Ketoprak Jalut

Ada yang kenal dengan istilah ‘ketoprak’? Ya, ada dua arti mengenai istilah itu. Pertama bahwa ketoprak atau kethoprak atau ketuprak adalah sebuah drama rakyat tradisional Jawa Tengah (tepatnya dari Surakarta) dimana di dalamnya terdapat unsur seni akting, seni tari, seni musik, dan seni suara. Nama ‘ketuprak’ sendiri berasal dari suara alat musik yang digunakan: dung-dung-prak-dung-dung-prak-pating-ketuprak. Untuk mencari tahu apa itu ketoprak jenis ini, sila klik link di atas karena sosok itu tidak akan membahasnya di sini.

Kuliner-11Sedangkan istilah kedua menjelaskan bahwa ketoprak adalah makanan tradisional yang dijajakan berkeliling dengan menggunakan gerobak. Mengenai asalnya sendiri masih menjadi perdebatan karena ada yang bilang dari Betawi, Tegal, maupun Cirebon (pesisir pantai utara Jawa). Yang pasti ketoprak amat dikenal di Jakarta. Bahan-bahan utamanya adalah lontong, bihun, tahu, taoge, mentimun yang dilengkapi dengan saus kacang, kecap manis, dan taburan bawang merah goreng. Kerupuk tentu saja tidak ketinggalan sebagai pelengkap. Sepintas, ketoprak hampir mirip dengan kupat tahu di Jawa Barat. Namun tahu sendiri, kan, kalau kupat tahu itu ada yang petis (langsut diulek di tempat) dan ada yang non-petis (sudah dipersiapkan dari rumah). Bedanya ketoprak dengan kupat tahu adalah ada tidaknya bihun. Begitu pula kupat tahu petis diulek di atas alat ulekan, sedangkan ketoprak langsung diulek di atas piring.

Terus, ternyata ketoprak juga bisa dibedakan dari gerobak dan waktu dagangnya, lho. Jadi, gerobak ketoprak itu ada yang berbentuk seperti perahu dengan kedua sisi dilapisi papan yang digunakan untuk meletakkan piring. Pada bagian tengahnya ada palang melintang biasa digunakan untuk menggantung lontong yang bisa berbentuk ketupat atau dibungkus daun pisang dan plastik. Nah, jenis gerobak yang begini ini hanya beredar di pagi sampai siang hari. Bumbu kacangnya sendiri rada kental. Ada yang bilang ketoprak ini berasal dari Betawi dan Tegal.

Kuliner-12

Sedangkan gerobak yang kedua berbentuk gerobak pada umumnya, yaitu menggunakan kaca di tepi luar dan tidak seperti perahu. Kotak gitu saja dan hanya memiliki satu papan di sisi tanpa kaca. Tahu yang dihidangkan biasanya hangat dan menggunakan bumbu kacang yang rada cair. Daerah asalnya sih katanya dari Cirebon dan sekitarnya. Untuk ketoprak jenis ini, dagangnya khusus pada malam hari, dan inilah yang akan dibahas oleh sosok itu. Ketoprak Jalut, itulah sebutannya karena nama penjualnya memang Jalut, asli Pemalang. Dagangnya memang selalu malam hari dan itulah ciri khasnya sejak 22 tahun lebih. Ya, memang selama itu.

Kuliner-13

Jalut mulai berdagang di Komp. PLN Tanjung Priok, tepatnya di samping lapangan basket di jalan Tenaga Uap. Awalnya sejak kapan, sosok itu tidak menahu. Jalut adalah satu-satunya tukang ketoprak yang berdagang di sana sehingga wajar jika terkenal dan hasil karyanya memang enak. Pada tahun 1993, PLTU Tg. Priok diperluas menjadi PLTGU sehingga memaksa seluruh penghuni komplek untuk berhijrah. Dua kelompok besar ditempatkan di Kelapa Gading dan Sunter, sisanya menyebar ke Pondok Kelapa dan Cinere. Orang tua sosok itu sendiri mendapatkan jatah di Kelapa Gading. Dan Jalut ternyata ikut berpindah ke Kelapa Gading dan mencari kontrakan baru di sana. Sementara baru tinggal setahun, sosok itu harus berhijrah ke Bandung untuk melanjutkan kuliah, dan tinggal di sana sampai sekarang berumah tangga.

Kuliner-14Sampai saat ini Jalut berdagang ketoprak mulai sore menjelang maghrib di Komp. PLN Kelapa Gading, tepatnya di perempatan Komp. PLN dan Komp. PT HII dengan harga Rp10ribu per porsi. Kalau dari jalan Perintis Kemerdekaan, masuk ke jalan di seberang RS Mediros. Jalan terus saja sampai ketemu perempatan pertama yang ada kantor Pemadam Kebakaran, sebelahan dengan Sate/Gulai Kambing Minto Redjo. Bisa jadi rasa ketoprak Jalut memang memorable, artinya karena dari dulu sudah berlangganan jadi susah pindah ke lain hati. Bisa jadi. Tapi sosok itu pernah mencoba ketoprak pagi di daerah Pasar Inpres Kelapa Gading, dan tidak terlalu menyukainya meski enak. Kadang, kalau Jalut tidak ada, ketopraknya tetap berjualan yang dikelola oleh adiknya sendiri. Beberapa orang mengatakan kalau rasanya kurang ‘maknyus’ dibanding olahan Jalut. Wallahu’alam. Sekali lagi, ini hanya masalah selera.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s