Merokok Itu Sehat?

Rokok-1Sosok itu baru menyadari bahwa iklan rokok yang ada di televisi ada yang berbeda. Di akhir iklan tidak dijumpai lagi tulisan panjang bahwa merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin. Tetapi di sana langsung tertulis dengan telak: MEROKOK MEMBUNUHMU. Di beberapa iklan bahkan ditambahkan gambar orang berkumis sedang mengepulkan asap dengan dua tengkorak di latarnya plus tulisan 18+ di dalam lingkaran hitam. Usut punya usut ternyata hal ini sesuai dengan PP 109 Tahun 2012 meski baru akan berjalan efektif pada bulan Juni 2014. Jadi, perubahan kata-kata tersebut merupakan inisiatif dari perusahaan rokok untuk mendukung PP 109.

Ngomong-ngomong soal rokok, sosok itu pun sebenarnya adalah perokok. Ya, perokok! Baru tahu ya? Sila komentar di sana dan bebas-bebas saja memberikan kritikan karena sosok itu tidak akan menghapusnya seperti halnya DTL hehehe. Dan mengenai soal hukum rokok, sosok itu pun pernah membahasnya secara panjang lebar bahwa rokok itu memang haram. Kalau sudah haram, sudah tentu bahwa rokok itu pasti tidak sehat. Ada banyak mudharat atau kerugiannnya dibanding manfaatnya. Jadi, masih yakin bahwa merokok itu sehat? Coba deh cari tahu sendiri. Sosok itu kebetulan pernah menonton sebuah film dokumenter bagaimana petinggi-petinggi perusahaan rokok internasional tidak ada satupun yang merokok karena tahu efek bahayanya. Di film itu juga ada beberapa pasien di rumah sakit yang satu ruangannya berisi orang-orang tua dan beberapa masih terbilang muda, dimana mereka semua sulit bernapas karena paru-parunya sudah rusak. Kata salah satu dari mereka, “Tidak ada satu pun stasiun TV yang mau merekam kami. Mungkin mereka takut. Entahlah. Yang pasti, kami semua menyesal karena terus merokok dan menganggap itu hebat.”

Rokok-2

Mengenai hal ini, ada fabel menarik yang ditulis oleh Mbak Ary Nilandari. Judulnya adalah ‘Negeri Asap Raksasa Bertangan Banyak’. Di sana dijelaskan bahwa ada sebuah negeri yang dikuasai oleh sesosok raksasa. Raksasa ini berkaki banyak, bertangan banyak, bermata banyak, dan berotak jenius. Pori-porinya mengeluarkan asap dan akhirnya asap itu menjadi konsumsi sehari-hari bagi dirinya dan juga mayoritas penduduk negeri tersebut. Itulah Negeri Asap yang penuh kabut eh asap. Penduduk di sana terbagi menjadi 4 (empat) kasta yang komposisi jumlahnya membentuk piramida. Empat kasta itu adalah:

  1. Kasta Non-Asaper yang minoritas. Kasta ini menyadari bahwa asap tidak baik untuk kesehatan. Jangankan makan asap sendiri, menghirup aroma asap yang dimakan orang lain pun membuat mereka pening, berkunang-kunang, dan mual.
  2. Kasta Asaper Level 1. Kasta ini masih tergolong sopan karena memahami bahwa asap yang dikonsumsinya di tempat umum akan terhirup oleh non-asaper dan bakal membuat mereka terganggu. Karena itu dia menghentikan konsumsi di tempat umum, juga di rumah.
  3. Kasta Asaper Level 2. Berbeda dengan level 1 yang bisa bergaul baik dengan para non-asaper, kasta ini terbilang tidak berpengetahuan. Dia tidak mengerti dampak buruk asap terhadap orang lain. Tetapi, mereka masih bisa mengangguk sopan dan segera menghentikan konsumsi jika ada non-asaper yang memohon dengan memelas, sembari terbatuk-batuk.
  4. Kasta Asaper Level 3. Banyak jumlahnya dan mereka adalah kasta yang tak punya toleransi sedikitpun terhadap orang lain. Bisa berpendidikan, bisa juga tidak, orang dalam kasta ini merasa makan asap adalah hak asasi. Dan hak asasi orang lain yang ingin menikmati udara bebas asap bukanlah urusannya. Negeri ini miliknya. Raksasa mengayominya. Pemerintah mendukungnya. Kamu mau apa?!

Dari semua uraian panjang lebar akan fabel Mbak Ary setelahnya, mata sosok itu melebar saat membaca bagian akhirnya. Di sana ada sebuah warung dengan spanduk yang berani berteriak lantang … bahwa Warung Almira: TIDAK MENJUAL ASAP. Ini luar biasa. Mbak Ary bahkan mengibaratkan dengan sebuah lubang kecil pada kotak tertutup penuh asap. Lubang kecil itu adalah celah untuk menghidup udara segar di luar kotak. Dan keberanian mereka bukan tanpa perlawanan. Ada saja sales dari pabrik asap yang menawarkan uang agar warungnya mau berjualan asap atau (hanya) memasang iklan. Begitu pula dengan beberapa asaper yang datang mencari asap. Semuanya dilayani dengan santun, “Maaf, kami tidak menjual itu.”

Rokok-3

foto oleh Ary Nilandari

MAU BERHENTI, YA JANGAN BERTAHAP

Sosok itu punya tiga orang kawan yang dahulunya adalah perokok berat. Yang pertama adalah teman pesepeda. Sebut saja namanya Mbob, karena memang panggilannya seperti itu. Sebagai seorang pekerja yang mengurusi masalah gunung berapi, dirinya sudah harus siap untuk pergi ke berbagai daerah yang diketahui gunungnya mulai aktif. Di tempat yang bertemperatur rendah, wajar kalau dirinya perokok berat, meski hal itu bukan pembenaran. Dan saat sosok itu bertanya bagaimana caranya menghentikan kebiasaan merokok, dia cuma bilang, “Ya berhenti aja. Gak ada istilah mengurangi. Berhenti, titik.”

Rokok-4Lain Mbob, lain pula Aki Niaki yang sosoknya pernah ditulis di sini. Pelari trail running yang makin dikenal di dunia lari ini juga begitu saja berhenti merokok. Aki merokok dalam sehari minimal 4 bungkus rokok tanpa filter plus 1 bungkus tembakau linting, dan itu bukanlah sekadar iseng. Hingga suatu hari dirinya dibuat repot oleh rokok-rokok tersebut yang menggelembung di saku celananya. Mencari kesana kemari karena lupa meletakkanya di mana. Ia merasa diperbudak. Perasaannya disepelekan, dipecundangi, dan terhina sekali. Bagaimana tidak, selama hidupnya ia tidak menyadari. Pada akhirnya, semua rokok itu ia tinggalkan begitu saja di meja makan. Ada perasaan menang setelahnya. Tidak ada istilah berhenti pelan-pelan, dikurangi dulu kadarnya misalnya jadi 3 bungkus per hari, tidak ada. Aki langsung berhenti merokok.

Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari penuh kemenangan. Tidak ada itu pengganti rokok seperti cemilan manis, makan atau minum berlebihan, dan lain sebagainya. Sering didengarnya perokok yang beralasan bahwa saat stres, merokok itu menenangkan. Padahal kalau tidak stres ya merokok juga. Artinya … apapun alasannya pasti ujung-ujungnya merokok juga. Jadi kalau hasil akhirnya tidak merokok, ya tidak masalah. We too can achieve incredible goals like everyone else we look up to. Jadi, kalau mau dan ingin berhenti merokok, ya berhenti saja. Just quit smoking! Simple and effective. Selamat dan semangat buat Pakdhe Cholik yang baru memulai berhenti merokok.[]

Advertisements

13 thoughts on “Merokok Itu Sehat?

  1. Mudah-mudahan suatu saat di Indonesia Rokok diberlakukan peraturan seperti Miras yang jualan harus berizin.Gerakan apapun untuk berhenti merokok tidak akan efektif jika produsennya dengan bebas memasarkan produk rokoknya.Coba saja amati merk baru justru bermunculan.

    >> Gak harus berizin juga gak papa, tapi harganya dinaikkan dengan sangat luar biasa sehingga yang bisa menikmatinya hanya orang kaya saja. Itu pun mereka pasti sudah sadar ^_^

  2. Sepertinya iya, jangab bertahap. Pantesan saya gagal terus karena dgn jalan mengurangi jumlah rokok yg dikonsumsinya sedikit demi sedikit…

    >> Iya, jangan bertahap. Langsung berhenti saja!

  3. wah itu warung rokoknya keren..
    hehe tapi saya tidak menyalahkan siapa yg mau merokok sih karena itu pilihan. Tetapi kalau merokok di depan saya, mengenai saya ya beda lagi urusannya hehe..

    >> Keren lah ya … Memang tidak menyalahkan, tapi mbok ya dikurangi ngerokok di tempat umumnya. Gitu loh! ^_^

  4. warung itu berpikiran sangat mulia, padahal untung menjual rokok itu sangat tinggi

    >> Jempol dah pokoknya….

  5. Saya bekerja dalam lingkungan perokok. Pertama, karna saya merupakan salah satu vendor perusahaan rokok milik PM International dan kedua memang mayoritas teman-teman saya adalah perokok. So what’s going on me when they are smoking?
    Tenang saja, semuanya sangat bijaksana dalam bersikap. Karna tahu saya bukan perokok, mereka cukup menghargai dengan tidak merokok di depan saya langsung. Mereka akan menjauhi saya dulu jika mereka akan menghisap rokok. Dan yang membuat terharu, bahkan mereka memberi saran pada saya untuk tidak pernah mencoba menghisap rokok sama sekali. Memang betul kata Abang, bahkan petinggi-petinggi perusahaan rokok adalah bukan perokok. Adapun tim marketing menjadi perokok aktif karena merupakan salah satu compliance dalam melakukan pekerjaan. Mereka harus pandai menjelaskan ketika konsumen bertanya rasa dari rokok tersebut. Dan sasaran penjualan rokok pun tidak dilakukan pada bukan perokok, melainkan hanya ke perokok aktif. Beberapa kali saya memberikan presentasi tentang produk rokok ke masyarakat, hanya kepada perokok aktif dan tidak boleh mengajak non perokok menjadi perokok.
    Terlihat dong rokok itu seperti apa? 🙂 *kepanjangan nih abang..maaf yee.. hehehehe

    >> Tambahan yang oke, Gie. Thanks!

  6. wah..baru sekali ini aku liat ada warung yang tegas tidak menjual rokok..padahal jual rokok pastinya sangat menguntungkan karena banyak peminatnya. Saya juga dikelilingi perokok…not so happy about it…tapi ngg pernah berhenti untuk advise mereka agar berhenti :D…TFS,,

    >> Sama-sama, thanks juga sudah baca dan komen 🙂

  7. saya mantan perokok aktif berat
    saya Stop Smokey dan sangat menyesal
    pernah kenal dgn Rokok Jahanam tsb
    saya kena Pnemonea Thorax Maret 2014
    hinga skarang Paru saya dikatakan Rapuh
    bila ada semacam aktifitas Peduli Berhenti Rokok saya mau ikut, tolong kabari 085921166777 rianpulsa WA

    >> Alhamdulillah sudah mendapatkan gelar ‘mantan’. Semoga tetap istiqomah dan terus mengkampanyekan betapa bahayanya merokok itu. Hatur nuhun sudah mampir ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s