You’re a Good Papa

Itulah kalimat yang dilontarkan oleh Christopher pada ayahnya, Chris Gardner, yang diperankan dengan sangat baik oleh Will Smith pada film “The Pursuit of Happyness”. Adegan tersebut diambil saat kedua ayah-anak itu diuntungkan dapat tidur dan menginap di Glide Memorial Church, salah satu penampungan tunawisma di California. Film ini mengambil kisah dari salah satu episode kehidupan seorang Chris Gardner yang pada akhirnya menjadi pialang saham sukses dan mempunyai perusahaan sendiri bernama Gardner Rich.

Apa yang ditangkap dari film ini sebenarnya adalah bagaimana sebenarnya hubungan batin antara seorang ayah dan anaknya bisa tercipta. Di sela perjuangan sang ayah mencari pekerjaan yang dapat menghidupi keluarganya, Chris Gardner mencoba mendidik anaknya dengan sebaik-baiknya. Pada akhirnya, kata di judul tulisan inilah yang keluar dari mulut kecil Christopher menjelang tidur pada ayahnya. Sebuah kisah yang mampu menguras air mata sosok itu.

Menjadi ayah atau bapak adalah hal yang paling istimewa bagi seorang laki-laki yang telah menikah. Kebahagiaan seorang laki-laki melihat sendiri persalinan istrinya dan kemudian menyaksikan anak pertamanya keluar dari rahim sang istri tidak banyak yang menceritakannya. Mayoritas hanyalah cerita dari sisi sang ibu. Padahal itu adalah momen yang ajaib bagi seorang laki-laki dan tingkat kebahagiaannya pun tidak jauh berbeda dengan sang ibu yang melahirkan. Hanya kadar sakitlah yang membedakannya. Tak heran kalau ada penyesalan bagi seorang laki-laki yang tidak dapat menyaksikan proses kelahiran anaknya sendiri.

Seorang laki-laki bisa jadi memiliki sedikit rasa sensitif terhadap anaknya dibanding sang ibu. Sibuk bekerja di luar atau urusan anak itu identik dengan urusan sang ibu mungkin bukan alasan yang tepat kalau sang ayah tidak dapat dekat dengan buah hatinya. Semuanya kembali pada pribadi sang ayah. Dan sekali lagi, sang ayah sangat berharap dapat terus berdekatan dan bermain dengan anaknya. Dan bagi sosok itu, kalau ada kesempatan meski kecil sekalipun, dirinya akan selalu berada di samping sang buah hati. Sekeras apa pun pekerjaan sang ayah, hatinya akan luluh saat berhadapan dengan buah hatinya. Percayalah.

Peran ayah tidak bisa dikesampingkan begitu saja dalam mendidik anak-anak dalam bingkai keluarga. Bunda Neno bahkan menuliskan, “Kaum ibu yang sudah pontang-panting, baik yang setengah mati, satu mati, maupun tidak mati sekalipun, tetap tidak akan optimal mewujudkan generasi yang berkualitas dan seimbang, tanpa kehadiran ayah, baik secara fisik, psikologis, maupun rohani” (Progressio, 2009). Bunda Neno pun sangat meyakini bahwa lebih banyak ayah penyayang daripada ayah pemukul, lebih banyak ayah yang bertanggung jawab daripada ayah yang seenaknya, lebih banyak ayah yang setia daripada ayah yang durjana. Beliau meyakini bahwa ada banyak ayah yang rela dilihat tangisannya, bahagia dengan diri mereka apa adanya.

Seorang ayah yang tentara, pada suatu hari mengendarai mobil dinas dan kebetulan melewati sekolah anaknya. Pada saat itulah anaknya berlari sambil memegangi perutnya dan berteriak, “Bapaaak! Berhenti, Paaak! Sakit perutku, Paaak! Tolong aku, Paaak! Aku tidak tahaaan! Tolong bawa aku pulang, Paaak! Berhentiii….” Namun sang ayah tidak berhenti dan malah meneruskan perjalanannya meninggalkan sang anak yang kecewa dan kesakitan.

Di rumah, sang anak pun bertanya pada ayahnya, “Kenapa Bapak tega betul, sih, sama aku? Perutku sudah sangat sakit, sampai aku merasa bakal mati saking sakitnya. Bapak, kok, tidak mau berhenti nolongin aku?!” Sang ayah pun malah balik bertanya, “Lha, kamu itu siapa? Bapak sedang pakai mobil dinas, Nak. Nggak mungkin Bapak pakai untuk urusan pribadi!” Sang ayah pun menjelaskan dengan tegas dan pasti. Ayah sejati mewariskan sikap ksatria, kejujuran, keadilan, kesungguhan, kecintaan, dan pengorbanan tanpa tawar-menawar. Bulat, utuh.

Dan kelak, anak itu menjelma menjadi seorang pemain watak dan amat tersohor menerima beragam piala untuk beragam perannya sebagai aktor. Bahkan, pada giliran berikutnya, sejarah mematri namanya sebagai salah satu sutradara emas yang dimiliki negeri ini menghasilkan film-film paling bermutu. Beliau diakui bahkan bukan hanya oleh kalangan perfilman negeri sendiri. Beliau jelas memiliki sikap berseni yang kuat, sekuat keteladanan sang ayah dalam menjaga amanah.

Nah, bagi kaum laki-laki, bisakah kita menjadi ayah yang seperti itu? Sedangkan bagi kaum perempuan, bisakah kalian mendukung dan turut membentuk citra laki-laki menjadi sang ayah yang seperti itu?[]

Advertisements

One thought on “You’re a Good Papa

  1. kadang seorang ayah tidak sensitif sampai akhirnya ia mengatakan mengapa anakku tdk seperti dengan saya ketika bercengkerama dg ibunya. dan di titik itulah seorang istri akan masuk memberi pencerahan. terkadang ketidak sensitifan itu bukan karena ia tak mau sensitif thd anak namun kerasnya perjuangan yg membuatnya melupakan sejenak kesensitifan itu. dan tugas seorang istrilah mengembalikan sensitifitas itu thd seorang ayah. hingga ia menjelma menjadi laki2 sejati.

    >> Begitu ya, Pu. Terima kasih atas tambahannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s