Tamu Tengah Malam

Pernahkah kamu kedatangan tamu di tengah malam? Kalau iya, tentu akan mengejutkan pastinya. Kalau tamunya tidak berniat baik, siapa pun akan merasa was-was, apalagi jika tamu itu adalah tamu takdiundang. Namun, bagaimana jika tamu yang datang adalah tamu yang sangat diharapkan kedatangannya? Hanya saja, karena satu dan lain hal, tamu tersebut memang datangnya bukan pada jam-jam biasa orang menerima tamu, tetapi pada tengah malam. Tentu akan mengasyikkan dan luarrr biasa!

Lebaran kali ini, sosok itu dan keluarga memang tidak berencana mudik. Kalaupun jadi, itu pun H+7 yang sekali lagi masih menunggu konfirmasi berikutnya. Salah satu alasan utamanya adalah orang tua yang tidak berada di rumah sebagaimana mestinya. Orang tua sosok itu memang tinggal di Jakarta, tepatnya di Kelapa Gading. Namun untuk tahun ini, orang tua berkeinginan lebaran di Wonosobo, Jawa Tengah. Kakak sulung yang tinggal di Suralaya (Banten) pun juga berlebaran ke Nganjuk, Jawa Timur. Ditambah lagi, penyakit yang tidak dapat dihindari menghampiri Kakak Bibin dan Adek Anin. Kakak Bibin terkena cacar air dan api, sedangkan Adek Anin karena kecelakaan yang sudah ditulis laporannya di sini.

Akhirnya sosok itu hanya bisa bertelepon ria dengang orang tua dan kakak perempuannya yang tinggal di Bekasi. Dari sana diketahui kalau orang tua akan pulang kembali ke Jakarta pada 2 September (Ibu) dan 4 September (Bapak). Ibu pulang duluan karena harus membantu tetangga yang akan menikahkan anaknya di Cirebon. Sedangkan Bapak menunggu jemputan sang kakak sulung yang akan mampir dari Nganjuk. Taklama kemudian ada kabar bahwa kakak dan adik perempuan sosok itu juga akan menyusul ke Wonosobo. Sosok itu pun berpikir cepat dan sekaligus mengabarkan bahwa Kakak Bibin dan Adek Anin sedang sakit sehingga tidak bisa kemana-mana, hingga muncullah ide agar keluarganya itu ketika pulang dari Wonosobo ke Jakarta bisa mampir dahulu di Bandung.

Alhamdulillah kabar baik pun datang. Malam Senin ada sms dari sang adik bahwa mereka berencana pulang pada Senin pagi dan akan mampir di Bandung. Sosok itu kemudian memastikan pada Senin pagi bahwa kepulangan mereka memang sesuai jadwal. Dari perkiraan jam berangkat dengan kondisi normal, mereka akan sampai di Bandung pada saat setelah maghrib atau paling telat pukul 21.00. Namun memang arus mudik kali ini masih sulit diprediksi, sehingga mereka pun baru sampai di Bandung pada pukul 00.30. Ya, merekalah tamu tengah malam itu. Mereka adalah bapak sosok itu, kakak sulung dan keluarga (dengan 3 anak: Iya [15 tahun], Didit [14 tahun], dan Ina [9 tahun]), kakak kedua dan keluarga (dengan 2 anak: Nisa [15 tahun] dan Abi [12 tahun]), adik perempuan dan suami. Mereka menggunakan dua mobil.

Sepanjang kemarin, Kakak Bibin dan Adek Anin senang luar biasa. Mereka sudah membayangkan bertemu dengan mbahnya dan juga Mas Abi dan Mbak Ina yang memang dekat. Selepas Isya kemarin, sosok itu itu pun juga sibuk ber-sms dengan sang adik sudah sampai mana-mananya. Kakak Bibin dan Adek Anin menunggu dengan cemas sampai belum tidur dari jam biasanya. Pukul 23.00, mereka diminta untuk tidur karena khawatir Mbah Kakung akan datang pada larut malam nanti. Kalau mereka sudah datang, toh akan dibangunkan juga. Tanpa sadar, sosok itu pun memejamkan mata sambil menyimpan HP-nya takjauh agar mudah dijangkau kalau ada telepon atau sms.

Pada pukul 00.30 ada telepon masuk dan mereka sudah tiba. Anak-anak dibangunkan. Sementara yang lain masih tertidur, keluarga sosok itu berjumpa dengan penuh haru dan bahagia. Malam di Bandung saat itu masih berhawa dingin, tetapi untunglah tidak sedingin hari-hari kemarin. Dinginnya pun belum mengalahkan dinginnya udara Wonosobo, katanya. Minuman penghangat disuguhkan oleh sang belahan jiwa. Kakak Bibin dan Adek Anin awalnya masih malu-malu hingga menjelang kepulangan barulah mereka bisa dekat dengan Mbak Ina maupun Mas Abi. Cerita pun bergulir dari satu mulut ke mulut lainnya. Sosok itu merasakan kebahagian yang luar biasa. Siapa yang tidak senang dikunjungi oleh orang tua maupun sanak keluarga yang lama takbersua?

Waktu bergerak terasa cepat. Pukul 02.00 mereka harus pergi kembali. Perjalanan mereka ke Jakarta masih 3-4 jam lagi. Tentu mereka tidak ingin berleha-leha. Belum lagi kakak sulung yang masih meneruskan perjalanan ke Merak dan akan beristirahat total di Kelapa Gading. Meski berat, sosok itu harus melepas kepergian keluarga tercintanya. Oleh-oleh yang telah disiapkan sejak sore pun sudah berpindah tangan. Mas Abi memberikan seplastik kue coklat pada Adek Adin. Dia senang sekali. Bagi mereka, kedatangan mbahnya–meski tidak ada Mbah Uti–dan juga saudara-saudaranya itu adalah berkah yang luar bisa. Sosok itu dan sang belahan jiwa juga merasakannya. Berkahilah keluarga besar kami ya Allah … amin.[]

Advertisements

One thought on “Tamu Tengah Malam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s