Ratih Sang: Talent Miracle

Ratih Sang adalah pemeluk teguh. Puisi-puisinya lahir dari keteguhan imannya. Kebenaran telah menuntunnya menuju sumber dari segala sumber yang telah mengaruniainya pencerahan. (Danarto, penulis, budayawan)

Puisi-puisi Mbak Ratih Sang dalam antologi ini tersusun dalam bahasa yang anggun, menyentuh, dan indah. Terasa sekali ajaran sufistik yang terkandung di dalamnya. Ajaran yang mengajak manusia berakhlak baik kepada Tuhan, alam, dan sesama. Saya bisa merasakan bahwa puisi-puisi ini ditulis dengan jiwa. (Habiburrahman El Shirazy, penulis)

Siapa yang tidak kenal Ratih Sanggarwati–yang kini dikenal dengan sebutan Ratih Sang–, seorang peragawati, model, pemain sinetron, pengusaha, dan penulis dari Indonesia. Kariernya bermula saat beliau masuk SMU di Madiun dan mengikuti Lomba Pemilihan Putri Indonesia yang diselenggarakan oleh majalah Gadis. Beliau menjadi salah seorang dari 20 finalis ajang itu, bahkan terpilih sebagai Puteri Photogenic Lux 1980. Dari sanalah prestasinya terus berkembang hingga berhasil terpilih sebagai None Jakarta 1983.

Ratih Sang mengunjungi Penerbit Sygma

Jumat kemarin, Ratih Sang mengunjungi kantor sosok itu. Pucuk dicinta ulam tiba. Beliau mempelajari proses pembuatan Al-Quran, khususnya untuk produk Miracle The Reference yang kini sudah menyediakan konsep e-Pen yang mempermudah mempelajari Al-Quran melalui teknologi pen elektronik. Ratih Sang melihat bagaimana Miracle didesain sedemikian rupa, dicetak, hingga dikemas menjadi sebuah produk yang nyaman dan enak dibaca. Semua proses itu bukannya tanpa sebab, karena Ratih Sang sudah didaulat menjadi talent (bintang iklan) bagi TV Commercial (TVC) untuk produk Miracle The Reference e-Pen.

Pemilihan Ratih Sang sebagai talent Miracle The Reference seperti sebuah keajaiban yang sudah diatur oleh Sang Maha. Keputusannya mengenakan jilbab pada tahun 2000 dan meninggalkan dunia model adalah jalan keajaiban bagi kehidupan dirinya. “Sekarang tiap malam saya bangun (bertahajud-red) hanya untuk membayar masa lalu saya yang lalai. Kelalaian agama selama sebelas tahun lampau yang tak sanggup saya bayar,” ujarnya pada acara talkshow di Aceh beberapa waktu yang lalu. “Bayangkan, ketika itu saya pakai rok mini lalu diikuti oleh sekian orang, masya Allah, alangkah berdosanya saya. Saya juga merenung lagi, bahwa doa anak yang shalehlah yang diterima Allah, lalu bagaimana bisa saya mendoakan orangtua saya? Lantas bagaimana pula saya menjadi teladan bagi anak-anak saya. Bukankah seorang ibu sama dengan madrasah bagi anak-anaknya?”

Hingga akhirnya keinginan untuk berjilbab makin mantap saat sebuah produk kecantikan memerlukan model yang mengenakan jilbab. Dua hari setelah penandatanganan produk kecantikan islami tersebut (Oktober 2000), Ratih Sang mantap mengenakan jilbab. “Saya rindu kepada Engkau, ya Allah. Tolong saya dimudahkan. Ya Allah, saya takut popularitas menjauh dari saya. Saya takut kehilangan uang yang telah lama saya kumpul dari jerih payah saya. Saya takut kehilangan teman dan pergaulan jet set saya. Saya takut keluarga tak mendukung saya. Saya takut wartawan menjauhi saya.”

Pada akhirnya semua pertanyaan batinnya itu langsung dibayar tunai oleh Sang Maha. Keluarganya justru makin sayang padanya. Adik-adik iparnya menyusul mengenakan busana muslim. Wartawan sampai sekarang tidak menjauh darinya. “Masya Allah. Hanya untuk baca puisi (selama 6 menit-red) saya dibayar tiga kali lipat dari honor waktu saya menjadi top model,” ungkapnya. Beberapa bukunya pun juga laris manis hingga dicetak ulang berkali-kali.

Tulisan Ratih Sang

Ratih Sang memiliki sekolah model dan kursus pengembangan kepribadian yang bernama `Ekpose’, juga butik busana muslim `Sang Saqinah’ yang telah dirintis sejak tahun 2001. Mantan model yang memiliki tinggi 172 cm ini tampak terlihat jangkung di lingkungan kantor sosok itu. Istri dari Isman Budisepta Zen yang asli Ngawi itu juga tampak tak canggung dan cenderung senang bisa berfoto dan mengobrol dengan teman-teman kantor sosok itu, baik perempuan maupun laki-laki. Bahkan, beliau pun tak segan meminta sosok itu untuk duduk berdampingan dengannya saat sesi foto bersama. Meski hanya sebentar, ibu dari tiga orang anak (Dhianya Nuasnigi Zen, Sanyadwia Ghinasni Zen, dan Danyafatima Hasnuagi Zen) ini berhasil mengisi hari Jumat yang cerah kemarin di Penerbit Sygma, meski keinginan sosok itu untuk makan siang bersama dengannya tak berhasil diwujudkan karena jadwal Ratih Sang yang begitu padat.

Semoga, jalinan kerjasama Ratih Sang sebagai talent untuk produk TVC Miracle The Reference dengan pihak kantor sosok itu adalah sebuah keajaiban yang nyata. Keajaiban bagi beliau sendiri maupun bagi perusahaan dan seluruh karyawan yang bernaung di bawahnya. Semoga keberkahan melingkupi semua yang terlibat di dalamnya. Amin. Keberkahan yang diharapkan oleh Ratih Sang. “Saya memang harus punya pertemuan dengan Allah. Pertemuan yang akbar adalah kematian. Pertemuan-pertemuan kecil ketika kita beramal, amalan ibadah, shalat. Dalam berpuasa pun kita sedang ingin menemui Allah. Karena ketika berpuasa, kita merasa orang yang lapar. Dan biasanya orang yang lapar adalah kekasih Allah. Barangkali kalau ada setitik kebenaran di dalamnya (tulisannya-red) karena Allah, semoga bisa dibuat cermin. Kalau ada kejelekan-kejelekan dalam hidup saya, mudah-mudahan tidak terjadi pada orang yang membacanya.”[]

Ratih Sang dan Sosok Itu

Doa Imajiner (Ratih Sang)

Doa yang kupanjatkan ketika selesai menikah: “Ya Allah, beri aku anak yang sholeh dan sholehah, agar mereka dapat mendoakanku ketika nanti aku mati dan menjadi salah satu amalanku yang tidak pernah putus.” Dan doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah beranjak remaja: “Ya Allah, jadikan anakku bukan pengikut arus modernisasi yang mengkhawatirkanku. Ya Allah, aku tidak ingin ia mengumbar auratnya, karena dia ibarat buah yang sedang ranum.”

Ketika kupanjatkan doa-doa itu, aku membayangkan Allah tersenyum dan berkata, “Engkau ingin suami yang baik dan soleh sudahkah engkau sendiri baik dan solehah? Engkau ingin suamimu jadi imam, akankah engkau jadi makmum yang baik? Engkau ingin anak yang solehah, sudahkah itu ada padamu dan pada suamimu. Jangan egois begitu, masak engkau ingin anak yang solehah hanya karena engkau ingin mereka mendoakanmu. Tentu mereka menjadi solehah utama karena-Ku, karena aturan yang mereka ikuti haruslah aturan-Ku. Bagaimana engkau dapat menahan anakmu tidak menebarkan pesonanya dengan mengumbar aurat, kalau engkau sebagai ibunya jengah untuk menutup aurat? Sementara engkau tahu Aku wajibkan itu untuk keselamatan dan kehormatan umat-Ku.”

Lantas … aku malu dengan imajinasiku sendiri. Aku malu … aku malu akan tuntutanku. Maafkan aku, ya Allah. Lantas aku malu dengan imajinasiku sendiri.

(Gunung Geulis, 25 Desember 2002)

Advertisements

5 thoughts on “Ratih Sang: Talent Miracle

  1. saya sih baru baca artikel ini barusan banget…. sementara artikel yg sudah saya selesaikan sudah rampung sejak sore tadi sama-sama ttg Ratih Sang … Mudah-mudahan bisa sama2 menarik seperti artikel di atas 😉

  2. Salam Bang Aswi,
    Saya sangat teruja membaca kisah Ratih Sang..hebatnya kuasa DIA…dan pada saya Ratih Sang seorang yg terpilih dan sangat beruntung.Salam buat Ratih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s