Perjalanan Hati

Jika benar cinta ini karena-Nya, biarkanlah ia mengikuti aliran-Nya
Cinta berhulu dari-Nya, maka ia pun akan berhilir kepada-Nya
Duhai Sang Maha, jika aku ditakdirkan untuk jatuh cinta
Cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu

Sederhana. Ya, wajahnya begitu sederhana. Sorot matanya juga meneduhkan. Kalau pun senyumnya bisa kugambarkan, ia laksana kesejukan tetesan embun pagi yang jatuh pada mawar merah. Hmmm … kadang aku tersenyum sendiri jika mengingatnya, meski aku belum pernah berjalan bersama selangkah pun dengannya dan bahkan tidak memiliki kenangan bersama dengannya. Senyumnya juga tak pernah sampai padaku, entahlah. Aku selalu berusaha mencari garis lurus agar mataku dapat terhubung pada matanya. Di antara banyak manusia, aku selalu berusaha mencari celah itu hingga laksana orang dalam kegelapan yang sedang mencari setitik putih meski bukan cahaya.

Dan pencarian itu sulit untuk didapat. Meski begitu, aku tak mudah begitu saja menyerah. Hingga akhirnya aku mendapatkan sebuah senyum darinya. Aku tak peduli senyum itu murni atau tidak, yang pasti ia memberikan kelapangan dada. Senyum yang memberikan salam, laksana sapaan kerinduan atau berbentuk lambaian tangan atau bahkan bergambar bunga di atas kertas. Hatiku hangat saat itu. Akan tetapi, di balik itu aku juga merasakan kesesakan dan kesakitan. Senyumannya itu tampak menyebar ke mana-mana, bukan hanya untuk aku seorang. Inikah cemburu? Apakah sebelumnya pernah kukatakan cinta? Ah, mungkin perasaan ini hanyalah sifat iri yang muncul dari ketidakberdayaanku untuk berada dalam pikirannya, meski sesaat.

Pada akhirnya, cinta itu telah terkatakan. Ada kelegaan di sana, meski kemudian hatiku kembali menyendiri saat mendengar jawabannya. Jawaban yang begitu jelas, bak sinar matahari yang menyengat kulit di siang hari pada musim panas. Hatiku lalu mencoba menghibur diri. “Siapa yang menjamin bahwa ini adalah cinta? Siapa yang bertaruh bahwa ini adalah cinta? Tidak ada.” Hatiku pun sudah sulit mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’. Inilah cinta sebatas manusia, yang pelukan kehidupan akan melepaskannya lalu tergantikan oleh genggaman kematian. Kedewasaan hati memang belum berkunjung, tetapi harapan dan penantian itu akan selalu ada. Canda tawa bersama sahabat pun akhirnya menjadi penawar obat yang mujarab.

Siang selalu disambut malam dan kegelapan pun selalu berujung cahaya. Pada saat kekecewaan begitu menjadi warna di hati, tak disangka dan tak direncana dia yang lain datang menghampiriku. Dia yang kedua menghampiriku laksana angin yang dihembuskan oleh para sahabat tentang perasaan hatinya padaku. Tentang kerinduan akan diriku yang disembunyikannya dan undangannya kepadaku ke dalam mimpinya. Hatiku pun berbalas di hatinya dan dia bersedia menjadi teman di pelabuhan kesunyian. Sekuntum mawar mewakili perasaanku. Keindahannya mewakili kebahagiaanku untuk berjalan dengannya, dan kuanggap seperjalanan sampai ajal.

Dia yang kedua jelas berbeda dengan dia yang pertama. Dia yang pertama begitu anggun tetapi terasa angkuh hingga hatiku tak pernah sampai padanya, sedangkan dia yang kedua begitu ramah dan hatiku begitu mudah merebahkan diri pada rengkuhannya. Namun, keramahan itu menimbulkan kecemburuan tatkala tersebar ke sekelilingnya. Hari-hariku lalu menjelma bahagia dan takut. Kebahagiaan yang entah dan membuatku menjadi kehilangan kepercayaan diri hingga membuatnya pergi tanpa alasan. Aku pun memerih kesepian. Kedewasaan yang dulu masih kunanti, belum juga berkunjung melawan perasaan dan belum juga menyapa untuk sekadar menemani. Sampai akhirnya dia yang ketiga mengelilingiku.

Kesegaran angin pagi. Jejak tawa dari sekumpulan rumput. Dinginnya kabut yang membelai. Musim gugur yang datang menjengukku di negeri dua musim ini. Nafas dedaunan pada semua atap langitku. Permadani alam di sepanjang perjalananku. Kukatakan kepada mereka semua, “Terima kasih telah datang sebagai sahabat sejatiku, yang menjaga cinta ini tetap bersemayam di dalam hatiku. Kesederhanaan alam yang telah menjadi candu akan rinduku.” Dan mereka pun tersenyum. Tersenyum ikhlas, tanpa meminta aku harus seperti apa. Namun, di tengah keramaian alam aku kembali merasakan sepi. Aku hanyalah manusia yang sudah kodratnya rindu dengan sahabat seperjalanan.

Manusia memang unik.  Mereka tidak seramah angin malam. Mereka tidak sedekat bintang di alam pedesaan. Mereka tidak sesejuk pepohonan, dan senyum mereka pun tidak setulus cahaya fajar. Namun di antara mereka masih ada bunga. Di antara mereka masih ada embun. Di antara mereka masih ada yang meneteskan zikir dari bibirnya. Dan dari mereka, aku pun mengenal bentuk cinta dan keindahan hakiki. Duhai Sang Maha, kurasakan tuntunan tangan-Mu menggandengku dan kurasakan suara-Mu menunjukkan jalan untukku. Kuingin berhenti menapaki perjalanan hati ini dan menetapkan cinta ini hanya kepada-Mu. Akan tetapi kerinduan ini terus menarikku menempuh perjalanan yang kurasa masih panjang. Duhai Sang Maha, tolong warnai perjalanan hati ini.[]

NB: Tulisan ini ditemukan oleh sang belahan jiwa di antara tumpukan kerja di kantornya. Awalnya, tulisan ini dianggap sebagai milik rekan kerjanya karena bertumpuk bersama berkas-berkas miliknya. Namun, di bawahnya tertera tulisan khas sosok itu, yaitu aswi (c) 1422H. Bisa jadi tulisan ini adalah memang tulisan sosok itu. Gaya penulisannya khas sosok itu, tetapi dia tidak ingat. Aih, merinding juga sosok itu membacanya dan pernah menulisnya 10 (sepuluh) tahun yang lalu. Sedangkan puisi di atas, bukan milik sosok itu. Hanya saja puisi itu tampak bersinergi dengan tulisan ini.

Advertisements

2 thoughts on “Perjalanan Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s