Mencicipi Soto Betawi

Berkendaraan malam-malam dan dalam kondisi perut yang kosong tentu akan terasa tidak nyaman. Entah malam kapan, sosok itu bersama sang belahan jiwa dan Adek Anin berkendaraan malam-malam. Bukan kebetulan kalau sosok itu belum makan malam, begitu pula dengan sang belahan jiwa, sehingga sepanjang perjalanan obrolan pun diisi akan makan apa dan di mana. Sementara motor melaju dengan kecepatan sedang karena belum memastikan tempat kuliner yang bisa disinggahi.

Melewati Jl. Buah Batu, mata sosok itu dan sang belahan jiwa pun berputar-putar antara kanan maupun kiri jalan. Kali-kali saja ada tempat kuliner yang bisa disambangi. Mau pecel lele atau mie Aceh. Nasi rames atau hanya sekadar nasi goreng. Semua berputar dan hanya lewt begitu saja. Setelah melewati Griya dan kantor polisi, pandangan kami pun tertujut pada gerobak di sebelah kiri jalan. Sang belahan jiwa pun memutuskan untuk mampir dan mencoba soto Betawi.

Ya, inilah pilihan kami pada akhirnya. soto Betawi. Sosok itu lupa, meskipun lahir dan besar di tanah Betawi, dia merasa belum pernah merasakannya. Baginya, semua soto itu sama. Perbedaannya hanya terletak pada kandungan dagingnya, apakah berbahan ayam atau berbahan jeroan sapi yang biasa disebut dengan babat. Dan ternyata soto Betawi itu campuran dari keduanya, ada ayam dan juga jeroan sapi. Jujur, sosok itu tidak terlalu suka dengan jeroan sapi.

Namun, demi menenangkan perutnya yang kelaparan, sosok itu dengan terpaksa harus mencoba soto Betawi kali ini. Taklama untuk menanti kedatangan satu mangkok berisi kuah berwarna kuning dengan taburan tomat yang menyegarkan mata, plus sepiring nasi. Jeroan yang tampak awalnya begitu menakutkan di mata sosok itu. Akan tetapi inilah makanan khas Betawi. Semuanya sudah diolah sehingga bisa dimakan dengan nikmat, apalagi dalam kondisi lapar. Akhirnya, sosok itu pun makan dengan lahapnya. Soto dengan harga Rp15ribu seporsi itu pun dicicipinya dengan ikhlas.

Alhamdulillah, ternyata sajian soto yang ada di hadapannya langsung ludes dalam sekejap. Semuanya taktersisa. Sosok itu merasakan nikmat yang luar biasa karena lidahnya bisa mencicipi soto Betawi yang khas. Dalam kondisi lapar, sosok itu tidak bisa menilai enak tidaknya soto yang baru dimakannya itu. Akan tetapi menurut sang belahan jiwa, soto Betawi yang baru dimakannya itu lumayan nikmat tetapi masih kalah nikmat dengan soto Betawi yang ada di Jl. Malabar, dekat Sekolah Pariwisata Sandi Putra. Entahlah, sosok itu tidak terlalu mengerti soal rasa. Perutnya hanya lapar dan pastinya akan nikmat jika diisi dengan makanan apa pun.[]

Advertisements

One thought on “Mencicipi Soto Betawi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s