PR Pendidikan di Negeri Ini

Suasana tujuhbelasan di kampung itu terpusat di lapangan. Lebih banyak anak-anak dengan seragam merah putihnya ketimbang para orang tua yang hadir. Itu pun dengan warna merah dan putih yang sudah agak pudar. Sebagian dari mereka sudah memakai sepatu layak pakai, tetapi sebagian lainnya hanya beralaskan sandal jepit. Tiga kelompok dari mereka duduk di bangku yang telah disediakan panitia. Masing-masing terdiri atas tiga orang terpilih. Dua orang mahasiswa duduk di depan mereka membacakan soal-soal untuk dikompetisikan.

Ya, inilah lomba cerdas cermat yang diselenggarakan oleh kami sebagai bagian dari program Farmasi Pedesaan (FarDes), yaitu kegiatan mahasiswa Farmasi ITB di pedesaan. Ada banyak program yang bisa kami lakukan di tempat itu, beberapa di antaranya dan paling sering dilakukan setiap FarDes adalah pengenalan tanaman obat keluarga (TOGA), kesehatan lingkungan (sanitasi), dan pengobatan gratis. Lomba cerdas cermat adalah bagian dari memperingati hari kemerdekaan yang belum pernah dilakukan oleh masyarakat Jatiluhur.

FarDes diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Farmasi (HMF) “Ars Praeparandi” ITB secara rutin dan kontinyu setiap dua tahun sekali sejak 1984. FarDes merupakan bentuk bakti sosial kami kepada masyarakat desa di Jawa Barat dan bentuk usaha kami untuk memberikan perubahan desa tersebut ke arah yang lebih baik. FarDes VII di Jatiluhur itu dilaksanakan pada 1998, meliputi beberapa desa seperti Curug Apu, Juntikerak, Palilinggihan, Cilimus, Panunggal, dan lain-lain. Sosok itu sendiri kebagian bertugas di Desa Palilinggihan.

Tujuan FarDes terbagi atas dua bagian, yaitu jangka panjang dan jangka pendek. Jangka panjangnya adalah meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat pedesaan serta memperbaiki pandangan masyarakat mengenai pentingnya hidup sehat dan kebersihan lingkungan hidup. Sedangkan jangka pendeknya adalah mengakomodasi kebutuhan kesehatan masyarakat, meningkatkan kesadaran masyarakat pedesaan akan pentingnya kesehatan dan kebersihan lingkungan, serta meningkatkan kemampuan peserta FarDes dalam bersosialisasi dengan masyarakat, sekaligus mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh di bangku perkuliahan.

Kembali pada kegiatan tujuhbelasan di lapangan tadi, acara cerdas cermat dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia. Di sinilah sosok itu dan kawan-kawan terbuka mata hatinya bahwa mayoritas anak-anak SD di desa-desa tersebut tidak hapal menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tidak hanya itu, kejadian lucu pun terjadi pada dua pertanyaan yang saling menyambung.

Juri : “Siapa pencipta lagu Maju Tak Gentar?”
Peserta : “C. Simanjuntak.”
Juri : “Coba nyanyikan lagunya.”

Para peserta saling berpandangan, lalu mereka pun dengan penuh percaya diri bernyanyi dengan lantangnya, “Ceee Simanjuntaaak….” dengan nada Maju Tak Gentar. Kontan saja para mahasiswa tak dapat menahan tawa. Sangat berbeda dengan para peserta maupun para penonton yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

Inti dari peristiwa itu adalah betapa pentingnya pendidikan yang merata. Sementara di kota sudah terbiasa tidak hanya dengan fasilitas pendidikan yang jauh lebih maju, di desa yang tidak jauh dari kota ternyata masih jauh ketinggalan. Bahkan, di desa yang kami tinggali saat itu sama sekali tidak tersentuh oleh PLN kendati berada di tepi Waduk Jatiluhur yang dikenal sebagai pabrik listrik. Perjalangan menuju ke sana pun kami tempuh dengan menggunakan bargas, semacam perahu motor, selama hampir satu jam dari titik tempat wisata Jatiluhur. Hal ini dikarenakan jalur darat yang bisa ditempuh terbilang belum memadai dan memerlukan waktu yang lebih lama lagi. Satu-satunya listrik yang mereka pergunakan adalah penerangan lampu 5 watt di teras masing-masing rumah yang diperoleh dari kincir air yang mereka buat di sungai.

Kasus lainnya adalah ketika sosok itu menjadi guru privat seorang murid SMU Negeri terkenal di bilangan Buah Batu, namanya Echa. Dari pemantauannya, Echa termasuk murid yang cerdas. Daya tangkapnya terhadap tema tertentu begitu luar biasa, khususnya pada mata pelajaran eksakta seperti Matematika, Fisika, dan Kimia. Namun, sebelum diajarkan, sosok itu mengadakan uji coba untuk mengetahui sejauh mana Echa memahaminya. Ternyata hasilnya mengejutkan, Echa sama sekali belum paham. Jadi, apa yang sudah dipelajarinya selama di sekolah?

Beberapa tahun sebelumnya, sosok itu juga pernah menjadi guru privat seorang murid SMU Negeri di bilangan Cikutra. Kasusnya juga hampir sama. Ayu tergolong cerdas, tetapi dia tidak paham dengan mata pelajaran yang diajarkan. Apa yang sebenarnya terjadi? Sosok itu mengamati bahwa ada dua alasan yang bisa mendasari atas kedua kasus itu. Pertama, ilmu yang disampaikan oleh guru di sekolah ‘tidak sampai’ ke murid-muridnya. Kecenderungan para guru pada umumnya adalah ‘hanya’ melihat murid yang paling cerdas sebagai patokannya. Jika golongan yang sedikit ini sudah mengerti, pelajaran pun diteruskan. Hal ini pun ‘diperparah’ oleh mayoritas murid yang sungkan bertanya meski tidak mengerti. Sedangkan alasan kedua biasanya karena faktor muridnya sendiri yang tidak begitu memerhatikan pelajaran di kelas.

Solusi terbaik menurut sosok itu tentu saja komunikasi yang baik antara guru dan murid. Seorang guru harus bisa membuka komunikasi dengan semua warga kelas, bukan hanya dengan satu dua orang murid saja. Komunikasi yang baik tentu akan membuka ‘keberanian’ murid untuk mau bertanya saat mereka tidak mengerti. Komunikasi yang baik juga akan memudahkan guru menilai semua murid apakah mereka semua memahami atau tidak akan pelajaran yang sedang diajarkan. Namun, di luar itu juga ada masalah lain yang terjadi dengan sistem pendidikan di Kota Bandung.

Sosok itu melihat dan memerhatikan sebenarnya mayoritas pelajar di Kota Bandung tergolong cerdas. Hal ini didasarkan pengalamannya berinteraksi dengan mereka saat mengajar les privat maupun mengajarkan kegiatan ekstrakurikuler di beberapa sekolah dari tingkat SD, SMP, sampai SMU. Akan tetapi, yang jadi permasalahan mengapa mayoritas dari mereka mengikuti les privat selain les-les khusus yang sudah diadakan di sekolah masing-masing adalah faktor mentalitas. Bisa jadi mereka begitu ketakutan tidak dapat naik kelas/lulus atau orang tua mereka yang ketakukan akan masa depan anak-anaknya. Sekali lagi masalah mereka sebenarnya terletak pada komunikasi yang baik. Tidak hanya antara guru dan murid, tetapi juga antara guru dan orang tua serta orang tua dan murid. Di luar itu, juga sistem pendidikan di Indonesia dimana ujiannya jadi berkesan sebagai ‘momok menakutkan’ bagi mayoritas pelajar.

Masih banyak pekerjaan rumah bagi pemerintah, pendidik, maupun orang tua di negeri ini untuk meningkatkan mental anak-anak kita. Bagaimanapun juga, masa depan negara ini ada di pundak mereka di masa yang akan datang. Kalau bukan kita saat ini, siapa lagi yang bertanggung jawab? Intinya jangan saling tunjuk, lakukan saja apa yang bisa kita lakukan saat ini.[]

Advertisements

10 thoughts on “PR Pendidikan di Negeri Ini

  1. Abang, lagi lagi sosok itu muncul dan membuat ku terkaget pernah jdi guru privat ternyata.

    Semoga niar bisa menjadi guru privat dan guru buat anak2 niar kelak yang baik dan benar yang penting masuk ke pesan yang disampaikan 😀

    Selamat ngontes abang, gag ikutan aahh melipir liat tulisan abang 😀

  2. Setuju: mari lakukan yang kita bisa, Bang. Saya sudah dan akan coba melakukannya lagi :)…Terima kasih.

  3. >> affanibnu : Yups!
    >> Niar Ningrum : Baru tahu ya? Hehehe … amin deh. Thanks for your support.
    >> Myra Anastasia : Begitulah keadaannya … miris #sigh
    >> walankergea : Alhamdulillah. Yuk ah, bergerak!

  4. Hidup ane katanya berantakan om ditambah rambut ane,, tapi kalo udah baca artikel kok berubah jadi rapi yaaa.. Hehehe.. 😛

  5. iya betul semua terletak di cara kita mengkomunikasikan… buktinya ada anak yang suka matematika karena gurunya pinter membawakan materinya… tp ada juga yang tidak bisa. pada dasarnya kita semua terlahir cerdas….

  6. Ternyata blog ini masih memiliki denyut kehidupan toh? Pernah mampir tapi lihat note paling atas ‘telah pindah rumah’, langsung deh lari ke rumah baru. #OOT

    Setuju banget dengan komentarnya mas Applausr. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s