GBA Barat Sweet Home

GBA-2Dahulu, baik sebelum dan setelah menikah, sosok itu tidak pernah menyangka bakal cepat mendapatkan rumah baru. Secara hitung-hitungan materi, amat jauh untuk mewujudkan hal itu. Boro-boro beli rumah, beli cincin mas kawin saja harus berhutang … ssst tapi sudah lunas lho, dua tahun kemudian. Untuk urusan DP atau uang muka pun begitu sulitnya dikumpulkan. Namun di hadapan Sang Maha, semua itu tampak begitu mudah. Segalanya seperti sebuah keajaiban. Dan sosok itu alhamdulillah bisa merasakannya.

Siapapun yang telah berumah tangga, pasti sangat bangga ketika sudah memiliki rumah sendiri. Perlu digarisbawahi dan kalau perlu diberi tanda kutip: RUMAH SENDIRI. Yup! Inilah orang timur. Budaya orang Indonesia. Malu kalau sudah berumah tangga tetapi belum mempunyai atap atau papan sendiri. Malu kalau harus berbagi atap dengan mertua dan saudara-saudara lainnya. Eh, tapi ini berlaku untuk seluruh manusia di muka bumi ini, ya ^_^

Bagi sosok itu, setelah menikah pada 2002, alhamdulillah keinginan itu baru terwujud dua tahun kemudian, tepatnya pada akhir 2004 kendati hanya mendapatkan rumah BTN alias Beli Tapi Nyicil. Perlu perjuangan keras ‘hanya’ untuk mendapatkan rumah sederhana bertipe 22 dengan luas tanah 60 meter persegi itu (saat itu tipe 21 sudah lenyap dari peredaran, dan sekarang tipe 22 pun sudah raib). Uang muka sebesar 8 juta rupiah pun dipaksa harus tersedia secepat mungkin. Dengan segala upaya, akhirnya hanya 2 juta yang berhasil dikumpulkan. Selebihnya, tangan Sang Maha-lah yang mempermudah semuanya. Alhamdulillah. Perasaan lega saat menandatangani kontrak sukar untuk dilukiskan.

SANYO DIGITAL CAMERA

Renovasi rampung (4 Sep 2007) dan setelah dihuni sendiri (11 Mar 2012)

Home sweet home. GBA Barat Blok C5 No. 10 Bojongsoang. Inilah rumah impian keluarga sosok itu yang tak pernah dibayangkan akan didapatkan secepat ini. Tadinya mereka berniat akan mengumpulkan rupiah demi rupiah, sehingga bila rupiah itu telah tercukupi, dananya bisa langsung digunakan untuk membeli rumah. Tapi apa daya, tabungan mereka tak pernah bertambah, malah cenderung sering habis. Sekali lagi, Sang Maha yang menjadi dalangnya.

Namanya perumahan sederhana, ternyata sangat sesuai dengan yang sosok itu dengar, bahwa rumah yang tersedia BELUM layak huni sebelum direnovasi. Tolong dicatat bahwa ini hanyalah pandangan sosok itu pribadi semata. Pada akhirnya, mereka pun kembali mencoba menabung agar proses renovasi bisa berjalan secepatnya. Tapi ternyata takdir mengatakan hal lain, renovasi tidak berjalan, rumah mereka pun dibongkar orang hingga menyebabkan semua pintu hilang gagangnya, kaca WC dicopot, dan semua kabel listrik yang telah terpasang HILANG (berikut MCB yang ada di meteran).

Apalagi yang harus dilakukan? Ya, tentu mereka harus berlapang dada dengan kejadian itu. Mereka pun sepakat tetap membayar abodemen listrik tiap bulan agar nantinya tidak perlu lagi memasang baru. Hari demi hari berlalu. Bulan pun berjalan. Dan pergantian tahun sudah terlewati. Alhamdulillah, awal 2007 mereka mendapatkan rezeki hingga rencana renovasi bisa berjalan. Dari beberapa coretan pengembangan, sosok itu dan sang belahan jiwa sepakat untuk menambah satu kamar tidur, membuat dapur, dan memperluas WC.

Renovasi belum rampung, dana kembali seret alias kurang. Berbulan-bulan kembali mereka lewati tanpa kepastian yang jelas (ehm). Rumput-rumput liar kembali tumbuh setinggi hampir satu meter. Awal November 2007, alhamdulillah mereka mendapatkan rezeki lagi hingga bisa membeli kabel listrik dan segala peralatannya. Tanggal 21 November listrik rumah telah kembali menyala. Lampu perdana yang menyala di depan rumah sebagai penandanya. Untuk itu, mereka telah menghabiskan dana 800 ribu rupiah untuk pembelian, membayar orang PLN untuk kembali memasang segel, dan service pemasangan seluruh instalasi. Fiuh!

GBA-3

Coretan denah renovasi | bentuk rumah sebelum renovasi
dan lihatlah bentuk rumah saat ini … ^_^

Pada akhirnya mereka bisa menempati rumah itu setelah tiga kali dihuni oleh pengontrak yang berbeda, tepatnya 26 Februari 2012. Tak ada yang pernah menyangka takdir dan bagaimana masa depan seseorang kecuali dengan mengusahakannya terus. Setiap proses harus dijalani dan jangan dipikirkan secara teori saja. Secara hitungan materi, sosok itu dan sang belahan jiwa sangat tidak mungkin bisa mengambil sebuah rumah. Akan tetapi lewat jalan usaha, toh Sang Maha begitu memudahkan jalannya. Tinggal kita bagaimana menyikapi setiap peristiwa dengan bijak. Semoga apa yang diusahakan menjadi ladang keberkahan. Amin.[]

Advertisements

4 thoughts on “GBA Barat Sweet Home

  1. barokalloh…. perjuanganna sami sareng abdi… hehehe…

    >> Amin. Tiap orang pasti ada perjuangannya. Lanjutkan!!!

  2. Subhanallah, menikah dgn tujuan yg baik itu memang mengayakan.
    Kita cuma diminta iktiar maksimal, hasilnya Allah tahu yg terbaik.

    Ikut haru membacanya 🙂
    Selamat sudah menempati rumah sendiri. Inshaa Allah benar-benar home sweet home! 🙂

    >> Alhamdulillah semua itu demi membentuk keluarga sakinah mawadda warahmah amiiin ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s