Tempat Sampah Kang Emil

Sampah-2

Beberapa bulan setelah Kang Emil (panggilan akrab Ridwan Kamil) diangkat menjadi walikota Bandung, beberapa gebrakan mulai dijalankan. Salah satu yang biasa dilakukan oleh para pemimpin sebelumnya adalah pengadaan tempat sampah di tepi-tepi jalan. Keberadaan tempat sampah ini tentu amat penting, apalagi bagi sosok itu. Pernah suatu kali, sepulang ngaboseh dari Dago Atas dia mengonsumsi makanan yang menghasilkan sampah. Seperti kebiasaannya, sepanjang perjalanan dia mencari tempat untuk membuang sampah miliknya itu. Dan hingga sampai di rumah mertuanya di Jl. Papanggunan, Binong, ternyata tidak ditemukan tempat sampah. Sampah tersebut pun terpaksa dibuang di tempat sampah rumah mertuanya.

Sampah-1Kebiasaan itu alhamdulillah menurun pada Kakak Bibin dan Adik Anin. Kalau di atas kendaraan bermotor mereka menghasilkan sampah—misal setelah makan roti atau apapun—sampahnya pasti dipegang sampai ditemukan tempat sampah di pinggir jalan. Masih untung kalau menemukan tempat sampah, sosok itu menghentikan kendaraannya atau berjalan amat perlahan dan anak-anak langsung memasukkan sampah ke dalam tempatnya itu. Kalau tidak ditemukan, ya terpaksa sampah itu terus dipegangnya sampai ke rumah dan memasukkannya ke dalam tempat sampah di depan rumah. Selesai. Jadi, keberadaan tempat sampah bagi keluarga mereka jelas amat dibutuhkan.

Itulah yang dipikirkan oleh Kang Emil saat dirinya diamanahi menjadi walikota. Tempat sampah pun dirancang sesuai kebutuhannya dan sebisa mungkin dengan budget yang minim, serta tentu saja aman dari tangan-tangan jahil. Lho, mengapa? Hal ini sering diperhatikan sosok itu beberapa tahun lalu. Beberapa tempat sampah yang ada di tempat umum atau di pinggir jalan hilang tak berbekas. Tempat sampah berbahan fiber dan stainless yang ada pada zaman Dada Rosada hilang dicuri. Jangankan tempat sampah, tulisan ‘Taman Panatayuda’ yang ada di Jl. Panatayuda juga pernah hilang beberapa huruf karena dicuri. Tangan-tangan jahil siap mengintai barang-barang milik umum, milik masyarakat.

Sampah-3

Sampai akhirnya Kang Emil dan jajarannya meluncurkan tempat sampah yang diharapkan bisa mengatasi masalah-masalah di atas. Desainnya sederhana, yaitu berupa patok besi di tengah dengan ring di kanan-kiri beserta tutupnya (yang berwarna biru bertuliskan ‘Non Organik’ dan berwarna hijau bertuliskan ‘Organik’). Tidak ada wadah di sana selain penjepit yang memang diperuntukkan untuk wadah plastik yang nanti akan diselipkan. Di tengahnya terdapat wadah kecil yang diperkirakan untuk puntung rokok. Di tiang penyangga terdapat plat persegi bertuliskan ‘Bandung Kita Tanggung Jawab Kita’ dengan logo Pemkot di atasnya. Wadah plastik yang digunakan pun dibuat yang berbahan dasar aman terhadap lingkungan. Kalau diperhatikan, ada tulisan “Ecoplas: the earth friendly plastic, plastik ramah lingkungan berbahan baku singkong.”

Pada saat pertama kali diluncurkan, tempat sampah ini tersebar di semua jalan utama maupun protokol di Bandung. Jarak antar tempat sampah bervariasi antara tiap seratus meter sampai tiap duaratus meter. Ada rasa bangga dan bahagia pada diri sosok itu. Paling tidak, dia akan mudah membuang sampah saat sedang dalam perjalanan. Namun, kenyataannya tidak mudah. Baru beberapa hari dipasang, beberapa tempat sampah sudah rusak. Sebagai contoh tempat sampah yang ada di depan Pantai Asuhan Bani Salam, Jl. Terusan Buah Batu, dimana ringnya sudah bengkok dan hampir patah. Masalah tidak sampai di situ, ternyata wadah plastik yang seharusnya ada ternyata di beberapa ruas jalan sama sekali tidak pernah ada. Hanya di tempat-tempat strategis saja yang ada seperti di Jl. Asia Afrika.

Sampah-4

Menurut berita di Tribun Jabar, Lia Noer Hambali yang merupakan anggota Komisi A DPRD Kota Bandung mengatakan bahwa tempat-tempat sampah itu hanya berusia 2 (dua) bulan saja. “Kualitasnya juga jelek dengan desain yang tidak menarik,” lanjutnya. “Tempat sampah dulu berbahan fiber dan stainless meski memang mudah terbakar dan rawan dicuri.” Lia pun menerima aduan dari warga yang protes mengapa tempat sampah itu diletakkan di depan rumah. Rumah mereka pun jadi kotor dan berbau tidak enak karena kalau tidak wadah plastiknya maka sampah diletakkan begitu saja di bawah. Mungkin inilah yang terjadi pada tempat-tempat sampah yang rusak. Sosok itu sendiri pernah melihat ada tempat sampah yang hilang dan hanya meninggalkan sisa semennya saja.

Sampah-5Tempat sampah era Kang Emil itu padahal terbilang tidak murah juga. Biayanya mencapai Rp500 ribu per unit. Sedangkan untuk wadah plastiknya diambil dari anggaran kelurahan dan hanya disiapkan untuk stok 2 bulan. Jadi, memang diperkirakan tidak adanya wadah plastik di tempat-tempat sampah tersebut dikarenakan stoknya yang cepat habis. Dan bahkan, bisa jadi dicuri oleh tangan-tangan jahil saat baru dipasang. Kekurangan dari tempat sampah itu pun adalah adanya penutup sehingga memaksa warga untuk membukanya. Kalau dari ilmu desain sampah, hal itu harus dihindari agar tangan tidak menyentuh tempat sampah. Begitu pula dengan wadah plastik yang tentu tidak ada pori-porinya sehingga saat hujan maka wadah tersebut banyak terisi air dan dijamin jadi sarang penyakit. Ketinggiannya juga lumayan sehingga wadah yang penuh pun akan tergantung dan lambat laun akan jatuh berantakan. Wadah puntung rokoknya pun juga jadi tempat air tergenang.

Dari berita di Bandung Ekspres, Oded M Danial—sang wakil walikota—berjanji akan mengevaluasi total. Jujur, dirinya juga kecewa terhadap tempat sampah itu dan memahami bahwa sebagian warga belum siap hidup bersih. Akan tetapi apa yang dilakukan oleh pemerintah kota adalah bagian dari ‘trial and error‘. Ada proses ‘learning by doing‘ sehingga setelahnya semua itu akan dinilai baik dan buruknya. Anggap saja bahwa 5 ribu kantong sampah yang disiapkan di awal adalah proses pembelajaran. Sosok itu setuju, asal jangan terus belajar. Semua biaya dari awal sudah harus matang agar jangan terbuang percuma. Jadi, mari kita tunggu bagaimana desain dan bentuk tempat sampah berikutnya. Semoga lebih baik.[]

Advertisements

One thought on “Tempat Sampah Kang Emil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s