Anak dan Dunianya

Berbicara tentang dunia anak memang tidak pernah ada habisnya. Selalu saja ada yang menarik untuk diulas. Apalagi kalau membaca beberapa cerita para blogger yang notabene adalah ibu-ibu. Mereka dengan sangat antusias menceritakan tentang anak-anaknya. Meskipun apa adanya, cerita mereka selalu menarik untuk disimak. Ya, dunia anak-anak itu seperti kotak tukang sulap yang selalu menarik untuk dibuka. Bukan hanya kelinci atau merpati putih yang keluar, tetapi bisa jadi ada badut atau bahkan bunga yang berwarna-warni. Pastinya … seru!

Kali ini, sosok itu akan bercerita tentang permainan pada dunia sang kurcaci. Dan tentu saja sosok itu sangat berantusias jika yang dibicarakan adalah permainan tradisional atau berbau alam, bukan elektronik yang belum pada waktunya diperkenalkan kepada mereka. Okelah perkenalan pertama pada game elektronik dimunculkan agar mereka mengerti tentang perkembangan teknologi yang semakin modern, tetapi tetap saja harus dibatasi. Pada waktunya, mereka akan paham tentang dunia teknologi itu dengan ilmu dasar yang tentunya sudah mereka kuasai (yang didapatkan dari orang tua maupun lingkungan belajar di sekolah).

Dunia TV lebih berbahaya lagi meski hanya sebagian kecilnya yang bermanfaat. Tidak perlu lagi sosok itu membahas beberapa tayangan yang membuat kepala para orang tua menggeleng (bagi yang mengerti), tetapi mari kita kerucutkan bahasannya pada bidang iklan di TV. Ya, iklan. Iklan sering sekali dianggap mengganggu pada saat kita menikmati tayangan yang ada. Akan tetapi iklan adalah sumber pemasukan sebuah stasiun televisi sehingga mau tidak mau kita harus mengonsumsi iklan. Bagaimana lagi? Namun, iklan menjadi sangat berbahaya bila tidak ada rambu-rambu yang menjaganya. Dan Indonesia (lagi-lagi) adalah negara yang penjagaan kualitas pendidikannya masih terlalu longgar.

Swedia adalah salah satu negara yang paling ketat aturannya di Eropa. Pada 1991, negara ini sempat menyatakan larangan beriklan di TV dan radio yang menyasar anak-anak di bawah usia 12 tahun. Alasannya karena anak-anak umur sekian masih dianggap tidak bisa membedakan maksud dan tujuan beriklan dengan macam komunikasi yang lain. Di Belgia, pengiklan dilarang menyiarkan iklan pada saat program anak-anak, dan juga 5 (lima) menit baik sebelum maupun sesudahnya. Australia pun tidak membolehkan tayangan iklan pada saat ditayangkannya program acara yang ditujukan untuk anak-anak rentang umur pra sekolah. Sedangkan di Amerika, dulu sempat membatasi durasi iklan yang dipasang pada program anak-anak: taklebih dari 10,5 menit per jam pada hari kerja. Batasan waktu itu masih tetap berlaku di beberapa daerah sampai saat ini. Coba bandingkan dengan aturan iklan di Indonesia?

Kalau mau disimpulkan, ada beberapa aturan yang seharusnya ditaati oleh para pengiklan di Indonesia, mudah-mudahan. Beberapa diantaranya yaitu:

  • Tidak boleh menggunakan kata ‘baru’ atau ‘memperkenalkan’ selama lebih dari 1 (satu) tahun.
  • Tidak boleh berlebihan (terbesar, terhebat, dll).
  • Tidak boleh menampilkan adegan berbahaya.
  • Tidak diperbolehkan untuk mengatakan bahwa si anak ‘harus’ membeli produknya.
  • What you see is what you get.
  • Tidak boleh ada sugesti akan lebih baik setelah memakai produk iklan.
  • Tidak boleh ada iklan yang sama kurang dari setengah jam agar tidak berkesan ‘cuci otak’.

Nah, bagaimana dengan permainan anak? Sekali lagi sosok itu tidak akan membahas masalah permainan modern yang menggunakan perangkat elektronik. Permainan anak yang tidak boleh dilupakan dan ditinggalkan adalah permainan yang membutuhkan ruang tak terbatas di luar sana. Permainan yang bahan dasarnya adalah ruang terbuka. Banyaknya permainan elektronik yang  sangat menarik memang membuat anak lebih sering berkegiatan di dalam ruang.  Hal ini tentu kurang baik bagi perkembangan dan kesehatannya. Ada beberapa tips yang perlu diperhatikan orang tua agar anak  tertarik bermain di luar, yaitu:

  1. Jika memungkinkan, ciptakanlah halaman depan atau belakang yang nyaman untuk anak.
  2. Beri anak tempat di kamar, teras, atau ruang lainnya untuk menyimpan dan “memamerkan” hasil temuan mereka dari alam yang ingin disimpan.
  3. Sediakan peralatan-peralatan khusus untuk “petualangan” luar ruang,  misalnya sekop kecil, kaca pembesar, sarung tangan, dan lain-lain.  Anak-anak biasanya senang dengan perkakas-perkakas seperti ini.
  4. Saat mengajak anak bermain di luar ruang, biarkan mereka bereksplorasi  sebebasnya. Mengawasi dari dekat boleh saja tetapi tidak perlu ikut nimbrung kecuali diminta.
  5. Mau ke warung atau ke mini market di  depan kompleks? Jika memungkinkan, ajak anak berjalan kaki atau bersepeda dibanding  naik mobil atau motor. Lebih menyehatkan.
  6. Jika ada waktu, ajak anak menikmati kekayaan alam terdekat, misalnya ke gunung, kebun teh, air terjun, pantai, dan lain-lain.

Masih  banyak lagi kegiatan yang bisa dilakukan bersama anak di luar ruang. Misalnya bermain bola, bermain air, dan menyiram tanaman. Pilih mana  yang paling disukai anak agar dia semangat dan tertarik melakukannya.[]

Sumber informasi berasal dari Majalah Concept dan berita di Tribun Online.

Advertisements

5 thoughts on “Anak dan Dunianya

  1. benar sekali bang, permainan elektronik merampas dunia anak :(.
    saya selalu berusaha “mengusirnya” keluar rumah setiap sore, bersepeda atau sekedar berlarian dengan teman2nya.

    >> Saatnya kita merampas kembali kebahagiaan anak2 kita dengan permainan alam, Teh!

  2. umar paling suka main excavator dengan pasir beneran di luar rumah, azkiya sukanya menyiram bunga. 😀

    >> Pastinya seru ya, Put. Semuanya harus dijaga dan tetap diperhatikan. Tidak boleh lepas …

  3. bener banget itu Bang, anak2 harus diperkenalkan juga dgn permainan yg mendekatkan diri dgn alam,
    dulu waktu anak2ku masih kecil, kebetulan rumah kami punya halaman yg lumayan luas, jadi kadang kami pura2 kemping dgn tenda di halaman, yg sekarang dah gak bisa lagi, krn halamannya sudah sangat kecil sekali 🙂
    salam

    >> Iya, memang anak2 harus diperkenalkan dengan lingkungan alam. Alhamdulillah ya mereka bisa merasakan semua pengalaman itu. Saya pun dulu juga gitu, tinggal anak2ku saat ini yang harus merasakannya kembali. Semoga bisa ^_^

  4. Benar sekali bang aswi.. Sama halnya dengan bunda diatas.. Nasihatnya sama persis yang eyang sy sering bilang.. Anak itu harus dikenalkan dengan alamnya.. Ya so pasti kegiatan yg aktif dsb.. Semoga orangtua jaman kini mengerti hal ini.. Ntar bs2 generasi muda pada anti sosial semua.. Bisa kacoooooo.. 🙂

    >> Semoga akan banyak orang tua yang memahami hal itu bahwa anak harus dikenalkan pada alam. Juga didukung oleh pemerintah atau pihak terkait berkenaan dengan fasilitas publik berupa lapangan atau taman yang nyaman. Amiiin … ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s