TV-ku Sayang

Aku harus berpikir cepat. Dan tiba-tiba saja sebuah lampu yang terang benderang telah menyala di angan kepalaku. Aku segera mengambil sebuah gelas dan menyiapkan teh celup serta gulanya. Kemudian aku menuangkan sedikit air panas ke dalam gelas itu. Sangat sedikit. Sesaat aku merenung kembali. Memperhitungkan kembali rencana yang akan kulaksanakan. Setelah yakin aku langsung menjatuhkan gelas itu dan … PRANG!

Aku diam dan menajamkan telinga. “Papiii…, apa itu yang pecah!” suara Mami terdengar berteriak dari ruang tengah. Aku tersenyum. Rencanaku berhasil. “Gelas, Mi!” sahutku langsung. “Kok, bisa pecah. Memangnya Papi lagi bikin apa?” teriak Mami lagi. Masih dari ruang tengah. “Lagi bikin teh, Mi. Tapi airnya kepanasan dan enggak sengaja tangan Papi nyenggol gelasnya,” teriakku lagi mengharap. Mengharap agar Mami mau ke dapur. “Makanya hati-hati, Pi. Ya, udah kalau gitu bersihin sendiri ya, Pi!” teriak Mami memporakporandakan rencanaku.

Aku mendengus kesal. Kuambil serbet kotor dan kucampakkan begitu saja ke lantai. Rencanaku gagal. “Gagaaal!” teriakku dalam hati kesal. Rencanaku yang matang tidak disambut oleh Mami. Padahal rencanaku sangat sederhana, dan bukan sebuah rencana untuk mencuri berlian di toko perhiasan atau ingin membuat kudeta. Hanya mengharapkan agar Mami mau datang ke dapur ini. Ya! Agar Mami mau datang ke dapur ini dan meninggalkan sinetron kesukaannya itu. Meninggalkan sebuah kotak hiburan itu.

Diam-diam kuintip Mami. Dan tampaknya acara TV lagi selingan iklan. Aku segera berpikir keras lagi. Kemudian … “Aduuuh! Aduh sakiiit!” teriakku tiba-tiba. “Ada apa sih, Pi!” teriak Mami masih dari ruang tengah. “Kaki Papi nginjek beling, Mi. Sakiit nih, Mi!” teriakku memelas. Mengharap lagi. “Masa, gitu aja nginjek beling. Makanya hati-hati, Pi,” jawab Mami mengomentari. “Tuh ambil sendiri obat merah di kotak P3K!” Aku segera melompat-lompat kesal. Mataku memanas dan sebal melihat kotak P3K yang memang ada di dapur. Rencanaku tidak berhasil lagi. “Pi…!” teriak Mami kemudian. Dan aku berharap lagi. “Mami kan lagi memanasi sayuran. Tolong dong apinya dimatikan.”

Aku menggeram. “Kepalaku yang panas, Mi!” teriakku dalam hati. Pada akhirnya dengan sangat terpaksa dan hati yang masih dongkol, aku segera membereskan pecahan gelas yang berserakan di lantai. Entahlah. Sudah berbulan-bulan aku mengalami penderitaan ini. Penderitaan akan kurangnya komunikasi di dalam sebuah wadah yang bernama keluarga. Dan hal ini harus segera diakhiri. Setelah selesai, aku berjalan ke arah ruang tengah dan menatap keasyikan Mami.

“Mi!” sahutku memanggil. “Hmm…,” jawab Mami tanpa menengok. “Kita jalan-jalan, yuk,” pintaku. “Jalan-jalan kemana?” tanya Mami tak berkedip. “Sekitar sini aja. Kita nikmati udara sore yang sejuk dan sekaligus bertegur sapa dengan para tetangga,” jawabku asal. “Ah, Papi ini aneh-aneh saja. Apa enggak ada kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Mami males, ah. Lagian sinetronnya belum selesai, tanggung,” kata Mami. “Enggak bermanfaat?” tanyaku dalam hati. Tetapi aku enggan beradu mulut dengan Mami, terutama jika ia terlalu asyik dengan drama kotak sabunnya itu.

Sambil membuang kekesalan aku segera masuk ke dalam kamar Sarah, anakku yang sedang beranjak dewasa. Aku menggerutu melihatnya juga sedang asyik dengan kotak ajaib itu. Aku memang membelikan TV untuk Sarah sebagai hadiah atas kenaikan kelasnya yang berprestasi. “Sar!” sapaku memanggil. “Hmm…, ada apa Pap?” sahutnya juga tanpa menoleh. “Bisa tolong belikan permen kesukaan Papi di warung,” perintahku. “Ah, Papi gangguin Sarah aja. Lagi asyik nih. Papi beli aja sendiri….”

Kutendang kekecewaanku kesana kemari. Memang ini salahku sendiri memberikan mereka sebuah alat hiburan bernama TV. Aku berpikir dengan membelikan TV, mereka akan mengambil manfaat darinya dan semakin betah di rumah. Dan memang benar, tetapi tampaknya mereka pun sudah diperbudak oleh TV. Tiada hari tanpa TV. Dan kadang-kadang TV pun tetap menyala walupun mereka tidak menontonnya. “TV-kan memang harus menyala. Namanya juga alat hiburan di rumah,” sahut mereka kompak.

Aku berbalik dan kembali menuju ke ruang tengah. Duduk di sebelah Mami dan ikut menatap layar kaca, namun pikiranku berputar-putar. Entah cara apalagi agar keluarga ini mau bercengkerama dan bersenda-gurau. Minimal mengobrol antar sesama anggota dengan saling bertatapan muka yang sangat aku dambakan dari sebuah keluarga. Terdengar romantis dan seperti terlalu mengada-ada memang, namun itulah yang menurutku kunci kesuksesan agar hubungan emosional di sebuah keluarga dapat tercapai.[]

Advertisements

8 thoughts on “TV-ku Sayang

  1. whoa, ga selalu mami2 yang begitu (enak aja), papi2 juga ada yg begitu. balas kesal! *pu,pu kenapa mendadak marah2

    >> Emang, Put, namanya juga fragmen. Ini hanya sekadar contoh saja hehehe … meni angot gitu? ^_^

  2. Kalau di rumah saya ini adanya malah kebalikannya. Saya yang musti dipanggil beberapa kali oleh istri tapi tetep saja melotot di depan komputer. 🙂

    >> Sebelas dua belas dengan saya hehehehe …

  3. Saya sependapat denganmu bang, butuh kedekatan emosional agar damai tenteram dalam keluarga. Masa lebih dekat dengan TV ya…. 😀

    >> Iya, memang harus kedekatan emosional yang diutamakan dalam berkeluarga ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s