Terpenjara di Udara

Alhamdulillah, akhirnya gelaran pertama Relawan TIK Bandung terselenggara. Pecah telor deh! Sebagai ranting (sebut saja begitu) dari Relawan TIK termuda, mereka patut berbangga karena acara ini hanya dikonsep kurang dari seminggu. Ketemu pun hanya sesekali dan selebihnya lebih banyak berdiskusi plus bercanda di grup fesbuk. Teh Meti sebagai ibu komandan, Teh Nchie sebagai bendahara, Kang Ade Truna sebagai sekretaris, Teh Hani sebagai humas, Kang Adi sebagai tukang perlengkapan, Kang Robi sebagai IT-nya, sosok itu yang ngurusin SDM, dan Kang Onis yang fokus agar semua tim jadi harmonisasi #eh.

Linimassa 3

Gelaran pertama ini dimulai dengan Nonton Bareng (Nobar) film dokumenter Linimassa 3 yang diproduksi oleh ICT Watch dan WatchDoc. Film ini adalah seri selanjutnya setelah Linimassa 1 (2011) dan Linimassa 2 (2012) dengan menampilkan lima kondisi berbeda di lima daerah di Indonesia. Hebatnya, film ini disutradarai juga oleh lima sutradara yang bukan profesional, tetapi pesan dan gambarnya benar-benar kena. Luar biasanya, aktivitas nobar #TrilogiLinimassa ini digelar serentak di 36 kota pada 1 Februari kemarin. Bandung sendiri mengambil tempat di Simpul Space, Jl. Purnawarman.

Berbeda dengan dua dokumenter sebelumnya, seri ini lebih ‘menggigit’ kepada pemerintah dan pihak-pihak swasta yang terlibat. ‘Terpenjara di Udara’ adalah sebuah pesan bahwa berita atau informasi di Indonesia memang sudah dipolitisasi, yaitu tetap masih dikuasai oleh media mainstream yang cenderung bergaris lurus karena diperintah oleh ‘atasan’ yang berkuasa. Padahal kisah sebenarnya ada banyak gejolak tetapi selalu saja yang benar disembunyikan. Berita yang dimunculkan malah lebih banyak gosip daripada mayoritas realitas yang ada. Linimassa 3 ini dijamin mengubah cara pandang orang-orang yang menontonnya, termasuk sosok itu.

Relawan TIK Bandung

Lihat saja bagaimana perlawanan masyarakat di Gunung Kendeng Utara, Pati. Kekayaan alamnya akan kars sebagai bahan baku semen akhirnya dikuasai dengan tidak wajar oleh pengusaha semen. Eksploitasi alamnya telah merusak hutan dan sumber mata air yang ada di sana. Itulah yang ingin disampaikan oleh @subirno. Begitu pula yang terjadi di Samarinda. @yustinus_esha berjuang untuk menyuarakan gugatan warga Samarinda terhadap penambangan batubara. Pencemaran lingkungan berupa lumpur yang menurunkan kualitas padi dan peternakan, juga kolam-kolam bekas penambangan yang menjadi kolam maut bagi anak-anak di sana. Kesedihan dan tangisan, tetapi juga kemarahan dan kegeraman bercampur aduk.

Aksi kemanusiaan juga masih ditunjukkan pada film dokumenter seri ke-3 ini. Konflik Poso pada tahun 2000 kemarin masih menyisakan trauma sehingga memaksa @jgbua2009 untuk menggerakkan orang-orang yang mau peduli mendirikan sekolah dan sekaligus bagaimana meningkatkan ekonomi masyarakatnya. Di Aceh, @yayanzy juga menggerakkan banyak orang agar mau mendonorkan darahnya bagi penyandang Thalassemia. Sedangkan di Ende, @tuteh bersama para relawan menggalang bantuan berupa #1MugBeras bagi ribuan korban letusan Gunung Rokatenda. Misi kemanusiaan yang tidak berharap medali atau ketenaran belaka, tetapi agar banyak masyarakat di luar daerah itu agar tahu dan peduli, dan juga akhirnya dilirik oleh pihak swasta maupun pemerintah.

Linimassa 3

Nobar Linimassa 3 di Bandung berlangsung dengan seru dan istimewa. Ada banyak pihak yang secara sukarela meramaikan acara ini dengan memberikan doorprize dan sharing-nya. Sebut saja Qwords, Mozilla Indonesia, Kaos Gurita, KEB, dan Band Klopass. Dengan cemilan berupa makanan ringan yang dibeli secara bal-balan, membuat acara nobar berlangsung renyah. Layaknya menonton bioskop sambil makan popcorn. Diskusi ringan dari sosok itu tentang fenomena yang terjadi dan dibantu oleh rekan-rekan yang hadir semakin membuka mata hati betapa masih ada dan bisa dilakukan oleh para penggiat media sosial. Dari hal yang sederhana saja, misalnya nge-twit, nyetatus, atau nge-blog. Mudah, kok. Semua pasti bisa.[]

“Linimassa 3 mendokumentasikan gerakan perubahan sosial berbasis media sosial. Film ini menunjukkan kepada mereka yang apatis terhadap blogger, bahwa masih ada blogger yang mendedikasikan kemampuannya di ranah media online, sebagai penggerak perubahan untuk masyarakat di sekitarnya. Linimassa 3 menginspirasi agar blogger lebih peduli akan persoalan bangsa yang sering direcoki oleh para politikus korup, anggota parlemen yang bodoh dan hedonis, pebisnis yang rakus, dan para pengambil kebijakan yang takluk oleh permainan gangster yang mendesain kekacauan seenak perut mereka.” ~ Matahari Timoer

Advertisements

2 thoughts on “Terpenjara di Udara

  1. Membaca penuturan sosok itu di posting ini …
    sepertinya ini film dokumenter yang layak untuk di tonton …
    Cari aahh …

    BTW …
    Sukses terus untuk relawan TIK Bandung

    Salam saya Kang
    (6/2 : 14)

    >> Yup, ini film dokumenter yang layak untuk ditonton, Om. Semoga menginspirasi untuk kemudian ditindaklanjuti. Salam sukses juga untuk Om NH. Hatur nuhun ^_^

  2. Hmm.. film yang menarik Bang Aswi..
    Sosial media memang punya kekuatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Ada banyak contoh kasus orang-orang yang berhasil membuat perubahan melalui media tersebut.
    Blogging..? Itu jauh lebih bisa memberi dampak. Tergantung bagaimana kita bisa memanfaatkannya..

    >> Media sosial adalah kekuatan terkini yang harus dimaksimalkan. Perubahan ternyata bisa dimulai dari sini. Always keep blogging ya, Uda ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s