Mengesat Air Mata Prabu Siliwangi

Apabila berbicara tentang kata ‘sejarah’, pada umumnya pasti dihubungkan dengan sejarah kemerdekaan atau kerajaan. Hal ini tidak dapat dihindari mengingat negara kita tidak bisa lepas dari dua peristiwa besar itu dalam pembentukannya. Namun yang pasti, sejarah adalah peristiwa masa lampau yang tidak dibatasi oleh angka tahun. Mau seribu tahun, seratus tahun, dan bahkan sepuluh atau lima tahun lalu, semua yang terjadi pada masa lampau itu dapat disebut dengan sejarah. Permasalahannya adalah seberapa penting sejarah itu sangat berarti dalam hidup kita atau bahkan sangat berarti bagi masyarakat banyak.

Bandung, adalah kota yang tidak pernah lepas dengan kesejarahan. Baik sejarah yang bersumber dari peristiwa kerajaan maupun peristiwa kemerdekaan. Di dunia maya atau internet, silakan kamu cari kata ‘sejarah’ dan ‘bandung’, pasti akan banyak kamu temukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa kota Bandung adalah kota yang penuh dengan sejarah. Kamu bisa menemukannya di beberapa situs resmi atau bahkan blog, salah satunya bisa jadi dari alamat yang mengambil platform BLOGdetik seperti blog ini.

Mengapa sosok itu menyebut BLOGdetik? Hal ini dikarenakan BLOGdetik sedang mengadakan Lomba Blog #EkpresiBlogger dimana Komunitas Blogger Blogvaganza sengaja mengambil tema “Indahnya Bandungku” yang per hari ini akan ditutup. Sosok itu tidak tahu apakah tulisan ini masuk menjadi peserta atau tidak, tetapi dia tidak peduli karena tujuannya adalah ingin sharing tentang keindahan Kota Bandung dari sisi yang lain. Bukan kebetulan kalau lomba ini didukung penuh oleh Speedy dan Telkom.

Berbicara tentang Bandung selalu indah dilihat dari sisi mana pun. Kamu bisa menyebutnya sesukanya, misalnya dari sisi kuliner atau fashion-nya. Lihat saja pada akhir weekend bagaimana orang-orang dari luar kota berbondong-bondong mencoba beberapa sajian kuliner di Kota Bandung atau memborong beberapa produk fashion dari FO-FO yang tersebar di seantero Bandung. Lalu tempat wisatanya yang khas dengan suasana alam baik di bagian utara maupun selatan. Juga wisata kota dengan beberapa bangunan bersejarah seperti Museum KAA atau keunikan Jalan Braga. Ada banyak hal yang bisa diceritakan tentang Bandung, dan salah satunya adalah yang akan dibahas oleh sosok itu di sini, yaitu Lebak Siliwangi.

Jembatan di Babakan Siliwangi

Lebak Siliwangi (Babakan Siliwangi) adalah hutan kota yang terletak di utara Kota Bandung. Kawasan hijau ini sangat terkenal dengan pohon rindangnya yang kini terdapat beberapa lapangan olahraga milik ITB dan Gedung Sabuga. Kawasan ini juga kemudian bertemu dengan kawasan Kebun Binatang yang juga hijau. Bagi yang belum mengetahui, hutan adalah kawasan yang perlu ada untuk menemani manusia di mana pun mereka beraktivitas, di desa maupun di kota. Dan tidak banyak kota besar di Indonesia memiliki hutan yang berdiri kokoh di antara lintasan-lintasan jalan aspal dan gedung-gedung beton. Hal ini pun sesuai dengan peraturan pemerintah yang mewajibkan seluruh kota memiliki minimal 30% RTH (Ruang Terbuka Hijau). Kota Bandung harusnya bangga memiliki hutan kota seperti Lebak Siliwangi ini.

Babakan Siliwangi sebenarnya berfungsi sebagai daerah luapan air (discharge) dan bukannya resapan air (recharge). Babakan Siliwangi adalah hutan dengan area yang masih memiliki pohon tegakan seluas 3,8 hektar atau setara dengan luas 7,5 kali lapangan sepak bola. Silakan dibandingkan dengan luas Kota Bandung yang lebih dari 16 ribu hektar, sehingga luas hutan Lebak Siliwangi hanya sekira 0,02 persennya saja. Namun, dari luas yang tidak seberapa ini, ternyata hutan kota ini dalam sehari mampu menghasilkan oksigen senilai Rp117 juta dan dalam setahun juga mampu menghasilkan oksigen senilai Rp42,7 miliar. Dari jumlah itu juga, Babakan Silwangi juga telah mensuplai oksigen untuk 15.600 jiwa dalam sehari. Wow, bukan jumlah yang sedikit dan kemudian diabaikan.

Dari sejarahnya yaitu pada masa penjajahan Belanda, kawasan ini dahulunya merupakan hamparan sawah yang cukup luas (saat itu dijadikan lahan percobaan bagi pertanian yang ditanami tanaman Mina Padi yang merupakan salah satu padi jenis unggul di Indonesia), lalu dialihfungsikan menjadi hutan melalui penanaman berbagai jenis pohon. Jauh sebelum itu bahkan terdengar kabar dari para orangtua, bahwa di Babakan Siliwangi dulunya terdapat empat mata air yang disebut mata air Prabu Siliwangi. Namun kini tinggal 1 (satu) mata air yang masih berfungsi di tebing sebelah timur laut. Lebak Siliwangi pun dahulu sering diadakan acara kesenian yang cukup unik, yaitu seni ketangkasan domba yang dilaksanakan setiap bulan pada minggu pertama dan telah berlangsung sejak tahun 1960-an. Dan sejarah terbaru pun mencatat bahwa kawasan Babakan Siliwangi ditetapkan sebagai hutan kota pertama yang diakui dunia (September 2011). Status baru ini diresmikan di sela Konferensi Internasional Anak-anak dan Pemuda TUNZA.

Lihatlah Babakan Siliwangi saat ini. Di sana telah ada sebuah jembatan kanopi hasil kerja sama UNEP PBB dengan komunitas Bandung Inisiatip. Kamu bisa menikmati hutan kota dari sebuah jembatan yang unik meski tidak panjang. Kamu pun bisa mempelajari 48 jenis pohon dan 24 jenis burung, 6 di antaranya dilindungi undang-undang. Bukan hanya itu, Komunitas HUB! atau “Hayu Ulin di Baksil!” juga hadir dengan hasrat mengajak masyarakat meramaikan Babakan Siliwangi melalui aktivitas-aktivitas positif sesuai kegemaran masing-masing. Di sini kamu bisa melakukan aktivitas bersepeda, fotografi, menggambar komik, membuat lomba desain rumah burung, atau kegiatan-kegiatan menarik lainnya.

Jadi, ingatlah selalu dengan pepatah Sunda yang mengatakan “Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak.” Sangat disayangkan kalau nanti di kemudian hari sumber mata air yang satu-satunya kini (dari empat mata air) hilang tak berbekas. Bisa jadi air mata Prabu Siliwangi kering tak berbekas karena terlampu sedih dengan keadaan Kota Bandung saat ini. Mari kita mengesat air matanya dengan menjaga kelestarian kawasan Babakan Siliwangi. Yuk, ah![]

Sumber: http://aswi.blogdetik.com/2012/01/07/mengesat-air-mata-prabu-siliwangi/

Advertisements

3 thoughts on “Mengesat Air Mata Prabu Siliwangi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s