Hari Istimewa yang Menyedihkan

Sesuatu yang tidak diharapkan
Kadang terjadi, tanpa bisa dihindari
Hanya kasih dan sepenuh dekapan
Penanda bahwa ada kasih kami setiap hari

Bibin-3Sosok itu berjalan mengikuti langkah sang belahan jiwa, @ummibindya. Pergerakannya terbatas karena beban sang jabang bayi yang siap dilahirkan. Apakah ia akan keluar hari itu? Ternyata tidak. Ia belum mau keluar. Alasan medis mengatakan memang sudah pembukaan tiga, tetapi belum waktu. Hmm, sosok itu berpikir, mungkin sang jabang bayi ingin menyempurnakan segalanya di dalam rahim. Belum waktunya.

Beberapa hari kemudian sang belahan jiwa dibawa lagi ke rumah sakit. Santai saja. Toh, semua perbekalan melahirkan sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Angkot pun berjalan agak lambat. Bahkan, sempat-sempatnya mampir memasuki Jl. Gumuruh karena ada calon pasien IGD yang harus segera dilarikan ke rumah sakit (RS). Sesampainya ke kamar bersalin, bidan mengatakan masih belum. Sang belahan jiwa pun mengajak sosok itu untuk berjalan-jalan di sekitar RS. Bahkan, masih sempatnya menyeterikan baju beberapa stel.

Pada akhirnya mereka berdua pun kembali berada di dalam kamar bersalin. Bau khasnya mengingatkan mereka akan kejadian hampir dua tahun lampau. Kejadian yang amat menyedihkan. Sang belahan jiwa terpaksa menjalani operasi kecil bernama curettage. Tahu kan apa makna istilah itu. Saat itu belum waktunya mereka berdua memiliki seorang anak. Mereka belum dipercaya. Belum saatnya.

Sang belahan jiwa memegang erat tangan sosok itu, tak ingin ditinggalkan. Di sana sudah ada ibu mertua, beberapa bidan, dan perawat yang mengenal sang belahan jiwa. Sanak keluarga sudah berkumpul di luar ruangan. Sosok itu menguatkan diri. Ini kejadian pertama dirinya akan menyaksikan sebuah prosesi suci menyambut manusia baru. Anaknya sendiri. Detik demi detik, menit demi menit. Mencoba menenangkan sang belahan jiwa, meski hatinya sendiri tidak bisa tenang. Dimarahi, kadang tangannya diremas hingga sakit. Tapi itu tidak berarti. Semua demi kelancaran dan kemudahan proses suci. Hingga … tangisan surga pun menjadi penanda hari Sabtu menjelang siang itu, 10 Januari 2004.

Bibin-4

di Taman Fotografi dan mencoba Wall-Climbing

Awalnya sang putri diberi nama Khansa Bintan Fathiya. Tiga kata yang mewakili kebahagian keluarga baru sosok itu secara lengkap. Kemenangan, wanita, dan simbol akan perjuangan sang kakek di sebuah pulau sebelah timur Sumatra. Hingga akhirnya diputuskan kemudian hari dengan nama Bintan Fathikhansa. Penyederhanaan kata dengan makna yang sama. Entahlah, sosok itu begitu menyukai QS Al-Fath. Semoga menjadi kemenangan keluarganya, sebuah tonggak akan perjuangan menjaga amanah yang tidak akan pernah selesai hingga akhir hayatnya nanti.

Kakak Bibin, nama panggilannya di keluarga, kini telah menjelma manusia yang menuju paripurna. Saat ini sudah duduk di kelas 4 SDN Karang Pawulang. Sifatnya begitu halus, hingga mudah mengucurkan airmata. Ia amat bertanggung jawab meski harus terus dibimbing akan makna sosial. Kesukaannya beragam dan terus berubah, naik dan turun. Suka musik, suka menulis, suka membaca, suka mainan berbau perempuan. Kulitnya memang gelap, rambutnya agak ikal (ia tidak mau disebut keriting), tetapi hati dan senyumannya begitu manis. Meski awalnya sulit jika disuruh main ke luar, Kakak Bibin pun mulai dikenali dan diracuni dengan aktivitas outdoor. Hingga akhirnya ia suka bersepeda, berbulutangkis, dan berenang. Semua aktivitas yang juga disukai oleh sosok itu.

Prestasi bersepedanya adalah saat masih duduk di kelas 2 ia berani bersepeda sendiri dari CFD Dago hingga ke Taman Pramuka melalui Jl. Ir. H. Djuanda dan Jl. Riau. Total jarak yang ditempuh adalah 2 km. Prestasi kedua adalah saat duduk di kelas 3 dengan menempuh jarak 11 km dari GBA Barat, Jl. Terusan Bubat, Jl. Bubat, Jl. Pelajar Pejuang, Jl. Martanegara, Jl. Turangga, Jl. Gatsu hingga sampai di Papanggungan.

Bibin-6

Kemping dan bersepeda menembus belantara kota

Sebenarnya ada banyak keinginan Kakak Bibin di usianya yang 10 tahun ini. Ada pesta, bisa mengundang teman-teman plus saudara, dan dibelikan hadiah berupa sepeda atau boneka Barbie. Persis 3 tahun lalu saat ia bisa memberikan hadiah buku pada seluruh teman sekelasnya. Namun semua itu tinggal harapan saja. “Menyedihkan,” katanya. Kedua orangtuanya sedang tidak punya. Jangankan syukuran makan bersama keluarga besar, kue ulang tahun pun tidak ada. Tadi pagi, sang belahan jiwa sengaja membeli roti sebagai pengganti. Meski Kakak Bibin suka dengan kejutan itu, tapi ia tidak suka dengan rotinya. Berenang rutin di Hotel Horison pun tidak maksimal karena hujan angin disertai hujan es menyerang Bandung hingga terpaksa dihentikan. Pulang kehujanan, tapi alhamdulillah masih bisa beli seragam pramuka karena keinginannya berjilbab, sampai rumah ternyata mati lampu hingga malam hari. Hari istimewa itu pun ditutup dengan makan baso kangkung bersama yang lewat di depan rumah. Maafkan kedua orangtuamu, Nak.[]

Advertisements

8 thoughts on “Hari Istimewa yang Menyedihkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s