International Mail Art

Every day, think as you wake up,
Today I am fortunate to have woken up,
I am alive, I have a precious human life.

Pagi tadi, sosok itu dan sang belahan jiwa menggowes bersama menuju Bandung Utara. Awalnya diniatkan menuju warung bandrek (warban) tetapi apa daya mereka berdua malah berbelok ke Masjid Salman ITB. Sempat bernostalgia sambil sarapan bubur ayam dimana mereka berdua bertemu untuk pertama kalinya. Sampai akhirnya mereka pun sepakat untuk janjian bertemu dengan Bunda Ida, sang goweser asal Threeple-C di Taman Ganesha.

Gowes ke Bababakn Siliwangi

Setelah mengobrol dan mengutarakan maksud utama, mereka bertiga pun sepakat untuk menggowes menuju Babakan Siliwangi (Baksil). Perlu diketahui bahwa kawasan hutan Baksil sudah ditetapkan menjadi salah satu hutan kota dunia pada bulan September kemarin. Dan yang didapatkan dari sosok itu, sang belahan jiwa, dan Bunda Ida di kawasan hutan Baksil tidak hanya keindahan dan kesegarannya, melainkan juga kesempatan mengunjungi Pameran Kartu Pos Internasional atau 2nd International Mail Art Exhibition 2011 di Sanggar Olah Seni (SOS), Babakan Siliwangi.

Pameran yang bertema Peace “Journey to The East” ini menampilkan sedikitnya 250 kartu pos yang dikirim sejumlah kepala negara, perdana menteri, pemenang nobel, musisi, selebritis, olahragawan, dan masyarakat dunia dari 48 negara yang dihimpun lewat pengiriman PO BOX oleh Toni Antonius dan Evie Satijadi selama satu tahun terakhir. Beberapa di antaranya adalah kartu pos dari legenda hidup sepak bola dunia Pele dan juga Miss USA 2010, Rima Fakih.

International Mail Art

Pameran ini dibuka sejak hari Minggu (25/9/2011) dan ratusan kartu pos itu tergantung di dalam limas piramida tembus pandang berukuran panjang tiap sisi 5 meter dengan tinggi 3,5 meter. Semua kartu pos itu memuat foto, pesan tertulis, dan lukisan. Meski pameran ini selesai hingga 03 Oktober 2011 kemarin, sosok itu sungguh beruntung masih dapat menyaksikannya. Beberapa para tokoh yang terlibat diantaranya adalah Paulo Coelho, Jacky Collins, Presiden Yunani, Gubernur California Arnold Schwarzenegger, Presiden Israel Simon Perez, mantan Presiden George Bush, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kartu mereka berdampingan dengan kiriman surat dari atlet Mika Duno, Boris Becker, Joseph Blatter, Miss Universe 2009 Stefania Fernandez, aktris Nichole Kidman, Shu Qi, Yoko Ono, John Travolta, Al Jarreau, Elizabeth Taylor, dan Jacky Chan.

Tiga bait penggalan puisi di atas adalah kiriman dari Dalai Lama berjudul “A Precious Human Life” yang dalam kartu posnya juga dilengkapi oleh tanda tanganya. Sebagian besar tokoh terkenal dunia itu umumnya memakai surat beserta foto diri dalam gaya formal dan potret. Puluhan seniman, seperti dari Argentina, Australia, Brazil, Kanada, Cili, Cina, Kolombia, dan Italia, memilih cara lain. Ada yang melukis suratnya atau membuat kolase gambar. Tak hanya memakai kertas, seorang seniman Italia, Roberto Barlati, misalnya, melukis di atas plastik pembungkus barang elektronik.

Pameran Kartu Pos Internasional

Pameran yang digagas Evie Satijadi, Toni Antonius, dan Deden Sambas dari SOS Babakan Siliwangi itu diadakan dua tahun sekali. Permintaan kiriman itu ke kotak surat 6622 dimulai sejak tahun lalu lewat surat elektronik. Menurut Toni, pameran ini menampilkan jenis karya seni rupa lain dalam bentuk surat. Panitia membebaskan bentuk ekspresi seni dan tanggapan pengirimnya. Surat dinilai makin berharga karena telah melewati perjalanan panjang. Kiriman yang tiba dalam kondisi rusak, lecek, sobek, dicoret-coret, bahkan terkena sensor petugas pos, seperti gambar perempuan telanjang, menjadi nilai lebih dari seni surat ini.

Menurut Deden Sambas, seni surat memang kurang dikenal di Indonesia, tapi di luar negeri cukup populer untuk menjalin jejaring dan dukungan tokoh dunia serta seniman terhadap isu tertentu. Misalnya untuk kepedulian terhadap veteran perang di Jerman baru-baru ini. Pada pameran kali ini, kata Deden, tema perdamaian disuarakan secara global. Bagi Bandung dan SOS sendiri, jaringan dan dukungan luas dibutuhkan untuk isu lingkungan yang kembali menghangat, yaitu kontroversi pembangunan rumah makan di kawasan hutan kota Babakan Siliwangi. Sanggar yang berdiri sejak lama di pinggir hutan itu terancam tergusur.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s