5 Sikap Agen Perubahan

Kamu tahu balapan? Ya, inilah salah satu jenis olahraga yang dapat memacu hormon adrenalin dan dibutuhkan keterampilan tertentu untuk bisa berkompetisi hingga akhirnya menjadi juara balapan. Menjadi juara tentunya harus diusahakan sebagai yang tercepat karena faktor utama dalam balapan adalah kecepatan. Lalu, bagaimana dengan balapan tikus? Hehehe … belum-belum sudah tertawa, tetapi yang akan dibahas di sini bukanlah balapan tikus biasa yang melibatkan tikus sebagai peserta balapannya.

Balapan tikus yang dimaksud adalah rutinitas kita sebagai manusia sehari-hari. Apapun profesi kita, tanpa disadari sudah menjadi bagian dari peserta balapan tikus ini. Sosok itu juga begitu. Rutinitas Senin sampai Jumat sudah cenderung monoton: bangun pagi, mandi, sarapan (kalau sempat), bergegas pergi ke kantor yang harus diusahakan sampai sebelum pukul 07.45, bekerja apa adanya sesuai tugas harian yang cenderung sama dengan hari kemarin, lalu akhirnya pulang saat pukul 17.00 dan bertemu kembali dengan keluarga di rumah. Inilah balapan tikus yang dimaksud dan dikenal dengan istilah ‘Rate Race’.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa hidup kita semua yang merasa bagian dari peserta balapan tikus—saya, kamu, dia, kita, mereka—masih tetap begini-begini saja? Padahal lingkungan hidup di sekitar kita sudah berubah, loh. Bahkan perusahaan kita pun sudah harus berubah di akhir tahun 2011 ini. Sebuah perubahan yang semestinya menyediakan kesempatan melimpah yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Nah, sudahkah kita menyiapkan mental untuk dapat menerima perubahan itu? Perusahaan sudah pasti akan menjalankan strategi bisnis yang tidak sama di tahun depan. Dan hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah menyiapkan diri untuk menari di atas perubahan yang terjadi itu.

Manusia pada dasarnya dibekali kemampuan Natural Intelligence. Dengan ini, kita semua akan menempatkan diri sebagai salah satu dari 5 (lima) sikap berikut ini dalam mengahadapi perubahan:

  1. Pasrah pada perubahan. Mayoritas orang yang pasrah itu karena mereka merasa tidak memiliki pilihan lain. Ada orang yang terpaksa pasrah tetapi ada juga orang yang pasrah dengan tulus ikhlas. Dan sikap pasrah itu beresiko. Kita bisa memanfaatkan perubahan kalau atasan kita memang peduli tetapi sebaliknya bisa jadi kita akan menjadi ‘korban’ dari perubahan.
  2. Tidak peduli pada perubahan. Inilah prinsip yang bisa dibilang kompleks. Mereka yang tidak peduli pada perubahan tidak menjadi penghalang ‘gagasan’ untuk melakukan perubahan, tetapi mereka juga tidak mau mendukung proses implementasinya. Perlu diketahui bahwa semua elemen perusahaan memiliki kesalingterkaitan satu sama lain, sehingga nyaris mustahil jika kondisi-kondisi penting tidak terpengaruh oleh perubahan yang signifikan. Berbeda tahun tentu harus memiliki strategi bisnis yang berbeda sebab lingkungan bisnis telah berubah, perilaku pelanggan berubah, dan strategi pesaing juga berubah. Jadi, tidak peduli bukanlah pilihan sikap yang tepat.
  3. Marah pada perubahan. Marah itu wajar dalam setiap perubahan tetapi orang yang bersikap marah dalam sebuah perubahan tidak akan pernah memenangkan pertempuran. Mereka semuanya akan ‘benjol’. Kita sebagai karyawan yang tidak memiliki kekuatan apa-apa tentu akan ‘menabrak tembok’ kalau berusaha melawan proses perubahan di perusahaan. Di sini, tanpa kita sadari bukan hanya menjadi penghalang bagi proses perubahan, melainkan telah menjadi musuh para pengambil keputusan. Dan peluang terbesarnya adalah perusahaan yang menang sementara kita semua yang marah akan kalah.
  4. Menyesuaikan diri dengan perubahan. Inilah jenis orang yang bisa menari dengan perubahan. Inilah prinsip pohon bambu yang begitu universal. Dia tidak pernah melawan hembusan angin. Ketika angin berubah arah, tarian bambu pun mengikuti arah perubahannya. Di kantor, ada banyak orang yang pintar menyesuaikan diri seperti bambu ini. Biasanya mereka bertahan lebih lama dan berkontribusi terus sesuai dengan tuntutan perubahan. Merekalah orang-orang yang bersedia menjadi bagian dari perubahan dan pada akhirnya mereka juga turut menikmati hasilnya sesuai dengan keberhasilan perusahaan.
  5. Mengelola perubahan secara aktif. Mengelola perubahan itu tidak hanya bisa dilakukan oleh para pengambil keputusan tertinggi tetapi juga bisa dilakukan oleh semua jenjang level-level tertentu. Ciri orang yang mengelola perubahan itu adalah dengan mengembangkan diri sendiri sesuai dengan arah perubahan yang terjadi. Rancanglah karir dan tempa diri kita ke depannya seperti apa yang dibutuhkan perusahaan dengan memiliki kualifikasi yang dibutuhkan.

Setiap orang  berhak untuk menentukan sikap terhadap perubahan yang dialaminya dalam hidup. Kita semua memiliki hak itu itu. Dari kelima sikap di atas, kamu pun berhak untuk memilih nomor yang mana. Bisa jadi, kamu bahkan akan memilih di luar nomor yang di atas, yaitu sebagai penumpang yang turun dari bus perusahaan. Yang perlu digarisbawahi adalah kita harus sadar bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing. Untuk itu, mari berkaca sikap apa yang harus kita ambil ketika perusahaan mengalami perubahan. Bismillah….[]

NB: Disari dari tulisan DEKA (Dadang Kadarusman)

Advertisements

4 thoughts on “5 Sikap Agen Perubahan

  1. maka perubahan jugalah yang menempa kita untuk berubah, sesuai dengan kebutuhan perusahaan, maka kita harus berubah dengan belajar dan terus belajar 🙂

    Karena hidup adalah sebuah perubahan

    salam hangat Bang Aswi

    >> Betul sekali, Jeng. Hidup memang perubahan. Salam hangat kembali …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s