Berburu Sejarah Sriwijaya

Event-25

Masih berkenaan dengan dua postingan kemarin, yaitu berkaitan dengan ulang tahun National Geographic ke-125. Selain mendengarkan Aki Niaki Berbagi Pengalaman lalu menyantap Sego Pecel di Mall Kuningan, masih ada satu session lagi yang sangat menarik hati sosok itu, yaitu mendengarkan pemaparan Reynold Sumayku tentang Sriwijaya. Bang Rey adalah fotografer senior di National Geographic Indonesia (NGI) yang selama beberapa bulan terakhir berkeliling untuk menyelidiki cerita sebenarnya tentang Kawijayan Sriwijaya sehingga bisa menuangkan hasilnya pada Majalah NGI edisi Oktober 2013.

Satu hal yang perlu dicatat dari diskusi tersebut adalah betapa besarnya pengaruh Kerajaan Sriwijaya pada masanya. Sampai-sampai negara Malaysia dan Thailand juga mengklaim bahwa pusat kerajaan itu ada di negara mereka. Hal ini berkaitan dengan beberapa bukti peninggalan Sriwijaya tersebar tidak hanya di Pulau Sumatera tetapi juga sampai ke dua negara itu, bahkan juga sampai ke Kamboja dan India.

Event-26Lalu mengapa sosok itu tertarik dengan Sriwijaya? Tentu saja berkaitan dengan ‘tugas menulis‘-nya yang belum rampung. Januari 2003 dia pernah menulis sebuah cerpen tentang Columbus yang menemukan Benua Amerika dan diterbitkan pada 2004 dalam bentuk komik yang berjudul ‘Zibao‘. Inti dari cerita itu adalah bahwa Columbus ternyata bertemu dengan penduduk Pulau Bohio (yang kini bernama Haiti dan Dominika) yang memiliki kemiripan dengan orang-orang Sriwijaya. Pemimpinnya disebut Cacique, mirip dengan istilah Keucik (kepala desa) di Aceh. Mereka telah memiliki sistem pemerintahan dan tata cara kehidupan yang teratur, rumah dengan pekarangannya, pertanian yang baik dan subur, serta aktivitas kebudayaan yang mirip dengan campuran tradisi budaya Aceh-Minang.

“Segalanya milik bersama dan dikerjakan secara bersama-sama untuk kepentingan bersama.” (Pedoman ini juga digunakan oleh masyarakat Minang). Sebuah pedoman masyarakat Bohio yang sangat indah. Masyarakat Bohio berperawakan kecil, kepalanya rata di sebelah belakang, warna kulitnya sawo muda, keningnya besar, tulang pipinya menonjol, matanya sipit dan hidungnya pesek. Mereka juga mempunyai rambut yang panjang dan diikat menjadi gelung, jenggotnya pun kasar dan jarang. (Stephane Faye, “Histoire Universelle Illustre de Pays et des Peuples,” 1930). Semua itu didapatkan dari catatan Christopher Columbus tertanggal 24 Desember 1492.

Event-27

Bang Rey kemudian bercerita bagaiamana Sriwijaya ditemukan, yakni berdasarkan catatan I-Tsing (pendeta Buddha asal Cina yang diperkirakan singgah ke Sriwijaya antara 690 hingga 692) bahwa di negeri Shihlifoshih bayang-bayang welacakra (jam matahari) tidak menjadi panjang atau menjadi pendek pada pertengahan bulan delapan. Artinya pada tengah hari, tak tampak bayang-bayang orang yang berdiri di bawah matahari. Shihlifoshih diduga kuat adalah Sriwijaya. Berdasarkan catatan I-Tsing itu, ada tiga kawasan dimana saat tengah hari tidak ada bayangan, yaitu Bukit Siguntang di Palembang, Candi Muarajambi di Jambi, dan  Candi Muara Takus di Riau. Seorang peneliti memperkirakan bahwa tempat I-Tsing menulis catatan itu adalah di Muarajambi yang memiliki temuan arkeologis seluas hampir tiga ribu hektar, sangat jauh berbeda dibanding Riau dan Palembang.

Event-28

Namun, sampai sekarang hal itu masih dalam perdebatan. Begitu juga dengan nama Sailendra yang masih diperdebatkan apakah dari Indonesia, Kamboja, atau India. Nah, bagaimana dengan pendapat Anda? Mungkin ada data lain tentang Kerajaan Sriwijaya ini … ^_^

Advertisements

One thought on “Berburu Sejarah Sriwijaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s