV. Sementara sang belahan jiwa sedang mengolesi tubuh Kakak Bibin yang sedang terkena cacar di kamar atas. Tanpa disadari, Adek Anin telah main ke luar rumah.

Selang beberapa menit kemudian, sebuah teriakan dan tangisan terdengar begitu jelas dari arah luar. Tangisan yang khas. Adek Anin menangis dan suaranya makin mendekat. Sang belahan jiwa yang sudah beres mengurusi Kakak Bibin pun segera berlari keluar, begitu pula dengan sosok itu. Adek Anin tengah dipeluk oleh Mbah Buyutnya. Atta yang merupakan sepupu Adek Anin tiba-tiba berlari keluar dan terjatuh. Suasana bertambah gaduh karena Atta pun ikut menangis. Sosok itu segera menggendong Adek Anin ke dalam rumah. Firasatnya berkata lain.

Sesampai di dalam yang penerangannya lumayan, sosok itu segera mendudukkan Adek Anin di kursi. Seluruh tubuhnya diperiksa untuk memastikan adanya luka atau tidak. Tangisan dengan skala seperti itu menunjukkan bahwa Adek Anin memiliki luka. Dan terlihatlah posisi tangan kanan Adek Anin yang mengepit begitu kuat. Apalagi dengan adanya percikan atau rembesan darah yang keluar dari ketiak kanannya. Sosok itu pun segera mengangkat tangan kanan Adek Anin. Di sana, sosok itu jerih melihat kulit dan daging yang sobek. Itu bukan luka biasa.

Sang belahan jiwa yang melihatnya pun langsung panik. Sementara sosok itu mengambil betadine di kamar atas, sang belahan jiwa menahan luka itu dengan kapas dan adik ipar pun mengambil sebuah produk K-Link yang ditengarai bisa menghentikan pendarahan. Setelah cukup ditahan, sosok itu segera berganti pakaian. Suasana kalut dan sedih bercampur acak. Motor dikeluarkan. Pada malam tim sepak bola Indonesia bertanding melawan Iran, sosok itu bersama sang belahan jiwa telah membelah jalanan diiringan tangisan Adek Anin menuju RS Muhammadiyah. Lukanya terlalu dalam untuk dibiarkan. Sosok itu merasa bersalah dan bersedih, matanya takterasa mengembun menyesali semua kejadian sambil terus mempercepat kendaraannya.

Sesampai di rumah sakit, Adek Anin segera dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Penanganan cepat pun segera dilakukan. Namun Adek Anin bukanlah anak perempuan biasa. Sifat tomboynya membuat dia sangat berontak. Perlu empat orang dewasa untuk menenangkan dan memeganginya saat proses pembersihan dan penjahitan lukanya. Keringat pun mengucur dari tubuh sosok itu. Adek Anin berani melihat alat-alat operasi sambil berteriak dan berontak, tidak mau disuntik anestesi ataupun dijahit. Perawat pun perlu kesabaran ekstra menjahit kulit yang bergerak terus. Ada sekira setengah jam untuk menyelesaikan pekerjaan itu.

Alhamdulillah, proses penjahitan selesai. Total ada tiga jahitan dalam (daging) dan tujuh jahitan luar (kulit) yang kini menempel pada bagian ketiak kanan Adek Anin. Waktu sudah melewati isya. Adek Anin telah tenang dan kini berada dalam pelukan sosok itu. Setelah semua proses administrasi beres, sosok itu dan belahan jiwa pun membawa Adek Anin meninggalkan rumah sakit. Mereka bertiga sempat mampir pada sebuah pasar swalayan langganan di Jl. Ibrahim Adjie (Kiaracondong). Beberapan penganan dan mainan pun dibeli. Adek Anin memang belum mendapatkan hadiah ulang tahunnya. Tentu Kakak Bibin juga harus dibelikan.

Malam tertanggal 4 September 2011 itu jelas adalah malam yang tidak bisa dilupakan oleh keluarga sosok itu, apalagi bagi Adek Anin. Hari itu adalah hari spesial karena ia merayakan ulang tahunnya yang ke-5. Namun, pada hari yang seharusnya sangat menggembirakan itu, ia harus mendapatkan sepuluh jahitan karena ketiak kanannya robek oleh pagar tajam tetangganya. Entah kejadiannya seperti apa, sosok itu taktahu pasti. Dia hanya bisa memperkirakan dari cerita-cerita teman Adek Anin yang kebetulan ada di TKP. Saat pulang dari rumah sakit, pagar yang menjadi saksi itu telah dibongkar oleh pemiliknya. Mungkin pemiliknya merasa bersalah meski hal itu bukan salahnya.

Sudah pasti semua kejadian itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi keluarga sosok itu. Selalu ada hikmah dari kejadian yang begitu cepat dan mengagetkan itu. Sosok itu hanya bisa mengelus dada dan membisikkan istighfar. Semoga ke depannya tidak terulang lagi. Adek Anin, semoga cepat sembuh, ya … []

Advertisements

4 thoughts on “Hadiah Takterduga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s