Bermotor Ria ke Monas

BangAswi (dot) Co telah tiada ~ Pernah di sudut malam, gue bilang ke Umi, “Hon, dah pernah belom ke Dufan?” Istri gue saat itu langsung menggelengkan kepala. “Tinggal nunggu diajakin Abang aja. Kapan aja Abang siap dan punya uang, ane pasti langsung ho-oh, Bang.” Itu dulu. Gue udah sering bolak-balik ke Ancol. Lah Umi? Untung saja dia pernah ke Dufan bersama teman-teman kuliah saat liburan dua tahun kemarin. Tinggal anak-anak yang belum ngerasain. Monas?! Nah, ini dia yang belum dijabanin. Paling tidak bersama keluarga kecil gue.

Alhamdulillah, lebaran 2012 kemarin akhirnya kesampaian juga. Monas pun bisa kami elus. Gak tanggung-tanggung, gue dan keluarga naik motor dari Bandung demi menikmati simbol keagungan kota Jakarta dan bahkan negara Indonesia itu. Gue memang kelahiran Jakarta mesti bukan orang Betawi. Tapi tanah Betawi ini tidak dapat dipisahkan lagi dari keluarga gue. Kakak ipar dan adik ipar gue orang Betawi asli. Mereka dilahirkan dan dibesarkan di kawasan PIK Pulogadung dan Tanah Abang. Hanya saja gue harus merantau ke Bandung dan kemudian meminang ‘neng geulis’ Umi sampai akhirnya tinggal juga di Tatar Parahyangan.

Jalan-01

Persiapan pun dilakukan jauh-jauh hari. Motor dimasukkan ke bengkel untuk pemeriksaan lengkap. Anak-anak dibekalin helm baru sesuai gaya masing-masing. Bawaan baju segera dipaketkan menggunakan jasa travel agar tidak terlalu membebani perjalanan, apalagi dengan dua anak. Dan pada hari yang sudah ditentukan (12/8/2012), jadilah kita berempat menapaki jalan Bandung-Jakarta. Sengaja gue mengambil jalan lewat Jonggol agar bisa mampir ke rumah kakak gue yang ada di Cileungsi. Sebenarnya ada dua jalur lain, yaitu Cikampek dan Puncak. Cikampek sudah pasti panas, sedangkan Puncak rada ragu-ragu dengan kekuatan motor yang digunakan plus kemacetan. Nanjak soalnya.

Perjuangan bermotor ria bersama anak-anak dengan jarak jauh memang sudah pernah dilakoni waktu ke Garut, tetapi itu pun didampingi sebuah mobil. Khawatir kalau anak-anak tidak kuat. Dan rute Bandung-Jakarta ini pun baru gue lakoni, jadi harus dibawa santai. Kalau anak-anak ingin istirahat, ya harus berhenti. Dan itu tidak sekali dua kali, ya namanya juga anak-anak. Kalau gue sendiri alhamdulillah masih kuat. Tidak percuma memiliki hobi bersepeda ke berbagai tempat di Jawa Barat. Untuk menjaga kondisi kesehatan Umi dan anak-anak, kita pun beristirahat semalam di rumah kakak gue. Barulah dua hari kemudian kita bisa menyambangi monas setelah tidur semalam lagi di rumah bokap di Kelapa Gading.

Jalan-02

Monas pun akhirnya kesampaian juga. Dan sesuai perkiraan, suasana Monas menjelang lebaran lebih nyaman dan tidak terlalu ramai. Akan sangat berbeda kalau ke sananya pas hari H atau beberapa hari setelahnya. Anak-anak cenderung tidak suka kalau terlalu ramai. Monas yang dulu cuma bisa dilihat di TV atau di gambar-gambar kini terpampang dengan megahnya di depan mata. Saatnya bersenang-senang. Meski hanya mengandalkan kamera HP, alhamdulillah gue dan keluarga bisa bereksperimen. Tawaran foto keliling dihiraukan saja. Tapi satu hal yang unik, gue sampai muter-muter cari pintu masuk parkir dan juga penjualan karcisnya. Wajar saja, namanya juga baru pertama kali setelah puluhan tahun.

Plang penunjuk tanda loket karcis pun sedikit membantu, meski ternyata jalannya lumayan jauh. Anak-anak sudah pasti gak sabar untuk naik ke atasnya. Sambil berjalan, gue, Umi, dan anak-anak bernarsis ria. Berbagai sudut diambil dengan segala kreativitas. Setelah sampat ke loket masuk, barulah tahu ada kereta gratis bagi pengunjung yang mengangkut pengunjung dari tempat parkir ke pintu masuk. Gue cuma nyengir mengetahui hal itu. Tiket masuk pun dibeli dengan membayar 6.000 rupiah. Perinciannya 1.000 untuk anak-anak dan 2.500 untuk orang dewasa. Pelajar dan mahasiswa seharga dengan tiket anak-anak. Lumayan tuh.

Jalan-03

Lorong yang panjang dan unik menyambut kita semua. Anak-anak pun dengan senangnya berlarian saling berkejaran. Di bagian bawah tanah, terdapat museum sejarah Indonesia. Semuanya dalam bentuk karya seni berupa patung-patung kecil di dalam kaca atau yang biasa disebut diorama. Dari zaman batu hingga kerajaan, serta perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah di berbagai daerah hingga kemerdekaan Indonesia bisa dilihat di sini. Ada penjelasan dwi bahasa di depan kaca. Gue dan anak-anak pun bisa belajar sejarah di sana. Hanya saja beberapa diorama tidak maksimal karena pencahayaan yang kurang.

Jalan-04

Tujuan utama ke Monas pun segera di depan mata. Ya, apalagi kalau bukan menaiki lift menuju pelataran puncak tepat di bawah simbol emasnya. Inilah ciri khas Monas yang sudah mendunia. Untuk menikmatinya, ada tiket masuk lagi yang harus dibeli. Untuk anak-anak dikenai biaya 3.500 per orang dan 7.500 per orang untuk dewasa. Total yang harus gue bayar adalah 22.000 rupiah. Nah, inilah momen yang tidak terlupakan bagi anak-anak. Melihat pemandangan kota Jakarta dari atas! Apalagi disediakan teropong atau teleskop di keempat sudutnya sehingga bisa melihat detail kota lebih dekat lagi. Hanya dengan menggunakan koin seharga 2.500, anak-anak bisa menggunakan teleskop itu meski dengan waktu terbatas. Paling tidak, mereka jadi senang dan mencoba memasukkan sendiri koinnya ke teleskop layaknya sebuah permainan di pusat perbelanjaan.

Apa hanya segitu saja? Tentu tidak. Gue yang sedikit belajar tentang teknik fotografi, akhirnya mencoba menerapkannya meski hanya dengan kamera HP. Yang paling unik adalah bermain orang kerdil dan raksasa. Tekniknya sederhana, yaitu satu orang berdiri di kejauhan sedangkan satunya lagi berdiri sangat dekat. Setelah dikolaborasi jadilah sebuah foto yang unik. Yang pertama Umi memegang Kakak Bibin yang berumah menjadi orang kerdil. Yang kedua Kakak Bibin mengangkat Umi dan menciumnya. Mereka pun jadi tahu tentang teknik ini dan sangat senang sekali.

Jalan-05

Sebelum pulang, anak-anak pun bersenang-senang dengan menyewa sepeda atau skuter. Ya, di sekitar Monas ada banyak penyewaan kedua kendaraan bebas polusi itu. Hanya dengan 15 ribu per jam atau tergantung penawaran, mereka dapat dengan puas bersepeda berkeliling Monas. Jalan yang lebar dan mulus, tentu lebih nyaman dibanding di tempat mana pun yang lahannya sudah semakin sempit. Hanya saja tetap harus berhati-hati karena ada beberapa pengunjung yang menggunakan motor di area ini. Mungkin ini yang harus ditertibkan. Pada akhirnya, menaiki kereta mobil pun dapat juga kita nikmati tanpa harus bercapek ria jalan kaki ke tempat parkir. Alhamdulilah gue puas karena Umi dan anak-anak dapat bersenang-senang dengan harga murah meriah. Perjuangan naik motor dari Bandung ke Jakarta memang tidak sia-sia.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s