Mie Ayam Pasar Inpres

Satu hal yang paling dikangeni sosok itu saat bertandang ke Jakarta adalah mie ayamnya. Soal makanan, khususnya di Jakarta, memang yang paling banyak dibicarakan selain kerak telor dan ketoprak adalah mie ayam. Sejak masih berseragam merah putih di SDN 01 Pagi Tangjung Priok, sosok itu sudah sering nongkrong di tukang mie ayam di dekat rumah, tepatnya di Komplek PLTU Tanjung Priok. Mie ayam langganannya adalah Mas Paimo. Gerobaknya sendiri kalau nggak jualan tersimpan di rumah tetangga sebelah kiri. Rumah guru SD sosok itu, Bu Pri.

Kuliner-02

Selain menikmati mie ayam tersebut, sosok itu juga bisa membaca koran langganannya yaitu Pos Kota. Rubrik yang paling disukainya adalah ‘LEMBERGAR’ alias Lembaran Bergambar dimana ada ikon kartun yang saat itu terkenal seperti Doyok, Otoy, dan Ali Oncom (baca juga 15 Bacaan yang Paling Diingat). Dari seringnya nongkrong dan makan mie ayam Mas Paimo inilah dirinya jadi bisa dan terampil menggunakan sumpit. Jadi, rasanya tidak afdhol kalau makan mie ayam nggak pakai sumpit. Pakai sendok atau garpu, gak jaman lah.

Kuliner-03Setelah pindah ke Kelapa Gading, mie ayam Mas Paimo paling dirindukan. Sayang beliau tidak ikut pindah, padahal Mas Jalut—pedagang ketoprak yang sama-sama jualan di Komp. PLTU—juga ikut pindah. Akhirnya sosok itu mencari-cari mie ayam yang cocok dengan lidahnya. Beberapa kali pindah-pindah demi mencoba sampai akhirnya ditemukanlah mie ayam yang cocok. Mie Ayam ini awalnya berdagang di samping SD dan di seberang TK Al-Hidayah, Jl. Pasar Inpres Kelapa Gading. Kalau tidak salah sekira tahun 1999 atau 2000 dimana sosok itu masih berkuliah. Hingga kemudian entah kapan, pindah dan menetap tepat di samping TK Al-Hidayah. Tepatnya diapit oleh TK itu dan bengkel sepeda.

Mie ayam ini dianggap cocok pada lidah sosok itu. Sementara di Bandung, hanya satu mie ayam yang agak cocok di lidahnya, yaitu di Binong, tetapi kini sudah tidak ada dan entah pindah ke mana. Jadi, kalau pulang ke Kelapa Gading, Mie Ayam Pasar Inpres inilah yang dicarinya. Sekarang harganya cuma Rp6ribu saja. Kalau ingin tambah baso atau pangsit ya tambah Rp3ribu saja. Kalau ingin minum es teh manis, tambah lagi Rp2ribu. Kalau mau teh botol juga ada. Kesukaan sosok itu tentu saja mie ayam pangsit, jadi total harganya Rp9ribu. Murah dan mengenyangkan. Bahkan, kadang-kadang dia juga pernah membelinya secara mentah. Semua bahannya dipisah di tempat berbeda lalu dibawanya ke Bandung. Sampai rumah, ya mie ayam tersebut tinggal diolah dan dimasak, jadi deh bisa dimakan bersama keluarga.

Kuliner-01

Sebenarnya adalah satu mie ayam yang jadi langganan sosok itu, yaitu Mie Ayam Mas Leo, tetapi nanti saja diceritakan di lain postingan. Kalau kebetulan sosok itu lagi ada di Kelapa Gading dan ada yang mau mencoba Mie Ayam Pasar Inpres ini, yuk bareng-bareng. Sambil kopdar gituuu … hehehe.[]

Advertisements

One thought on “Mie Ayam Pasar Inpres

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s