Curettage = Kaliptra

Ada seonggok daging di keranjang itu … dengan darah yang menggenang! Sementara di luar sana, aku tahu hampir semua orang tengah bergembira. Berkumpul bersama keluarga dan kerabat dengan hidangan khas ketupat yang memiliki nilai magis tiada dua.

Kisah di atas pernah ditulis oleh sosok itu di KALIPTRA. Kisah nyata yang dialami oleh sosok itu saat merayakan Idul Fitri pertama setelah berumah tangga. Dan kini, kisah itu kembali terngiang saat sang adik di Jakarta sana harus mengalami hal serupa: Dikuret! Ya, curettage adalah semacam tindakan medis yang harus dilakukan untuk mengeluarkan janin yang tidak berkembang. Kuret adalah kata halus dari aborsi. Keduanya sama-sama memerlukan tindakan yang harus dilakukan tetapi esensi niatnya berbeda.

Sang adik sudah dua kali mengalami gagal kehamilan. Yang pertama usia kandungannya masih muda sekali sehingga tidak diperlukan tindakan curettage. Sedangkan yang kedua, baru saja terjadi dua hari lalu dan harus dilakukan tindakan medis itu. Jelas ini merupakan pukulan telak bagi sang adik maupun suaminya. Sudah beberapa tahun mereka mengharapkan seorang anak. Sosok itu hanya bisa menyemangati dan memberikan doa terbaik untuk keduanya. Mereka berdua sedang dicoba, hal yang sama dialami oleh sosok itu di awal pernikahan. Ada banyak hikmah yang tersimpan di balik peristiwa itu. Sosok itu dan sang belahan jiwa telah memahaminya hingga di kemudian hari bisa bercengkerama dengan Kakak Bintan dan Adek Anin. Semoga sang adik dan suaminya diberi kesabaran dan keberkahan dalam keluarganya. Amin.

Pada hari kemenangan bagi seluruh umat Muslim itu, Umi harus mengalami pendarahan di tempat kerjanya. Pendarahan yang merupakan gagalnya janin pertama kami membentuk dengan sempurna. Termasuk gagalnya rencana kami untuk berlebaran di Jakarta. Seonggok daging di keranjang dengan darah yang menggenang itu adalah janin kami berdua. Janin pertama kami yang seharusnya jadi berita gembira bagi keluarga besar kami di hari yang paling bahagia.

Tak ada angin di ruangan itu. Tak ada suara hingga ukuran mikrodesibel sekali pun. Dua manusia, namun seolah-olah mati. Mati oleh perasaannya sendiri. Terkalahkan oleh kematian yang membuat segalanya berubah. Kematian yang membuat ruangan itu laksana kubur. Gelap dan terasing. Benar-benar senyap.

Kaliptra itu telah pecah. Tidak, bukan pecah, tetapi menguap. Pelindung jasad suci itu telah kembali pada asalnya yang lebih berhak. Memang tidak seperti tumbuhan lumut yang kaliptranya mampu melindungi spora-sporanya hingga siap disebarkan, kaliptra milik kami bukannya tidak mampu. Justru kami berdualah yang tampaknya tidak mampu. Sang Penguasa Jagad lebih tahu apa yang terbaik bagi kami berdua. Belum saatnya bagi kami untuk memiliki anak. Belum sekarang.[]

Baca juga artikel sebelumnya atau melihat daftar isi

Advertisements

3 thoughts on “Curettage = Kaliptra

  1. hmmmm …. saya tau banget rasanya ‘kehilangan’ itu …
    semoga adik di Jakarta bisa melewati semua ini dengan tegar ya ..

    >> Terima kasih, Teh Dey …

  2. Hiks..pasti menyakitkan ..
    sabar ya buat sang adik..

    wah ummi pernah mengalaminya pula..
    lebaran pula..

    >> Pastinya, Nchie. Iya … T_T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s