Menelusuri Kembali Jejak-Jejak di Solo

Asean-01

Blogger Bandung di KA Mutiara Selatan

Boleh dibilang, jejak-jejak kaki saya di Solo terbilang istimewa pada bulan Mei 2013 kemarin. Bukan hanya untuk pertama kalinya dapat berlama-lama di sana, tetapi juga karena saya bersama dengan ratusan blogger dari perwakilan negara-negara ASEAN menghadiri undangan ASEAN Blogger Festival 2013, 9-12 Mei 2013. Sudah menjelang dua tahun rupanya dari gelaran ASEAN Blogger pertama di Bali. Pemilihan kota Solo katanya, sih, untuk memperkenalkan keberadaan situs warisan di kota ini sebagai awal dari warisan budaya ASEAN. Program ini juga katanya sejalan dengan β€œVisit Jawa Tengah 2013″ untuk mempromosikan kota Surakarta sebagai lokasi yang ideal.

Hari Pertama, 9 Mei 2013

First day. Hari yang melelah pastinya. Jetlag karena perjalanan, eh, maksudnya trainlag, karena menggunakan jasa kereta api yang entah mengapa selama perjalanan, kepala saya teramat pusing. Bisa jadi faktor kelelahan karena kurang tidur atau entah faktor lainnya. Pusing inilah yang menyebabkannya tidak bisa tidur selama perjalanan dan faktor merasa harus melindungi rombongan #ehm. Yang pasti asyik, lah, perjalanan kali ini. Termasuk nyaman menggunakan transportasi darat dibanding delegasi dari Jakarta yang katanya sampai 16 jam menggunakan bis malam. Wow, kan! Rombongan kami ‘nongkrong’ di gerbong 6, gerbong terakhir yang banyak diisi oleh para tentara tak berseragam yang pulang dinas. Sempat capek juga di Stasiun Bandung harus lari mengejar Mutiara Selatan yang mau berangkat karena faktor keterlambatan Evi yang bikin dag-dig-dug. Eviii, sudah ada wacana mau ditinggal, loh, dirimu!

Oya, patut bersyukur pula bahwa keberangkatan kawan-kawan Blogger Bandung kali ini secara mendadak disponsori oleh Kang Kiki Gumelar, owner PT Tama Cokelat Indonesia, perusahaan lokal Garut yang memproduksi Chocodot. Hatur nuhun, Kang. Selain 200 cokelat dengan kemasan berwarna-warni bergambar angklung, alat musik khas Sunda, juga uang saku yang tentunya amat bermanfaat buat kami semua. Sekali lagi, hatur nuhuuun. Berangkat pukul 17.00 dari Stasiun Bandung, alhamdulillah kami sampai di Stasiun Solo Balapan pada pukul 02.10. Blogger Bandung kemudian beristirahat sejenak di dalam mushala stasiun meski menjelang subuh harus mengalami persitiwa tidak mengenakkan, yaitu diusir oleh salah seorang petugas porter. Grrr! Pukul 04.10, datanglah Iwok, sang Gokil Dad, dengan Lodaya Malamnya dan kita pun langsung capcus pakai taksi ke Hotel Kusuma Sahid Prince setelah shalat Subuh. Ada juga Enceng yang ternyata sama-sama naik Mutiara Selatan tetapi berbeda gerbong.

Sekadar info saja bahwa Stasiun Solo Balapan adalah stasiun induk di kota Surakarta, tepatnya di wilayah Kelurahan Kestalan dan Gilingan, Banjarsari, Surakarta. Nama “Balapan” diambil dari nama kampung yang terletak di sebelah utara komplek stasiun. Pembangunan stasiun ini dilakukan oleh jaringan kereta api masa kolonial NIS pada abad ke-19 (tepatnya 1873) dan merupakan salah satu stasiun besar tertua di Indonesia. Pembangunannya dilakukan pada masa pemerintahan Mangkunegara IV, dan merupakan stasiun untuk wilayah Kadipaten Praja Mangkunegaran.

Lagi-lagi, kami harus mengalami kejadian tak menyenangkan di mobil yang ‘katanya’ taksi. Kalau kata bahasa Mbak Alaika, sih, pengalaman pertama menginjakkan kaki di kota Solo, kok, belum menemukan keramahtamahan khas Solo. Tapi, ya sudahlahah, yang penting rombongan Blogger Bandung plus Tasik judulnya selalu happy and fun ala warga Jawa Barat yang suka ngebanyol. Setelahnya, check in di Hotel Kusuma Sahid Prince meski belum ada panitia untuk sekadar istirahat yang sempat tercuri. Pukul delapan lebih sempat mandi, hingga akhirnya registrasi ulang dan langsung menjalankan aksi menjelajah kota Solo bersama Iwok. Jalan kaki menelusuri jalan dan dipandu peta, kedua sosok itu langsung menuju Pasar Gede untuk mencari sarapan. Sampailah kami ke Timlo Sastro yang legendaris. Teh Meti sms menanyakan lagi di mana dan langsung dipandu untuk bergabung, hingga jadilah kami semua sarapan bersama menikmati makanan khas Solo yang memang alhamdulillah ueeenak pol. Dengan 22 ribu, dijamin sudah mendapatkan menu timlo komplit plus nasi dengan tambahan teh manis. Eh, harga itu sudah termasuk nambah 1 porsi nasi lagi ya, hehehe. Kalau timlo komplitnya saja, sih, cuma 17 ribu.

Asean-02

Timlo Sastro yang Zuperrr!

Habis sarapan, Blogger Bandung plus Iwok bergerak ke arah selatan. Tujuannya mencari Alfa untuk membeli tiket pulang, sambil menuju Pasar Klewer. Oleh karena panas yang mulai menyengat, rombongan akhirnya dibagi dua karena faktor efisiensi dan tujuan yang sedikit berbeda. Saya dan Teh Meti menuju Indomart menggunakan becak untuk membeli tiket sedangkan lainnya langsung menuju pusat penjualan batik khas Solo dengan berjalan kaki. Tiket terbeli, perasaan pun menjadi tenang. Sempat berfoto dengan pengawal Keraton sambil membayar 5 ribu yang katanya sumbangan karena sudah berdiri berjam-jam, kami pun bertemu kembali di Pasar Klewer untuk berburu batik. Ade, Evi, dan Iwok adalah orang yang tidak tahu harus membawa baju batik untuk acara gala dinner nanti, makanya mereka langsung berburu batik dan sisanya sekalian untuk oleh-oleh. Saya sendiri membeli batik sarimbit 4 meter.

Ngomongin soal pasar tradisional di Solo memang amat menarik. Tercatat ada 43 pasar tradisional dan selama lima tahun terakhir, tidak kurang dari 20 pasar tradisional yang direvitalisasi. Tidak heran kalau saya pun harus berjalan jauh untuk mencari minimarket karena keberadaannya memang kalah dengan pasar tradisional, dan hal ini berbanding terbalik dengan Bandung. Pasar tradisional berkurang, minimarket menjamur. Pasar Gede Harjonagoro merupakan pasar tertua di Solo dan telah menjadi ikon kota karena historisnya. Usianya diperkirakan sama dengan Keraton Kasunanan Surakarta yang menjadikan Desa Sala sebagai ibukota kerajaan pada tahun 1745. Sedangkan Pasar Klewer merupakan pasar sandang yang khusus berjualan kain dan pakaian batik. Nama ‘klewer’ sendiri berasal dari istilah ‘kleweran’, yaitu kain yang disampirkan ke pundak saat dijajakan oleh pedagang. Lokasi pasar ini dulunya merupakan tempat bangsawan kerajaan memarkir keretanya (Pakretan = tempat menaruh kreta atau kereta) saat hendak menghadap Sinuhun Paku Buwana.

Asean-03

Bloggerwati Bandung lagi ‘ngubek-ngubek’ Pasar Klewer

Balik lagi ke Hotel Kusuma Sahid Prince, pemandangannya asyik punya. Sangat berbeda dengan Hotel Sahid Jaya (ternyata jatah saya di sini, bukan di hotel sejarah itu) yang memiliki gedung menjulang khas kota modern. Desain arsitekturnya khas keraton dengan beberapa tanaman penghijau dan air terjun buatan yang menyejukkan mata. Katanya, hotel ini adalah bekas rumah tinggal Mangkunegara IV yang pada tahun 1909 dibangun kembali oleh Kanjeng Pangeran Hadiwijaya. Selanjutnya rumah ini dibeli oleh Pakubuwono X sebagai hadiah untuk putera mahkotanya KGPA Kusumoyudho. Sejak itulah warga Solo mengenal bangunan ini dengan nama Ndalem Kusumayudan. Bangunan ini juga sempat berpindah tangan ke IFCO – perusahaan sepeda dan mesin jahit pada tahun 1961 sebelum akhirnya dibeli oleh PT Sahid and Co dan dialihfungsikan sebagai hotel dengan nama Kusuma Sahid Prince Hotel pada tahun 1974, untuk menyambut konferensi Pacific Asia Travel Association di Solo.

Malamnya, acara gala dinner di Loji Gandrung (soal sejarahnya sila cari sendiri ya karena sudah banyak yang menuliskannya) alias rumah walikota Solo. Semuanya pakai baju batik, sehingga cowoknya jadi cantik dan ceweknya jadi ganteng, eh kebalik ya? Pokoknya bernuansa formal, meski tempatnya di kebon belakang rumah dinasnya walikota. Sempat bete juga karena sambutannya panjang dan menghabiskan waktu plus terlalu banyak cas-cis-cus padahal bisa jadi yang orang luar negerinya gak lebih dari 20 orang, itu pun mereka semua belum tentu gape berbahasa Inggris. Ya, namanya juga protokoler. Tapi sosok itu have fun saja. Apalagi bisa ngobrol dengan Pak Hermawan Kartajaya, owner Mark Plus. Asyiknya lagi juga bertemu dengan banyak blogger yang dulu cuma bisa saling menyapa di dunia maya. Dan saat bertemu di dunia sesungguhnya, jalinan persahabatan itu menjadi semakin asyik dan kekeluargaan. That’s the beauty of blogging, kata Om NH. Intinya, hari pertama di Kota Solo saya merasakan sensasi nyaman yang mengasyikkan meski ada beberapa kejadian yang tidak mengenakkan hati.

Hari Kedua, 10 Mei 2013

Second day. Yup, inilah hari kedua setelah hari-hari melelahkan pada detik-detik keberangkatan dari Bandung, sampai di Solo, hingga beraktivitas pada hari pertama. Malam di hari pertama tetap tidak bisa dimaksimalkan untuk menulis. Tengah malam mata sudah tidak bisa diajak kompromi. Bangun ‘agak’ kesiangan karena faktor ‘L’ pada akhirnya harus dipaksakan segar. Makanya mandi adalah aktivitas wajib minimal dua kali di Solo. Hawa panas dan mudah berkeringat tentu harus diguyur dengan air agar selalu segar.

Asean-04Setelah sarapan di kafe hotel dengan menu nasi goreng, telur gulung, dan jus pepaya, saya tadinya berencana akan naik bus bersama rombongan. Tapi dipikir-pikir kayaknya lebih asyik dengan bersepeda. Apalagi ada teman seberkeringat, yaitu teman yang mau diajak berkeringat. Salah satunya adalah Anggara, fotoblogger dari Bali yang senang memilih sepeda onthel. Oya, Hotel Sahid Jaya selain menyediakan fasilitas kolam renang dan tempat fitness yang gratis, juga peminjaman sepeda gratis. Sepeda onthel bisa dipinjam dengan meninggalkan KTP sedang sepeda MTB, fixie, atau BMX hanya dicatat data saja seperti nama dan nomor kamar. Bisa jadi karena sepeda onthel lebih berharga karena nilai sejarahnya. Tapi semua sadelnya bermerek United. Funny, isn’t it?

Nah, jadilah saya bersepeda menuju tempat acara berikutnya di Hotel Kusuma Sahid Prince. Melewati jalan-jalan yang sebenarnya sepi tapi para pengendaranya sudah mirip dengan di Bandung. Kebut dan kadang beberapa belum menghormati pesepeda dan pejalan kaki. Harus hati-hati. Salah satu hal mengapa saya suka bersepeda selain hobi adalah bahwa dengan cara ini saya dapat memetakan jalan-jalan dengan lebih baik daripada harus menggunakan bis atau kendaraan lainnya. Coba, deh. It’s fun and sweaty! Berkeringat itu menyegarkan. Beneran!

Acara hari kedua ternyata lebih banyak seminarnya. Lebih banyak menggunakan telinga untuk mendengar daripada lidah untuk berbicara. Ini memang baik, karena itulah diciptakan dua telinga dibandingkan satu lidah. Manusia harus lebih banyak mendengar sebelum berbicara. So wise banget ya saya. Tapiii, semua acara pada hari itu cenderung membosankan. Mungkin bisa jadi karena faktor kebosanan, panas, dan english language yang sering dilontarkan. Bukan tidak paham, cuma tidak terbiasa saja. Berkenaan dengan dunia blogger, simpulan dari seminar hari itu adalah bahwa seorang blogger itu harus memiliki dua hal, yaitu wise dan honestly. Blogger harus menyampaikan apa yang ada di blognya dengan apa adanya alias jujur. Tidak hanya itu, tentu cara penyampaiannya juga harus hati-hati alias bijaksana. Blogger harus lebih cerdas apa yang akan ditulisnya. Itulah kunci penting keberhasilan seorang blogger agar bisa (tidak hanya) dikenal, tetapi juga lebih bernilai dan bertanggung jawab. Sedangkan menurut Hermawan, blogger tidak hanya dituntut menjadi seorang penyampai atau penulis, tetapi juga sebagai creator, publisher, dan marketer. Blogger harus bisa menulis atau menggambarkan apa yang ada di blognya, di-publish dengan baik (secara desain dan tata bahasa), lalu memasarkannya pada dunia luas. That’s the important thing for being a blogger.

Malam harinya, acara para peserta ASEAN Blogger Festival 2013 berikutnya adalah mengunjungi Mangkunegaran Art Festival yang mengambil tempat di Keraton Mangkunegaran. Pertunjukan tari-tarian maupun drama berbentuk wayang orang tersaji di pendopo keraton. Masyarakat kota Solo yang menggemarinya segera memadati area tersebut dari semenjak maghrib. Tak urung saya dan kawan-kawan Blogger Bandung tidak kebagian tempat duduk. Oya, Pura Mangkunegaran ini merupakan istana penguasa wilayah Mangkunegaran, sebuah wilayah pecahan Keraton Kasunanan Surakarta berdasarkan Perjanjian Salatiga 1757. Luasnya terbilang kecil jika dibandingkan istana lainnya, tapi kemegahan arsitekturnya (campuran gaya Eropa dengan Jawa klasik) tidak kalah dan memiliki warna resmi pareanom (padi muda) yaitu kombinasi warna hijau dengan kuning emas. Yang unik dari tempat ini adalah Reksa Pustaka, yaitu perpustakaan yang dirintis oleh Mengkunegara IV dan terbilang amat lengkap dan rapi.

Setelah dirasa cukup, acara dilanjutkan makan malam di Cafe Tiga Tjeret khusus rombongan Blogger Bandung. Sebuah kafe yang (lagi-lagi) katanya mahal itu (dibandingkan harga Bandung sih masih masuk kategori murah) mirip dengan Warung Ampera di Bandung dimana makanannya disajikan secara prasmanan. Satu hal yang unik dari tempat ini adalah adanya aksesoris kafe yang dibuat secara daur ulang, yaitu penghias lampu yang terbuat dari cangkir plastik, sendok, garpu, maupun sodet. Beneran! Termasuk live music performance secara akustik yang menampilkan tidak hanya lagu-lagu terkini tetapi juga lagu-lagu 1980-1990an dan poster-poster yang dipajang di beberapa dindingnya. It’s sooo … mengingatkan masa lalu.

Kata Sarwo Wibowo, owner-nya, “Nama Tiga Tjeret kami pilih karena khas wedangan tradisional Solo.” Berlokasi di Jl. Ronggowarsito 97, desain interior kafe ini mengusung tema urban style dengan menyatukan kesibukan Kota Solo dan gaya pedestrian di lokasi Ngarsopuro, Puro Mangkunegaran. Konsep urban style itu diharapkan dapat memunculkan atmosfer tempat berkumpul yang nyaman baik untuk menikmati suasana maupun kuliner khas wedangan. Pemilihan lokasi kafe ini terbilang strategis dan dibuka mulai pukul 11.00 WIB hingga 01.00 WIB. Nyaman dan asyiklah buat nongkrong.

Hari Ketiga, 11 Mei 2013

Third day. Hari keakraban lebih tepatnya. Ada banyak yang ingin diceritakan pada hari kedua setelah makan malam bersama di Tiga Tjeret, tetapi penat yang dirasakan tubuh ini begitu luar biasa. Belum lagi acara Warung Blogger yang dadakan diadakan oleh Kaka Akin di selasar Hotel Kusuma Sahid Prince terbilang cukup sukses. Ada lebih 10 blogger yang hadir mengikuti sesi curhat dengan tema tertentu, berhadiah kaos tentunya dari sang empu acara. Setelahnya obrolan sambil sesekali memejamkan mata, berbaring di atas rumput atau duduk selonjor di atas lantai bersemen, menyeruput kopi hitam asli Aceh bawaan Tengku, hingga kantuk menyerang hebat. Akhirnya lewat tengah malam saya baru bisa bersepeda kembali menelusuri jalan Solo yang sepi, menuju Hotel Sahid Jaya. Sesampainya di kamar, saya pun dengan sukses ‘pingsan’.

Asean-05Acara hari Sabtu itu lebih banyak diskusi (lagi). Jadi, pembicaraan tentang diskusi ini di-skip saja ya, apalagi mengingat acara berikutnya yaitu … jalan-jalan. Yey! Akhirnya. Sesudah makan siang, para peserta Asean Blogger Festival 2013 dibagi dua kelompok. Kelompok pertama akan berkunjung ke Sangiran dan kelompok kedua ke Candi Sukuh. Saya dan kawan-kawan dari Blogger Bandung lebih memilih ke Sangiran, sebuah situs purbakala yang katanya mengklaim berhasil menemukan manusia Jawa. Tidak hanya manusia prasejarah, di Sangiran juga ditemukan beberapa hewan prasejarah dan alat-alat bantu ‘manusia’ pada saat itu. Ada satu kalimat yang penting dan dicatat oleh saya di museum tersebut, yaitu yang ditulis oleh Clifford Geertz: “Tanpa manusia, budaya tidak akan ada. Namun, lebih penting dari itu, tanpa budaya, manusia tidak akan ada.” Sila diinpretasikan sendiri hehehe. Sedangkan tokoh penting yang menjadikan Sangiran terkenal adalah Elisabeth Daynes dimana ia berhasil merekonstruksi hominid dengan cermat. Tapi ia tidak bekerja sendiri, lho, dalam merekonstruksi fosil di Sangiran. Di sini, ia dibantu oleh Dominique Grimaud-Herve dan Harry Widianto. Jadi tetap saja ada orang Indonesianya. Untuk jasanya itu, Elisabeth mendapatkan the Lanzedorf PaleoArt Prize pada 2011.

Acara selanjutnya adalah Urban Forest yang diselenggarakan di sisi Kali Bengawan Solo. Dipandu oleh Mas Blontank Poer, peserta diberikan bekal bahwa program penggusuran atau bahasa halusnya merelokasi haruslah memberikan solusi yang jauh lebih baik dari tempat sebelumnya. Sebagai contoh, warga di pinggiran kali tersebut diberikan lahan dan rumah yang jauh lebih baik. Hal itu terlihat dari desain tiap rumah yang berbeda tergantung permintaan warga dimana kebutuhan ruangan akan berbeda tergantung jumlah anggota keluarga. Lokasi dimana warga meninggalkan tempatnya akan dijadikan taman atau public area. Para peserta Asean Blogger Festival 2013 sendiri melakukan penanaman pohon yang diwakilkan oleh beberapa peserta dari luar negeri. Semoga program ini mengurangi bencana banjir yang terus berlangsung tiap tahun dan terus menambah ruang publik. Mantap, neh!

Asean-06At last, acara malam adalah yang paling ditunggu. Apalagi kalau bukan wisata malam dengan menggunakan Werkudara. Eits, apa pula ini? Tokoh wayang ini memiliki banyak nama seperti Bimasena, Bratasena, atau Abilawa, namun nama yang paling terkenal adalah Bima. Satu dari lima Pandawa ini memang terkenal paling sakti sehingga wajar saja kalau bus tingkat wisata di Solo menggunakan nama ini. Nah, ini dia maksudnya. Saya akhirnya bisa merasakan sensasi naik bus tingkat malam hari. Dengan warna merah menyala dan gambar tokoh Werkudara, saya diajak berkeliling kota Solo dimana rutenya melewati Keraton Surakarta, Kampung Batik Kauman dan Laweyan, Mangkunegaran, dan Museum Radyapustaka. Bus Werkudara ini beroperasi hanya pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur dengan harga tiket Rp 20 ribu per orang atau Rp 800 ribu per 3 jam. Kalau berminat dan juga ingin mengetahui rutenya sila dilihat di sini. Tak lupa, malam hari ketiga itu ditutup dengan makan malam bersama di sisi jalan secara lesehan, tak jauh dari Hotel Sahid Jaya.

Asean-07

Keceriaan Blogger di atas Werkudara

Hari Keempat, 12 Mei 2013

Fourth day. Jadi teringat sama lirik lagu Ryan Webster yang berjudul ‘Memories Still Remain’. Hari terakhir penuh kebersamaan yang singkat dan padat. Mencoba mengumpulkan kenangan yang seperti butiran pasir, beberapa berhasil dipegang tetapi selebihnya jatuh melewati sela jemari. Begitulah kenangan. Beberapa peristiwa masih terbayang di mata, namun itu semua hanya kelebatan semata. Kebersamaan itu baru terekam dengan baik dalam bentuk video, dalam bentuk foto, dalam bentuk tulisan. Dan tampaknya tulisan ini, bisa dibilang sebagai bentuk dokumentasi yang semoga tak lekang oleh waktu. Terus diingat dan dibaca dengan mata berbinar dan bibir penuh senyum. Semoga.

Hari terakhir di hari Minggu itu adalah hari luar biasa. Menjelang perpisahan, sekaligus liburan bersama setelah lelah berdiskusi sepanjang 3 hari ASEAN Blogger Festival 2013 di Solo. Setelah menghabiskan waktu semalam dengan berkeliling kota Solo dengan bus Werkudara, maka pagi ini sebagian peserta akan mencoba sebuah kereta api uap yang dikenal dengan nama Sepur Kluthuk Jaladara. Demi hari tersebut, saya telah berkemas sejak subuh hingga sudah sampai di halaman Hotel Kusuma Sahid Prince pada pukul 06.00 dengan menggunakan becak. Perhitungannya sederhana, semua rombongan Blogger Bandung menginap di hotel itu sementara dia sendiri di Hotel Sahid Jaya. Otomatis dengan barang bawaan yang sudah ready, saya tinggal mengikuti rombongan ke mana saja. Sepulang penutupan di Keraton Surakarta, sudah pasti agenda berikutnya adalah check out. Kebayang, kan, kalau harus ke Hotel Sahid Jaya dan kembali lagi ke Hotel Kusuma Sahid Prince. Capek, deh!

Asean-08Pada pagi tersebut, saya pun mencoba sarapan di Hotel Kusuma Sahid Prince. Meski ada keinginan untuk mencoba menu lain seperti roti atau bubur ayam, tetap saja saya mengambil nasi goreng. Lagi?! Ya, 3 hari berturut-turut sarapan nasi goreng. Gak tahu kenapa? Dan sampailah masanya rombongan langsung memasuki bus menuju Stasiun Purwosari. Amat disayangkan Evi tidak bisa bergabung. Katanya, sih, kelelahan dan kurang tidur. Lanjut, Stasiun Purwosari terletak di Jl. Slamet Riyadi No. 502, jadi masih terletak di jalan utama kota Solo. Katanya, stasiun ini adalah stasiun kereta apa tertua di Surakarta yang dibangun pada 1875.

Sepur Kluthuk Jaladara termasuk jenis steam loco, yaitu kereta api uap yang hanya bisa dioperasikan dengan menggunakan bahan bakar kayu jati (plus air dalam jumlah banyak demi menghasilkan uap yang diinginkan). Jaladara terdiri atas satu lokomotif Seri C 1218 dan dua gerbong penumpang dengan Seri CR 144 dan CR 16 (terbuat dari kayu jati), yang mulai beroperasi sejak 27 September 2009. Lokomotif aslinya adalah buatan Jerman pada 1896 yang diambil dari Museum Palagan Ambarawa, sementara dua gerbongnya dari Magelang dan Bandung. Rute kereta wisata ini adalah hanya dari Stasiun Purwosari menuju Stasiun Sangkrah atau Solokota (dibangun pada tahun 1922 oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij) dan sebaliknya yang berjarak 5,6 km. Jalurnya unik karena menjadi satu-satunya jalur kereta api di Indonesia yang berjejer berdampingan dengan jalan raya.

Asean-09

Interior Sepur Kluthuk yang Nyaman untuk Bercengkerama

Jika ingin mencicipinya, Jaladara bisa dipesan hanya hari Sabtu atau Minggu saja dengan biaya per paket. Katanya, sih, ada paket 25 penumpang (Rp 360 ribu per orang), paket 35 penumpang (Rp 290 ribu per orang), dan paket 80 penumpang (Rp 150 ribu per orang). Oya, katanya (lagi) steam loco ini membutuhkan empat meter kubik air dan lima meter kubik kayu jati untuk jarak tempuh kedua stasiun di atas. Jadi, wajar saja kalau pas sampai Stasiun Solokota, lokomotifnya langsung diisi kembali dengan air yang dituang dari penampungan persis seperti jaman koboi. Selama perjalanan kemarin, Jaladara melewati beberapa tempat seperti Solo Grand Mall, Loji Gandrung, Kampung Batik Kauman, dan Pasar Grosir Solo (PGS). Apalagi Jl. Slamet Riyadi dijadikan Car Free Day (CFD), jadi kebayang betapa ramainya jalan tersebut oleh pejalan kaki dan pesepeda ditambah peluit Sepur Kluthuk Jaladara. Oya, Jl. Slamet Riyadi adalah salah satu jalan raya utama di Solo dan pernah dinobatkan sebagai jalan terpanjang se-Asia Tenggara. Jalan ini memanjang ke timur mulai dari Tugu Purwosari hingga Bundaran Gladag. Pada jaman penjajahan Belanda, jalan ini bernama Jl. Purwosari atau Poerwasariweg.

Asean-10

Keramaian CFD yang dilewati Sepur Kluthuk Jaladara

Puas berfoto di dalam gerbong maupun di luar gerbong bersama masyarakat kota Solo yang bisa jadi belum pernah merasakan Sepur Kluthuk Jaladara, rombongan pertama yang berasal dari Hotel Kusuma Sahid Prince sempat singgah di Stasiun Solokota lalu diturunkan di PGS. Setelah itu giliran rombongan kedua dari Hotel Sahid Jaya yang menaikinya. Rombongan pertama kemudian menyusuri kampung batik Kauman dan beberapa langsung memasuki Pasar Klewer untuk berburu oleh-oleh berupa batik atau makanan tradisional. Tujuan berikutnya adalah Keraton Surakarta yang bersebelahan dengan Pasar Klewer. Sambil menunggu rombongan kedua yang masih menikmati Sepur Kluthuk Jaladara, saya sempat-sempatnya tidur sejenak di pelataran keraton yang nyaman. Tak berapa lama, rombongan peserta ASEAN Blogger Festival 2013 pun diperbolehkan memasuki keraton. Peraturannya, tidak boleh memakai topi, sandal jepit, yang perempuan juga tidak diperbolehkan memakai celana pendek (akan dimintai untuk menutupinya dengan kain yang telah disediakan).

Asean-11

Sambutan saat Memasuki Keraton dan Saya bersama @pergidulu

Bangunan pertama yang mengundang perhatian saat memasuki keraton selain pintu gerbangnya yang unik, adalah sebuah menara yang menjulang tinggi sampai 35 meter. Menara ini disebut dengan Panggung Sangga Buwana. Ada yang menarik perhatian saya saat memasuki bagian dalam keraton, yaitu hamparan pasir. Pasir ini katanya diambil langsung dari pantai selatan. Di halaman ini juga terdapat banyak ditumbuhi pohon sawo kecik yang jumlahnya mencapai 76. Para peserta kemudian diminta memasuki sebuah ruangan yang bernama Sasana Hadrawina. Sebuah ruangan luas dengan panggung kecil berisi alat-alat musik tradisional dan beberapa lukisan raksasa, juga hiasan lampu gantung seperti yang ada di masjid-masjid besar. Di beberapa sudut keraton juga terdapat beberapa patung dewa-dewa Yunani yang konon merupakan hadiah pemberian dari Ratu Belanda. Wajar saja kalau Keraton Surakarta Hadiningrat terbilang berbeda dibanding keraton lainnya di Pulau Jawa, karena arsitektur dan pemilihan warnanya merupakan campuran budaya Jawa dan Eropa.

Panitia pun bekerja luar biasa meski di dalam keraton. Begitu pula dengan pihak keraton yang menyuguhkan dua buah tarian (salah satunya adalah Tari Srimpi) dan juga makanan khas Solo, yaitu Selat Solo berupa kuah yang berisi beberapa sayuran, telur, dan daging. Pihak keraton yang menyambut peserta ASEAN Blogger sendiri adalah KGPH (Kanjeng Gusti Pangeran Haryo) Dr. Edi Wirabhumi. Tari Srimpi Sangapati adalah tarian karya Pakubuwono IV yang memerintah Keraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1788-1820. Kata ‘Sangapati’ itu sendiri berasal dari kata ‘sang apati’ sebuah sebutan bagi calon pengganti raja. Ciri khas tarian ini adalah penggunaan gelek minuman yang dalam sejarahnya ditampilkan saat perundingan dengan pihak Belanda. Tujuan pemberian minuman yang berisi arak itu adalah agar pihak Belanda terus menikmati tarian itu dan mabuk, sehingga perundingan dapat digagalkan dan beberapa wilayah Surakarta aman tidak diambil alih.

Asean-12

We’ll Miss You, The Spirit of Java

Yang jelas ada pengalaman berharga bagi saya selama berada di keraton, beberapa di antaranya adalah peraturan yang harus dipatuhi. Sayang, saya sendiri tidak melihat dengan kepala sendiri kondisi kamar kecil keraton yang katanya mewah. Juga museumnya sendiri yang pada hari itu kebetulan tutup. Sebagai penutup acara keseluruhan, para peserta kemudian foto bersama di halaman keraton. Tepat pukul satu siang lebih sedikit acara ASEAN Blogger Festival 2013 selesai. Saatnya rombongan kembali ke hotel masing-masing untuk check out dan berkemas. Rombongan Blogger Bandung sendiri setelah berkemas dan menitipkan barang-barang bawaan langsung jalan-jalan menuju Pasar Klewer bersama rombongan Blogger Sukabumi. Maklum saja, pemberangkatan kereta adalah pukul 21.00, masih ada waktu untuk berbelanja dan menikmati kota Solo, the spirit of Java. Kota yang akan dikenang dengan manis.[]

Advertisements

6 thoughts on “Menelusuri Kembali Jejak-Jejak di Solo

  1. >> Lidya : Seru banget, secara ini kan harus rame2….
    >> Titin : Kapan2 harus dicoba tapi harus rame2 karena lebih asyik dibanding hanya Werkudara saja
    >> Anggi : So pasti seru dan mengenyangkan ^_^
    >> Sufyan : Oh, ada ya? Tampaknya kita belum berkenalan hehehe
    >> Deka : Iri itu baik kok :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s