Menjelajah Rumpun ASEAN dari Candi

Sosok itu boleh dibilang agak jarang kalau berwisata ke candi. Kesempatannya terbilang kecil. Jangankan ke candi, ke tempat wisata saja boleh dibilang susah karena faktor kesempatan yang minim tadi. Kesempatan ini bisa dilihat dari masalah waktu, dana, dan tentu saja harus dibicarakan dengan keluarga. Candi pertama yang dikunjungi sosok itu adalah Candi Prambanan, paling tidak itulah yang diingatnya. Saat itu masih kuliah dan sayangnya tidak ada bukti foto. Jadi, ingatan tentang itu begitu blur. Samar-samar. Namun alhamdulillah ingatan akan Candi Prambanan kembali menguat saat dirinya bisa berwisata gowes, alias bersepeda ke candi yang terbilang megah setelah Candi Borobudur di Pulau Jawa. Dan berwisata ke candi sudah pasti akan diajak ke alam masa kerajaan, prasasti, batu berukir, relief, dan cerita kepahlawan yang amat luar biasa.

Amat disayangkan bahwa sosok itu belum pernah ke Candi Borobudur. Matanya belum terjamah oleh relief yang jauh lebih lengkap. Relief yang menceritakan kisah Ramayana dan Perang Bharatayudha, atau bahkan katanya ada relief yang menceritakan bagaimana berhubungan antara suami istri (seperti Kamasutra di India) juga ada. Yang jelas, sosok itu belum pernah menyaksikannya. Kalaupun mencari data atau informasi mengenai Candi Borobudur, mudah dicari. Segala versi ada. Termasuk kemiripan beberapa relief Candi Borobudur dengan Candi Angkor Wat yang ada di Kamboja. Kemiripan ini bisa jadi berhubungan erat betapa rumpun negara-negara di ASEAN sangat erat. Bisa jadi kedua candi itu dibuat oleh satu keturunan bangsa meski pembuatannya berbeda waktu selama 3 abad atau 300 tahun.

Baik, mari berbicara tentang Candi Borobudur. Inilah candi Budha terbesar di dunia, terletak di Jawa Tengah, tepatnya di Magelang. Diperkirakan candi ini dibangun pada abad ke-7 setelah keruntuhan kerajaan Hindu ke tangan kerajaan Budha, dan kemudian diakui oleh dunia setelah UNESCO menetapkannya sebagai situs sejarah dunia pada 1991. Borobudur berasal dari kata ‘Boro’ dan ‘Budur’, tepatnya bahasa Sansekerta ‘Byara‘ yang berarti candi dan ‘Beduhur‘ yang berarti di atas bukit.

Kalau soal apakah Candi Borobudur masuk ke dalam daftar tujuh keajaiban dunia, sebenarnya tidak perlu dipikirkan. Toh, secara legal candi ini sudah diakui oleh UNESCO dan masuk ke dalam situs sejarah dunia yang harus dilindungi. Jadi, meski katanya Candi Borobudur dicoret dari daftar the seventh wonders dan digantikan oleh Candi Angkor Wat, so what? Kalau pun ada yang tidak menerima, sudah pasti masalah gengsi. Dan ini bisa diperpanjang lagi alasannya. Apalagi kalau mengingat bahwa urutan the seventh wonders itu dihitung berdasarkan voting terbanyak. Pro dan kontra akan selalu ada. Bagi beberapa orang yang pernah berkunjung ke Candi Borobudur dan Candi Angkor Wat, pasti sudah bisa membandingkannya. Subjektif sudah pasti. Tetapi antara keduanya ada garis besar yang tegas. Candi Borobudur lebih tinggi dan terlihat menonjol karena dibangun di atas bukit dan bentuk yang simetris. Sedangkan keunggulan Candi Angkor Wat adalah karena lebih luas.

Candi Borobudur dibangun tiga abad lebih dahulu dibanding Candi Angkor Wat dan memiliki relief yang jauh lebih banyak dan kompleks. Bagaimana detail reliefnya? Candi Borobudur yang dibangun mada masa Dinasti Syailendra, di bawah kekuasaan Raja Samaratungga, memiliki 1460 panel relief dan 504 stupa, serta memiliki 10 teras. Enam teras berbentuk persegi, dua teras di atas berbentuk radial atau melingkar, dan dua teras paling atas terdapat patung Budha yang menghadap ke arah Barat. Teras-teras ini katanya melambangkan tahap-tahap kehidupan manusia berdasarkan ajaran Budha. Dan kalau diteruskan tentang detail Candi Borobudur ini, ada begitu banyak informasi yang akan didapatkan. Artinya, kedua candi itu jelas tidak bisa dibandingkan, apalagi dengan perbedaan waktu yang sangat lama, yaitu sampai 300 tahun.

Hanya saja, sosok itu menganggap bahwa meski berbeda usia, selama masih dalam bentuk ajaran yang sama, sudah pasti akan ada kemiripan. Bagaimanapun, ajaran agama tidak akan ada perubahan yang berarti kecuali oleh budaya dari masyarakat yang bersangkutan. Bahkan, kalau diperhatikan benar, ternyata Candi Angkor Wat jauh lebih mirip dengan Candi Prambanan. Bisa jadi, pada masa kejayaan kerajaan Budha masa Dinasti Sayilendra, ada arsitektur candi atau bahkan keturunan yang meneruskan bakat leluhurnya menempuh perjalanan menuju Kamboja hingga dipercaya menjadi ahli yang membangun Candi Angkor Wat. Semua itu bisa terjadi karena ada hubungan yang sangat baik antar kerajaan pada masa itu. Bukan hanya di negara ASEAN yang jaraknya terbilang dekat, antara Kerajaan Sriwijaya saja sudah ada hubungan bilateral yang baik dengan Kerajaan Soka di India. Begitu pula dengan Kerajaan Aceh dengan para utusan khalifah di Arab Saudi.

Rumpun melayu dan polinesia atau melanesia adalah pengikat yang harus dijadikan bukti betapa negara-negara ASEAN harus bekerja sama dan bersatu padu. Perbedaan bahasa antara negara yang satu dengan lainnya jangan dijadikan sumber perpecahan. Masing-masing harus saling mengisi. Tidak hanya budaya atau bentuk bangunan bersejarahnya yang mirip, bahkan makanan tradisionalnya bisa dibilang memiliki kemiripan yang luar biasa (termasuk cara berdagangnya). Jadi, persamaan antara Candi Borobudur dan Candi Angkor Wat janganlah diperdebatkan. Hal itu sebaiknya diwujudkan dengan persatuan dan kebersamaan bahwa satu rumpun bangsa di ASEAN itu adalah anugerah Sang Maha yang amat luar biasa. Persatuan serumpun yang sudah amat dikenal dunia sebagai bangsa yang ramah dan senang bergotong royong. Insya Allah.[]

Advertisements

2 thoughts on “Menjelajah Rumpun ASEAN dari Candi

  1. Satu Bumi yang diikat oleh ciptaan Tuhan (manusia), mahluk luar angkasa yang menghidupi bumi pada masanya, yang dituangkan dalam karsa budaya. Semoga kesadaran persatuan rumpun bukan saja untuk ASEAN tapi untuk kemanusian semesta mas. (walau mungkin hanya mimpi:D).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s